LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com— Kondisi fisik Gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Boleng, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat memprihatinkan.

Kabupaten ujung barat pulau flores ini dengan Ibu kotanya Labuan Bajo telah menyandang status Destinasi Wisata Super Premium, tetapi ternyata masih menyisakan banyak pekerjaan rumah di sektor pendidikan, khususnya pada sarana prasarana.

Seperti potret kondisi ruang kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nanga Boleng, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat sangat memprihatinkan.

Dari 6 ruangan kelas yang dibangun, 2 ruangan lainnya tidak layak lagi.

Kepala SDN Nanga Boleng, Agustinus Apong, S. Pd, kepada NTT Pembaruan, Senin (24/01/2022) pagi, mengatakan 2 ruangan kelas yang tak layak tersebut dibangun pada Tahun 2012 lalu.

Dua ruangan yang tak layak tersebut masih digunakan karena ruangan yang ada di sekolah tersebut hanya ada 6 sementara ruangan kantor dan perpustakaannya tidak ada.

“Ruangan yang ada di bagian utara sekolah ini sesungguhnya berdiri pada Tahun 2012.

Pada Tahun 2018 ada pembangunan bersumber dari DAK dan DAU di SDN Nanga Boleng, sehingga ruangan itu dipindahkan ke bagian utara. Mengapa sampai hari ini tetap dipakai karena ruangan kelas untuk SDN Nanga Boleng hanya ada 6, sementara untuk kantor dan perpustakaannya tidak ada.

“Untuk kantor kami pakai satu ruang kelas yang ditempati di ruangan yang rusak itu dipakai untuk kelas II,” terang Agus.

Dikatakannya, pembangunan dua ruangan kelas tersebut merupakan swadaya masyarakat hasil kerja sama antara komite, orangtua murid dan guru-guru setempat.

” Pembangunan dua ruangan kelas itu hasil kerja sama antara komite, orang tua murid dan guru-guru yang ada di sekolah ini. Jadi, pembangunanannya swadaya bukan dari dana bos, tetapi pembangunan itu adalah swadaya masyarakat dan guru-guru,” urainya.

Tujuannya dulu, lanjut dia, satu ruangan untuk perpustakaan dan satu ruangannya untuk kelas.

“Sesungguhnya ruangan itu tidak layak kami pakai, tetapi mau bilang apa, karena ruangan untuk satu kelas itu tidak ada, terpaksa kalau cuacanya baik kami paksa untuk pakai itu, yang terpenting ada naungan dari terik matahari, tapi kalau hujan terpaksa kami pindahkan kelas II itu ke teras ruangan yang layak atau kami bawa ke kantor,” katanya.

Ia mengisahkan terkait kondisi dua ruang kelas yang berdindingkan bambu tersebut roboh pada Tahun 2020 lalu, dan tambah parah kerusakannya pada saat hujan deras dan angin kencang beberapa waktu lalu.

“Robohnya pada Tahun 2020, sedangkan satu ruangannya itu pada saat banjir kemarin angin kencang dan hujan deras, karena kayu-kayunya juga sudah lama dan sudah lapuk sehingga atapnya itu atau sengnya terbang terbawa angin,” sebut dia.

Dia menyebutkan, untuk kelas II ada 13 orang siswa, dari total 62 orang siswa/i dari kelas I –VI di sekolah tersebut.

“Kalau ruangannya sudah cukup, nanti kami tetap usulkan ruangan untuk kantor dan perpustakaan,” janjinya.

Apalagi dengan kondisi tanggul yang sangat dekat dengan sekolah tersebut yang sudah lama rusak, sehingga mengakibatkan jika air laut sedang pasang akan masuk kedalam lingkungan sekolah.

“Kemarin dulu dari Dinas Pendidikan dan DPRD Manggarai Barat sudah datang melihat kondisi bangunan sekolah ini. Kami usulkan yang skala prioritas kalau bisa dibangun duluan tanggulnya. Memang untuk Nanga Boleng ini membutuhkan dana besar karena kalau tanggulnya jebol maka air laut masuk ke lingkungan sekolah, terutama pada saat air pasang surut,” kisah dia.

Kondisi tanggul di SDN Nanga Boleng, Kabupaten Manggarai Barat yang sudah jebol

Kepada BPBD Mabar, ia berharap agar memperhatikan kondisi tanggul penahan gelombang laut di sekolah tersebut.

Salah satu penyebab air laut naik sampai ke lingkungan sekolah dan permukiman warga, menurut dia, karena tanaman bakau yang ada di sepanjang pantai itu hampir punah.

Karena itu, harus ada gerakan penanaman bakau lagi yang disponsori oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.

Sementara itu Wali Kelas II SDN Nanga Boleng, Ignasius Sedus, S.Pd, mengatakan sangat kwatir kalau sedang dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di ruangan tersebut.

“Kami merasa kwatir kalau sedang proses belajar mengajar di ruangan tersebut. Alasan pertama kalau musim hujan, anak – anak semua mandi hujan karena atapnya sudah tidak bagus. Yang kedua, kalau musim air laut pasang pasti itukan berbahaya bagi anak-anak juga,” tutup dia. (fon)