LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com–Sejumlah desa di Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur belum menikmati penerangan listrik sampai hari ini.

Sebut saja SMK Negeri 1 Lembor Selatan, Desa Watu Tiri, Desa Surunumbeng, Desa Benteng Tado, Desa Benteng Dewa, Desa Nangabere, Desa Repi, Desa Watu Waja dan Desa Watu Rambung sampai hari ini masih menggunakan lampu pelita untuk penerangan pada malam hari.

Hal itu bertolak belakang dengan program layanan listrik tanpa padam atau zero down time (ZDT) dari PLN untuk mendukung kemajuan Pariwisata Labuan Bajo, sebagai Destinasi Pariwisata Super Perioritas.

Yanto Maso, salah satu warga Desa Watu Tiri, Kecamatan Lembor Selatan mengaku hingga kini warga di desanya sangat merindukan kehadiran listrik PLN.

Diakuinya, sampai hari ini, warga desanya masih memakai lampu pelita untuk penerangan pada malam hari, dan hanya orang-orang yang mampu saja yang bisa memasang Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan genset.

“Selama ini, ada yang pakai generator, dan ada memakai lampu pelita,” sebut Yanto sembari berharap agar PLN segera memperluas pembangunan jaringan listrik ke desa mereka.

Karena ketiadaan listrik, sejumlah rumah penduduk, Kantor Camat Lembor Selatan dan Puskesmas yang berada di desanya masih gelap gulita.

Selama ini kantor-kantor tersebut hanya dibantu mesin genset, dan itu pun menyala saat beraktivitas di siang hari hanya beberapa jam saja, tutur Yanto.

Begitu pun Puskesmas dan sejumlah sekolah di desanya gelap gulita.

Keluhan serupa disampaikan Edward, salah satu tenaga kesehatan di Puskesmas Lengkong Cepang. Dalam keterangannya kepada media ini, ia sangat mengharapkan kehadiran listrik PLN di wilayah mereka, apa lagi yang berhubungan dengan pelayanan publik sangat membutuhkan listrik.

“Kami berharap, PLN segera memperluas pembangunan jaringan listrik di Lembor Selatan.

Apa lagi kami yang ada di Puskesmas, kewalahan melayani pasien kalau pada malam hari,” keluh Edward.

Dalam memberikan pelayanan, dirinya sering kewalahan karena ketiadaan listrik dan selalu mendapat komplain dari masyarakat, terutama malam hari.

“Kalau malam hari kewalahan, belum lagi kalau genset rusak atau stok solar habis. Kami selalu mendapat komplain dari masyarakat,” cetusnya.

Menurut dia, banyak alat-alat medis yang memerlukan arus listrik. “Jadi, kami harus rujuk pasiennya untuk penanganan lebih lanjut,” terangnya.

Sebagai warga yang tinggal di Desa Watu Tiri, Edward mengaku sering dimintai pengumpulan kopian KTP sebagai calon pelanggan ketika dilakukan perluasan jaringan listrik dari PLN nanti.

“Saya tinggal di Watu Tiri sejak 2015, dan seingat saya sudah 3 kali diminta kumpulkan foto kopi KTP sebagai calon pelanggan PLN sejak 2017, 2019 dan 2020, tapi hasilnya nihil,”cerita Edward.

Sementara itu, Camat Lembor Selatan, Sipri P. Mantur mendesak manajemen PT. PLN  (Persero) Cabang Labuan Bajo, untuk segera mempercepat pelaksanaan pemasangan aliran listrik di delapan desa di Lembor Selatan.

Permintaan percepatan aktivasi pemasangan listrik itu disebabkan beberapa pelayanan di pusat ibu kota kecamatan maupun di delapan desa terkendala karena jaringan listrik belum tersedia, sehingga implementasi pola pelayanan publik tidak efektif.

Tak hanya itu, kata Camat Sipri, pemasangan listrik juga sangat dinantikan oleh Puskesmas Lengkong Cepang dan beberapa sekolah yang terletak di pusat ibu kota kecamatan, seperti SMKN 1 Lengkong Cepang, SMPN 5 Lengkong Cepang dan Sekolah Dasar (SD) di sekitarnya.

“Selama ini, untuk memfasilitasi implementasi pelayanan publik, kami di sana masih menggunakan mesin genset,” keluh Camat Sipri.

Menanggapi hal ini Kepala PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Labuan Bajo, Godgrant H. Letik mengatakan, untuk di Lembor Selatan ada beberapa desa yang masuk perencanaan untuk dibangun pada Tahun 2022.

“Kita menunggu ya pak, setelah pembahasan anggaran,” ungkapnya singkat.(fon)