LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com– Pasangan suami istri (Pasutri) Fredianus Adi Sudirman (28) dan Yudita Delnia Srisuparsi (26) warga perumahan di Jalan Kenari, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), setiap harinya dirundung kesedihan.

Buah hati mereka yang memasuki usia hampir enam bulan, sejak lahir ternyata mengalami penyakit bronkitis.

Penyakit bronkitis adalah infeksi saluran udara utama paru-paru (bronkus).
Kondisi inilah yang menyebabkan iritasi dan peradangan.

Dinding saluran udara utama menghasilkan lendir untuk memerangkap debu dan partikel lain yang dapat menyebabkan iritasi.

Sebagian besar kasus bronkitis terjadi ketika infeksi mengiritasi dan meradang di saluran udara, menyebabkan saluran udara menghasilkan lebih banyak lendir dari biasanya.

Fredianus Adi Sudirman (28) yang sehari-harinya bekerja sebagai guru honorer di SDN Gorontalo Labuan Bajo dan Yudita Delnia Srisuparsi (26) sebagai ibu rumah tangga sebelumnya tidak menyangka putra pertama mereka mengidap penyakit ganas itu.

Bayi mungil bernama Altrisno Ekryano Defredi, kelahiran 15 Agustus 2021 itu mengidap bronkitis sejak dia dilahirkan.
Hasil diagnosa penyakit yang diderita bayi mungil ini baru diketahui saat usianya memasuki umur 3 minggu pasca melahirkan.

Ayah kandung Altrisno Ekryano Defredi (6) bercerita, anaknya mengalami kelainan pada pernapasan.

Ekryano mengalami gejala tersebut, pada bulan September 2021 lalu.

Awalnya, ia lahir normal, namun pada usia 3 minggu pasca melahirkan mengalami gejala sesak nafas.

Karena panik dan penasaran, keluarga berinisiatif mengantarkan anaknya di salah satu klinik ternama di Labuan Bajo.

Alhasil pemeriksaannya sangat memprihatikan, hingga disarankan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo, kisah Fredi, ayah kandung Altrisno Ekryano Defredi kepada media ini, Jumat (7/1/2022) pagi di Labuan Bajo.

Pasangan suami istri asal RT 002/RW 001, Desa Golo Ndoal, Kecamatan Mbeliling tersebut langsung memutuskan membawa Altrisno Ekryano Defredi (6) ke RS Siloam Hospital Labuan Bajo, agar mendapat perawatan lebih lanjut.

“Rujukan pertama tanggal 2 Oktober 2021 di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo. Ada temuan lendir yang menempel di paru-paru, hingga divonis bronkitis”, kata Fredi.

Setelah beberapa bulan bolak-balik berobat ke Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo, pernapasan Ekryano semakin parah dan kini kondisinya sangat memprihatinkan. Akhirnya Manajemen Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo menyarankan keluarga untuk segera di rujuk ke Bali.

“Penanganan selama dua bulan terakhir ini tidak ada perubahan sama sekali, bahkan tambah parah. Terakhir kontrol tanggal 4 Januari 2022, pihak dokter di Siloam menyarankan kami sekeluarga segera bawa Ekryano ke Bali”, ungkap Fredi.

Kini orangtua Ekryano merasa cemas, karena mereka harus menyetujui atau menentukan keputusan apakah putra mereka harus dioperasi di Denpasar Bali.
Kendati setuju anaknya dioperasi, Fredianus Adi Sudirman (28) kebingungan harus mendapatkan biaya dari mana untuk memenuhi kebutuhan selama menjalani operasi.

“Berbagai upaya kami sudah lakukan untuk penyembuhan anak kami (Ekryano- red), tapi apa daya kami sekeluarga kendala biaya. Sekarang, kami mencari alternatif lain, untuk penyembuhan Ekryano. Itu pun dengan kondisi serba pas-pasan”, akunya.

Penghasilan Fredianus Adi Sudirman (28) dan Yudita Delnia Srisuparsi (26) sangat terbatas serta hidup berkecukupan.

Pasturi ini berharap ada uluran tangan dari siapa pun, yang peduli pada keluarga tersebut, baik dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat maupun para dermawan yang bisa membantunya.

Mereka memposting kondisi Altrisno Ekryano Defredi (6) di media sosial, dengan harapan ada orang yang terketuk hatinya.

Orangtua Ekryano meminta bantuan para dermawan agar bisa meringankan beban biaya perawatan anaknya melalui Rekening BRI 813001002309530 atas nama Fredianus Adi Sudirman.

Konfirmasi bisa di nomor handphone 082266196070 (Ayah Kandung Ekryano) (fon)