LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com – Nasib malang harus dialami Bunga (nama samaran), seorang gadis yatim piatu masih di bawah umur berusia 15 tahun yang menjadi korban pemerkosaan.

Ia diperkosa pria berinisial S di Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), NTT pada Selasa (28/12/21) lalu, sekitar pukul 18.00 Wita.

Berdasarkan pengakuan Bunga, dirinya diperkosa di dalam semak-semak oleh pelaku.

Selain diperkosa, ia juga dianiaya dan diancam menggunakan pisau jika tak melayani nafsu bejat pelaku.

Rabu (19/1/22) sore, kepada wartawan di Labuan Bajo, Bunga menceritakan kronologis peristiwa pilu yang menimpanya.

Ia menuturkan, awalnya ia dan temannya bertamu ke rumah pelaku.
Setelah beberapa saat berada di rumah pelaku, Bunga dan temannya hendak pamit pulang.

Bunga dan temannya ingin pulang bonceng tiga di sepeda motor pelaku.
Namun, pelaku mencegat dan beralasan ada operasi dari pihak kepolisian.

Jika dipaksakan untuk tetap bonceng tiga akan ditilang.

Bunga menuruti kemauan pelaku dan mengurungkan niat untuk bonceng tiga dengan temannya.

Ia pun naik sepeda motor pelaku untuk diantarkan pulang.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba pelaku menghentikan laju sepeda motor miliknya, pelaku beralasan lupa membawa helm. Bukannya kembali ke rumah untuk ambil helm, pelaku malah mengajak Bunga ke dalam semak-semak.

“Lalu dia balik ambil helmnya di hutan (semak-semak), dia tarik tarik saya ke kambing, dia paksa-paksa saya. Lalu dia cekek saya, lalu dia mengambil sarungnya dan mengikat saya,” tutur Bunga.

Menyadari niat jahat pelaku, sontak membuat Bunga melakukan perlawanan dan berusaha melepaskan diri akan tetapi, tenaganya tidak cukup kuat untuk menghentikan aksi pelaku.

Bunga yang saat itu dilanda ketakutan, kecemasan, dan kesedihan memohon kepada pelaku untuk tidak melakukan persetubuhan. Permintaan tersebut tak digubris oleh pelaku dan terus melancarkan aksinya hingga berhasil memperkosa Bunga.

“Dia pukul saya dua kali lalu dia ancam pake pisau kalau tidak menurut. Dia bilang kalau kau tidak mau saya bunuh kau pake pisau, saya terpaksa mi, saya sampai minta ampun, saya menangis,” ungkap Bunga.

Tak puas dengan aksi pertama, pelaku hendak mengulang perbuatannya. Bunga lagi-lagi diancam jika tidak menuruti kemauan pelaku.

“Pas saya mau lari, dia tarik saya punya kaki, dia tampar saya. Habis dia tampar dia mau perkosa lagi saya, lalu saya cari kunci motornya, saya buang dan lari,” kata Bunga.

Bunga kemudian melarikan diri dalam kondisi setengah telanjang.
Ia berhasil kabur ketika pelaku sibuk mencari kunci motor yang dibuang oleh Bunga.

Saat kabur, Bunga berpapasan dengan mobil berinisial I dan I bertanya kepada Bunga apa yang terjadi sehingga dirinya lari dalam kondisi seperti itu.

“Lalu ada bibi I lewat. Dia tanya, kau kenapa Bunga. Saya bilang, saya diperkosa oleh S,” katanya.

I menyuruh Bunga memakai baju dan masuk ke dalam mobil untuk diantarkan pulang. Dalam perjalanan, I memberitahu Bunga jika ingin melaporkan kejadian tersebut ke polisi, dirinya bersedia menjadi saksi.

Setiba di kos kakaknya, Bunga menangis sejadi-jadinya atas apa yang dialami.
Hal tersebut sontak membuat salah seorang di kos tersebut heran dan bertanya kepada Bunga apa yang terjadi.

“Saya nangis, saya kasih tau mas Jawa. Langsung dia lapor (ke polisi),” kata Bunga.

Pelaku Mengaku Salah

Sementara itu, Kakak sepupu Bunga, A mengungkapkan, pelaku S beberapa kali mendatangi rumahnya untuk mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada pihak keluarga.

“Beberapa kali keluarga mengakui kesalahannya datang ke sini bahwa benar telah melakukan penganiayaan terhadap adik ini, meminta maaf dan mengakui salah,” ujarnya.

Namun, pihak keluarga menolak untuk menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan.

Keluarga menilai, tindakan keji itu terutama pemerkosaan terhadap Bunga tidak bisa dimaafkan dan harus diselesaikan menurut hukum.

“Kalau hal itu (penganiayaan), bisa saja kami terima. Tapi untuk kasus terkait laporan pemerkosaan kami tidak bisa. Harus diselesaikan secara hukum yang berlaku,” kata A.

Ia berharap kasus pemerkosaan yang menimpa sepupunya tersebut segera menemui titik terang dan berharap pihak kepolisian segera mengungkapkan pelaku dan menetapkannya sebagai tersangka.

Satuan Reskrim Polres Manggarai Barat (Mabar) terus melakukan pemeriksaan dan pengembangan, kasus dugaan pemerkosaan terhadap saudari LA (15) asal Kampung Air, Kecamatan Komodo, yang terjadi di Kampung Gorontalo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, pada hari Selasa (28/12/2021) lalu.

Penaganan kasus dugaan pemerkosaan anak di bawah umur sesuai dengan Laporan Polisi: LP/B/206/VII/2021/SPKT/Res Mabar/Polda NTT tanggal 28 Desember 2021.

Saat di konfirmasi, pada Kamis (20/01/2022), Kapolres Manggarai Barat AKBP Felli Hermanto, S.I.K, M.Si melalui Kasat Reskrim IPTU Yoga Dharma Susanto, S.Tr.K menerangkan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah penegakan hukum.

“Kami bekerja secara profesional dengan melakukan visum terhadap korban, pemeriksaan saksi sebanyak empat orang dan pemeriksaan terduga pelaku SB (42) asal Labuan Bajo,Kecamatan Komodo,” tandas IPTU Yoga. Dikatakan, saat ini kasus dugaan pemerkosaan masih dalam tahap penyelidikan dan pemeriksaan saksi tambahan, guna menguatkan alat bukti dalam penetapan tersangka dan apabila alat bukti sudah lengkap maka akan dinaikan ke tahap penyidikan dan penetpan tersangka.” tambah IPTU Yoga.

Satuan Reskrim Polres Manggarai Barat telah melayangkan surat panggilan kepada lima orang saksi tambahan untuk diambil keterangan guna melengkapi alat bukti untuk naik ke tahap penyidikan dan penetapan tersangka. (fon)