LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com- Ketua DPRD NTT, Ir.Emilia Julia Nomleni menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun PBNU ke- 96 tahun di Labuan Bajo, pada Sabtu, 5 Februari 2022.

Di sela-sela kesibukannya menghadiri acara ulang tahun PBNU tersebut, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Rumah Singgah St. Theresa JPIC SSpS Flores Barat-Labuan Bajo.

Kedatangan Srikandi NTT ini untuk bersilatuhrami dengan para suster dan juga anak-anak penghuni Rumah Singgah St. Theresa itu.

Emi Nomleni yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan NTT itu didampingi oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Manggarai Barat, Darius Angkur, A.Md yang juga Wakil Ketua 1 DPRD Manggarai Barat, bersama Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Manggarai Barat, Agustinus Jik,  bersama jajaran pengurus dan kader PDI perjuangan Manggarai Barat.

Rombongan tiba di Susteran SSpS Labuan Bajo pada pukul 18.30 wita, setelah sebelumnya melakukan kunjungan kerja ke Warloka dan mengikuti acara Hari Ulang Tahun PBNU di Hotel Meruorah Labuan Bajo.

Kedatangan Ketua DPRD NTT tersebut disambut dengan suka cita oleh anggota komunitas Rumah Singgah St. Theresa.

Mereka begitu gembira  ketika mendapat pelukan hangat dari mama Emi. Ibu Emi Nomleni sebelum menjadi Ketua DPRD NTT memang dikenal luas sebagai sosok aktivis kemanusiaan yang fokus menangani masalah-masalah perempuan dan anak. 

Di hadapan para suster, Emi Nomleni berterimakasih kepada Susteran SSpS telah menjaga anak-anak dengan baik.

Hal itu memberikan harapan bagi mereka untuk bisa berkembang lebih baik.

“Saya hadir di sini karena rindu ingin bertemu anak-anak, sebelumnya saya pernah ke sini. Mama suster terimakasih, sudah merawat anak-anak , sudah memberi mereka harapan untuk berkembang lebih baik”, ungkap Emi Nomleni dengan haru.

Sementara itu Kepala Rumah Singgah  St. Theresa  JPIC SSpS Flores Barat, Sr. Maria Yosephin  di hadapan mama Emi menjelaskan bahwa Rumah Singgah St. Theresa Labuan Bajo serius dan fokus menangani persoalan kemanusian yang dialami oleh anak-anak dan perempuan.

Rumah Singgah Susteran Labuan Bajo fokus menangani anak-anak korban kekerasan seperti KDRT, kekerasan dan pelecehan seksual dari berbagai daerah di wilayah kerja Flores Barat.

Saat ini terdapat 15 orang yang sedang dirawat dan tinggal di sini, 8 orang dewasa dan 7 orang anak-anak.

Suster Yosephin menambahkan bahwa dalam pengamatannya di Manggarai Barat, minim sekali membicarakan tentang kasus kekerasan pada perempuan dan anak, fokus pemerintah dan pihak-pihak terkait lebih banyak bicara pariwisata super premium. Harapannya supaya semakin banyak pihak yang mau bekerja sama menangani isu-isu soal perempuan dan anak.

Lebih lanjut Sr. Yosephin menjelaskan metode penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan.

Ia mencontohkan, kasus hamil di luar nikah minimal harus ditangani selama  2 (dua) tahun. Tujuanya  agar bisa memberikan penanganan yang maksimal, penanganannya mulai dari perawatan ibu saat hamil, pendampingan saat melahirkan hingga pasca persalinan, baik urusan kesehatan maupun kehidupan ekonomi sang ibu.

“Praktis membutuhkan waktu minimal 2 tahun sebelum dikembalikan ke keluarga. Mayoritas mereka berasal dari keluarga kurang mampu. Kita melayani dengan hati yang sungguh, Tuhan pasti membantu”, tutur Sr. Yosephin.

Ia juga tak lupa berterimakasih atas kehadiran Ibu Emi Nomleni di Rumah Singgah tersebut.(fon)