LABUAN BAJO, NTTPEMBARUAN.com– Produk -produk pertanian Kabupaten Manggarai Barat dari segi produksi sangat melimpah, hasil analisis itu dari hasil panenan kemudian dihitung konsumsi kepala keluarga per kapita, dikalikan dengan jumlah penduduk , maka masih memproleh surplus. 

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Manggarai Barat ( Mabar), Ny.Fatinci Reynilda kepada media ini Rabu, (30/3/2022) di Labuan Bajo.

“Prodak-prodak pertanian kita ini kalau dari segi produksi sangat melimpah, hasil analisis kami itu dari hasil panenan kemudian dihitung konsumsi kepala keluarga per kapita dikalikan dengan jumlah penduduk kita, maka kita masih memproleh surplus. Tugas kami di dinas itu, kita akan merekomendasikan kepada Bupati atau dinas-dinas tekhnis bahwa kita memiliki surplus beras sekian ton,” ujar Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan Mabar, Fatinci Reynilda kepada wartawan media ini di ruang kerjanya, Rabu (30/3/2022) siang.

Fatinci Reynilda menyarankan kepada masyarakat agar bisa menciptakan inovasi dalam produk yang dihasilkan dari pertanian tersebut guna meningkatkan pendapatan dari masayarakat itu sendiri. Kata dia, di daerah Manggarai Barat sendiri penghasil lumbung pangan dengan produksi yang melimpah setelah dikonsumsi ada kelebihan, jadi surplus.

“Nah, disarankan agar petani kita itu bisa mengolah beras yang ada ini dalam produk-produk apa misalnya dengan hasil-hasil pertanian dengan membuatkan cemilan atau apalah untuk menjadi oleh-oleh khas dari kita di daerah Manggarai Barat ini. Jangankan itu, kita juga belum memiliki beras kemasan yang berlogo langsung dari Manggarai Barat. Rata-rata di Alfamart itu bukan beras kita sendiri, pada hal kita ini lumbung pangan sebenarnya, produksi kita melimpah. Setelah dikonsumsi ada kelebihan, jadi surplus” katanya

Selanjutnya, ia menjelaskan meskipun dengan hasil yang melimpah tersebut kualitasnya masih belum masuk yang dibutuhkan oleh hotel dan restoran. Seperti halnya beras yang dihasilkan petani masih terlalu banyak butir patah.

Butiran beras patah yang dimaksud kata dia, pada saat masuk di mesin penggilingan banyak sekali butiran beras yang seharusnya utuh. Menurutnya, kelas beras premium itu harus 10 atau 15 % saja butiran beras yang patah.

“Hanya kualitasnya itu tidak bisa masuk ke yang dibutuhkan oleh hotel dan restoran, karena terlalu banyak butir patah. Jadi, kelas-kelas beras premium itu dia harus 10% sampai 15% saja butir patah dari beras itu. Sehingga dari segi kualitaslah yang membuat beras petani itu tidak laku di pasaran, paling hanya masuk di Pasar Wae Kesambi tidak tembus dengan yang dibutuhkan oleh hotel atau restoran.

Butir patah yang dimaksud pada saat masuk di mesin penggilingan banyak sekali butiran beras yang seharusnya utuh tapi ini kan lebih banyak patahannya.

Itulah yang dikatakan bukan beras premium jadinya,” jelas dia.

Ia mengatakan, sebenarnya minat petani itu ada tapi kembali kepada pemasaran. Namun pada saat panen produk petani melimpah tetapi kendala di pemasaran.

“Jadi sebenarnya minat petani itu ada, tapi itu tadi kembali lagi kepada pemasaran. Pada saat mereka panen itu produknya melimpah hanya mau diapakan ini lombok ini, masuk di pasaran paling dia hanya daya tahannya hanya dua atau sampai tiga hari saja itu dia rusak. Sehingga petani kita enggan untuk mau menanam lagi. Kemudian salah satu lagi, kita belum memiliki alat, seperti pendingin atau apa umtuk menyimpan produk-produk pertanian kita, tidak ada tempat penyimpanan itu, sehingga rata-ratanya langsung habis begitu.

Pihaknya akan selalu mendorong masyarakat agar terhimpun dalam gapoktan.

Dikatakannya, bahwa gapoktan tersebut yang membeli hasil petani supaya hasil-hasil produk pertanian tersebut langsung dari petani dan bisa diolah.

“Kami mendorong agar masyarakat petani ini harus terhimpun dalam gapoktan, gapoktanlah yang membeli hasil petani, supaya hasil-hasil produk pertanian tadi langsung dari petani dan bisa diolah menjadi lombok kemasan, semuanya dalam produk-produk kemasan. Sehingga itu salah satu yang membantu masyarakat petani nanti untuk menjualkan hasilnya ke pasar tidak mudah rusak” imbuhnya (fon)