KOTA Super Premium Labuan Bajo kini semakin digemari oleh wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Setiap hari selalu ada wisatawan yang berkunjung. Hal itu tentu saja wajar sebab Labuan Bajo dianugerahi keindahan alam menakjubkan.

Hal tersebut dapat menjadi berkah bagi masyarakat lokal yang memiliki inovasi dan kreativitas.

Dengan label super premium yang melekat pada Kota Labuan Bajo, para pelaku UMKM semakin mudah mempromosikan dan menjual produknya. Tak terkecuali tenunan songke khas Manggarai.

Seperti yang dilakukan Wati Ontong, pemilik Toko Forlavivian Centra Tenun Ikat (CTI) yang menjual sejumlah tenunan khas Manggarai, seperti kain songke, selendang, topi rea dan beberapa lainnya.

Kualitas tenunan yang di jual di toko tersebut dijamin teruji. Hal itu terbukti ketika tamu yang datang begitu antusias memilih dan membeli tenunan yang tersedia.

Hampir setiap saat toko itu selalu dipesan pembeli, baik yang datang secara langsung maupun pesan via online.

“Barang yang ada di butik ini, saya jamin kualitas kain dan benangnya sangat berkualitas,” kata Wati, pemilik Toko Forlavivian CTI Labuan Bajo itu kepada media ini di Wae Kesambi Labuan Bajo, Sabtu (29/1/2022).

Keuntungan yang diperoleh Wati dari hasil penjualan tersebut sangatlah fantastis. Setiap bulan, Wati mengaku bisa mengumpulkan uang hasil jualannya berkisar antar Rp 30 juta sampai dengan Rp 40 juta. Angka itu tidak termasuk modal yang dikeluarkan Wati untuk mendapatkan tenunan dari para penenun yang terikat kerjasama dengannya.

Untuk mendapatkan tenunan songke tersebut, Wati bekerja sama dengan para penenun yang ada di desa-desa di wilayah Kabupaten Manggarai Raya sekaligus membantu para penenun yang kesulitan menjual hasil tenunannya.

Harga tenun songke yang dipatok oleh pemilik Toko Forlavivian CTI sangat terjangkau. Sudah pasti isi dompet tidak akan terkuras. Untuk kain songke hanya dibanderol dengan harga mulai dari Rp 600.000 saja, dan itu dijamin berkualitas.

Ketekunan berbuah kesuksesan, ini mungkin kalimat yang bisa menggambarkan upaya Wati Ontong.

Berbekal menjual 6 lembar kain songke pada Tahun 2010 lalu, kini dia berhasil mengantongi pendapatan besar per bulannya.

Apa lagi wanita berumur 42 tahun itu mendirikan usaha bukan hanya untuk mendapat keuntungan diri sendiri, tetapi memberdayakan kelompok-kelompok tenun yang ada di beberapa desa di wilayah Kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai.

Wanita kelahiran Benteng Jawa, 5 Juni 1979 ini memulai usaha jual hasil pengrajin tenun lokal dengan keterampilan yang dikuasainya memasarkan produk tenun lokal.

Ia terinspirasi bergelut di bidang usaha itu, berawal ketika dirinya membeli 6 kain sarung songke dari seorang bapak yang setiap harinya menjual lewat di depan rumahnya.

Awalnya, ia membeli sarung songke hanya sekedar sebagai bahan koleksi dan untuk dipakai anggota keluarganya.

Selanjutnya, ia hanya pajang 6 lembar kain songke di depan rumah. Lalu, saat orang bertamu ke rumahnya tertarik untuk membeli kain songke tersebut karena kainnya berkualitas. Setelah dipikir–pikir akhirnya ia putuskan menjual kain songke tersebut.

Ia mulai berusaha menjual hasil tenun lokal karena ingin mempercepat pemasaran dari hasil karya ibu-ibu yang memiliki keterampilan menenun.

Melalui kerja sama itu, dirinya yakin setiap hasil yang diantarakan ke tempat penjualannya merupakan hasil tenunan yang berkualitas yang siap di pasar kepada wisatawan yang datang atau masyarakat lokal.

