LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com- Kondisi UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Air Tawar milik Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang terletak di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat memprihatinkan.

Seperti disaksikan media ini, Senin (17/1/2022) akses jalan masuk ke BBI Air Tawar belum beraspal.

Selain itu, sumber mata airnya tidak layak digunakan di kolam BBI itu.

Tenaga kerja untuk mengelola dan menjaga BBI milik Pemkab Mabar itu juga masih kurang.

Terkait kondisi itu, Kepala UPTD BBI Air Tawar Nggorang, Labuan Bajo, Mathias Warat kepada media ini, Senin (17/1/2022) mengakui hal itu.

Dari segi teknis, menurut dia, ada 6 kolam ikan di tempatnya yang tidak memenuhi syarat karena tidak ada kubangan.

Selain itu, saluran pintu masuk airnya tidak memenuhi syarat.

“Seharusnya ada pintu masuk tersendiri bukan seperti ini dia punya pararelnya, sehingga kalau satu kolam tercemar makai kolam lainnya kena. Ini modelnya seperti sawah,” terang Mathias.

Beberapa tahun terakhir, lanjutnya, sumber air kolam tersebut dari pembuangan air sawah masyarakat setempat.

Apalagi pada musim kemarau dan musim hujan, tambah dia, warna airnya keruh.
Idealnya menurut Mathias, harus membutuhkan air bersih yang bebas dari kontaminasi zat-zat kimia.

“Kendala kami selama ini persediaan air. Air yang ini dari pembuangan air sawah milik masyarakat di sekitar Desa Nggorang dan bersumber dari kali mati yang mana airnya ada pada musim hujan saja, dan pada musim kemarau dia mati,” kata Mathias

Karena itu, ia minta kepada Pemkab Mabar agar secepatnya membangun sumur bor yang sebelumnya sudah masuk pada DPA BBI untuk bisa dianggarkan kembali demi pembangunan kolam dan kondisi lain yang terjadi UPTD BBI tersebut.

“Yang kami minta di sini agar secepatnya bangun sumur bor. Beberapa tahun lalu, kami sudah masukannya di DPA untuk sumur bor, tetapi karena kendala Covid-19 akhirnya dipangkas lagi sehingga belum terealisasi. Kami punya pekerjaan di sini hanya urus air, tu yang paling berat, sehingga setiap hari harus stand bay, pagi, siang dan sore. Apalagi di musim hujan begini, sangat susah karena banjir makanya kami harus tutup. Kalau tidak tutup meluap airnya dan tutupnya juga tidak lama, kalau tutup lama maka airnya bisa kering karena kolamnya sudah bocor semua. Kendala seperti ini sejak kami masuk pada Tahun 2018. Pada saat itu status BBI ini dia naik jadi UPTD BBI,” papar dia.

Kata Mathias, benih ikan yang dibudayakan di UPTD BBI jumlahnya tergantung permintaan masyarakat.
Kalau kelompok sewa kelolanya bisa puluhan ribu ekor. Dan jenis ikan yang dibudidayakan di lokasi tersebut yaitu ikan nila dan ikan mas.

“Pada saat kita turunkan benih itu tergantung dari permintaan masyarakat. Kalau kelompok yang sewa kelola itu dia bisa puluhan ribu ekor, dan jenis ikanya adalah ikan nila dan ikan mas. Sedangkan ikan lelenya belum,”ujarnya.

Dia sendiri akui, masih kekurangan tenaga kerja di UPTD BBI milik Pemkab Mabar tersebut.

Akses jalan masuk ke BBI Air Tawar

Akses jalan keluar masuk ke kolam ikan itu juga belum beraspal.

Akses jalan menuju lokasi itu sepanjang kurang lebih 400 meter dari jalur umum belum aspal.

“Rencananya tahun ini pemerintah akan membangun jalan aspal ke lokasi ini karena tahun lalu kami sudah usulkan kepada DPRD untuk segera pembangunan jalan aspal ke sini.

Terkait pembangunan kolam kalau bisa dipercepat dengan sistem bertahap. Misalnya tahun ini 2 kolam baru dilanjutkan tahun berikutnya,” saran Mathias.

Sementara itu, Kepala Tata Usaha (KTU) UPTD BBI, Yosefina Niman mengaku, untuk pembangunan jalan masuk sudah diusulkan ke Pemkab Mabar dan sudah dibahas di DPRD setempat.

Mudah-mudahan tahun ini, sudah bisa terealisasi, harap Yosefina.(fon)