LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com–Para petani cabai yang tergabung dalam Kelompok Tani Mekar Dukut, Desa Kombo Selatan, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat masih mengalami kesulitan soal pemasaran.

Geliat Kota Pariwisata Super Premium Labuan belum memberi dampak signifikan pada kelompok tani yang menekuni cabai organik di Desa Kombo Selatan Kecamatan Pacar. Kepuasan seorang petani tidak hanya diukur melalui panen yang terserap di pasar dengan harga yang baik, akan tetapi petani dapat tersenyum lebih lebar jika bisnisnya dapat berkembang lebih besar.

Demikianlah impian yang diungkapkan Borgias Satiman, salah satu PPL pendamping petani cabai, dari Desa Kombo Selatan, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat.

Keluhan itu diungkapkan Borgias, setelah menghadiri Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Kopi di Provinsi NTT berlangsung di Hotel Green Prundi Labuan Bajo, Jumat (4/3/2022).

Kegiatan ini dibuka oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Ny. Julie Sutrisno Laiskodat via zoom.

Kelompok tani cabai yang dibinanya itu dibentuk sejak Tahun 2013 dan tetap bertahan sampai saat ini.

Kepada media ini, Borgias mengisahkan perjuangannya bersama anggota kelompknya selama ini.

Borgias menjelaskan, kelompok tani bimbingannya telah berhasil memproduksi dengan penerapan organik murni yang telah menggunakan pupuk kompos sebagai pupuk dasar dan beuveria bassiana sebagai pengendali organisme penggangu tumbuhan (OPT).

“Menggunakan organik murni baik pupuk dasarnya maupun pengendali penggangu tumbuhan degan pengendali hayati,”tutur Borgias.

Adapun langkah produksi yang telah dilakukan kelompok tani Mekar Dukut melalui pendampingan Borgias sejak berdirinya kelompok tersebut pada Tahun 2013, sudah memenuhi target setiap pasca panen tanpa hambatan.

“Proses awalnya terlebih dahulu di persemaian dulu, setelah itu dibuatkan pembibitan kemudian dipindahkan ke kebun dan ditanam. Umurnya berkisar 60 — 70 hari sudah bisa dipanen,” terangnya.

Sementara itu, Stanislaus Hambur, Ketua Kelompok Mekar Dukut mengatakan, kolompoknya telah memproduksi cabai jenis hibrida F1 varietas imperial 10 degan jumlah sekitar 200 kg/minggu. Namun hal tersebut, mereka kewalahan dalam pemasaran karena lokasinya jauh dari Kota Labuan Bajo.

Selain itu, minimnya sarana prasarana pendukung yang disediakan oleh pemerintah.

“Kami menanam 3 hektar tahun ini pak, kami sekarang kewalahan pemasaran, karena jauh dengan Kota Labuan Bajo dan kami belum punya alat panen yang memadai. Kami masih menggunakan cara tradisional,” urai Laus.

Kelompoknya sudah berkomitmen menekuni cabai jenis tersebut untuk mendukung kemajuan Pariwisata Super Premium Labuan Bajo.

“Kami sudah sepakat untuk menekuni cabai ini untuk kedepannya, jika hasil tahun ini sesuai degan target, karena kami melihat cabai ini sangat cocok di daerah kami ini,” ungkapnya.

Dia berharap agar pemerintah segera mengatur pola pemasaran yang baik, dan memperhatikan fasilitas dan sarana pendukung bagi kelompoknya.

“Kami mendengar banyaknya pasokan sayur dan cabai dari luar daerah di Mabar. Karenanya kami dorong pemerintah agar bisa mengatur pemasaran, sehinga dapat menyerap produksi petani dalam daerah.juga menjaga harga di level petaninya baik. Kita perlu bersama menjaga semangat petani,” tekad Laus. Kekurangan yang ada di kelompoknya saat ini, menurut Laus, mobil pendingin untuk mengangkut cabai dari lahan dengan gratis tanpa biaya kirim dan pengolahan pasca panen bagi kelompoknya.

“Kami berharap pada pemerintah untuk mengatur pasar, sehingga bisa menyerap produk petani lokal termasuk alokasi anggaran untuk bantuan pasca panen,agar kualitas produksi petani terjaga,” pintanya. (fon)