“Dulu , saya berinisiatif untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok tenun seperti kelompok yang ada di Lembor, Cibal, dan Satarmese yang di dalamnya ada beberapa desa dan terbagi dalam beberapa kelompok. Satu kelompok itu ada 20 sampai 25 orang. Misalnya, di satu kelompok itu dalam dua minggu bisa menghasilkan lebih dari 20 lembar. Jadi, dalam satu bulan mereka biasanya kumpul kumpul saja. Pada saat saya minta untuk satu bulan itu berapapun banyaknya, saya punya permintaan terpenuhi, karena sudah tidak omong harga lagi mereka sudah tahu pasarannya sekian,” terang wati

Kini ibu rumah tangga tamatan SLTA tersebut bisa meraup pendapatan Rp 30 juta sampai Rp 40 juta setiap bulan.

Untuk di Kabupaten Manggarai Barat sendiri, kata dia, kebutuhan masyarakat setempat untuk membeli sarung hasil tenunan lokal tersebut sangat tinggi.

“Pokoknya setiap hari penghasilannya lumayan, sehingga kalau dikumpul-kumpul dalam satu bulan bisa mencapai Rp 30 juta hingga Rp 40 juta karena ada bulan-bulan tertentu juga pada saat acara adat permintaannya meningkat,” sebut Wati.

Selain itu, ia juga bekerjasama dengan beberapa kantor di lingkup Pemkab Mabar dan kalau ada tamu yang datang ambilnya dari tempat usahanya bisa membeli hingga 5 lembar kain songke, selendang dan topi khas Manggarai.

“Jadi di sini, kita siapkan semua permintaan konsumen sesuai dengan harganya masing–masing,” ujarnya.

Tenunan yang dijualnya bermacam-macam ada yang tebal, ada yang tipis, ada yang motifnya simpel, dan ada juga motifnya yang lebih rumit,

Jadi, setiap kelompok punya ciri khas dan harganya masing-masing. Khusus untuk topi rea harga sebesar Rp 175.000.

Untuk stok, ia tidak mengalami kesulitan karena sudah bekerjasama dengan sejumlah kelompok penenun di Manggarai dan Manggarai Barat.

Kalau kainnya sudah jadi, kelompok-kelompok tersebut langsung mengantarkannya ke rumah Wati.

“Mereka senang karena di waktu luang selain mereka bertani bisa menenun dan mendapatkan tambahan penghasilan,” kata dia.

Wati mengatakan, tenun ikat dan kain songke yang diproduksi kelompok-kelompok tersebut semakin diminati masyarakat, pemasarannya bertambah luas hingga merambah provinsi-provinsi lain di Indonesia.

“Untuk ekspor, saya bekerja sama dengan beberapa butik besar di luar, dan untuk NTT kebetulan Ibu Gubernur NTT sendiri juga mendukung sekali untuk tenun ikat ini dan sudah mau dua tahun, sejak Tahun 2020 sudah bekerjasama dengan saya. Jadi, saya suplayer untuk leviko butik punya Ibu Gubernur di Jakarta, Dekranasda NTT, dan Bacarita Cafe. Jadi, lumayan orderannya setiap bulan,” aku Wati.

Harganya masing-masing, untuk sarungnya itu mulai dari Rp 600.000 sampai dengan Rp 1, 5 juta.

Sementara itu, Ny. Karolina Andus asal Desa Ngancar, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, yang juga salah satu mitra kerjasama Toko Forivivian CTI saat mengantar hasil tenunan kelompoknya mengaku sudah 8 tahun bekerjasama dengan toko milik Ibu Wati tersebut.

Kerjasama itu, menurut dia, sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di kampung.

“Kami yang menenun di kampung, setelah tenunannya sudah banyak baru antarkan ke sini. Jadi, untuk kita di penenun sangat membantu. Kelompok kami namanya Kelompok Tenun Setia Janji. Produksi kami itu selama satu bulan satu kain songke per satu orang X 20 orang = 20 kain songke,” urainya.

Tokoh Forlavivian CTI terletak di Wae Kesambi, Desa Batu Cermin, Kota Labuan Bajo atau lebih tepatnya di sebelah Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Kesambi.

Dari Bandara Internasional Komodo hanya diperlukan waktu sekitar 10-15 menit jika naik motor atau mobil.(fon)