Oleh : Gregorius Ganggur, CGP Angkatan III Kabupaten Manggarai

MERDEKA belajar adalah kebebasan atau kemerdekaan bagi peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan berlandaskan pada asas penciptaan manusia sebagai pribadi yang terlahir dan bebas memilih jalan hidupnya dengan bekal akal, hati dan jasadnya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Tujuan dari program ini adalah mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang berkompeten, berkarakter, berbudi pekerti luhur, dan memiliki nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Nilai-nilai tersebut adalah (1) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, (2) Berkebhinekaan global, (3) Mandiri, (4) Bergotong Royong, (5) Bernalar kritis, dan (6) Kreatif.

Untuk dapat mewujudkan kemerdekaan belajar tersebut, tentunya guru sebagai pendidik harus mampu mengejawantahkan program atau kegiatan yang dapat memfasilitasi asas kebebasan pada peserta didik.

Asas kebebasan tersebut diharapkan mampu diterapkan baik dalam proses pembelajaran di dalam kelas maupun dalam kegiatan di luar kelas. Selain proses pembelajaran, lingkungan sekolah dan komunitas praktisi, dan mitra sekolah dituntut untuk mendukung terwujudnya kemerdekaan belajar pada peserta didik.

Pembelajaran di dalam kelas dan kegiatan lain di sekolah, mestinya berlandaskan pada asas pendidikan Indonesia yakni menuntun tumbuh kembang peserta didik, memahami kodrat peserta didik dan keberpihakan pada kebutuhan belajar peserta didik.

Asas pendidikan yang merupakan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara itu diharapkan mampu mewujudkan mutu pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Salah satu cara dalam upaya mewujudkan pembelajaran di dalam kelas yang memerdekakan peserta didik adalah pembelajaran berdiferensiasi.

Apa itu pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi dapat diartikan sebagai sebuah upaya yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas, dimana pembelajaran tersebut berpihak kepada peserta didik.

Keberpihakan dalam pembelajaran dilakukan dengan cara memetakan kebutuhan belajar peserta didik lewat tiga aspek pemetaan kebutuhan yaitu kesiapan belajar (readiness) peserta didik, minat belajar dan profil belajar peserta didik. Kebutuhan belajar tersebut menjadi dasar dalam praktik pembelajaran guru di dalam kelas.

Pemetaan kebutuhan belajar tersebut dilakukan dengan cara melakukan identifikasi awal terkait kebutuhan belajar mereka.

Pemetaan kebutuhan belajar peserta didik, ibarat seorang dokter yang sedang melakukan diagnose terhadap gejala atau sakit yang dialami oleh pasiennya. Demikian halnya guru, dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya, seorang guru melakukan pemetaan kebutuhan belajar peserta didik, sehingga akan berdampak pada tujuan pembelajaran yang dirancang.

Selain melakukan pemetaan kebutuhan belajar, seorang guru perlu melakukan identifikasi terhadap gaya belajar peserta didik.

Adapun gaya belajar peserta didik dapat dibagi atas tiga (3) yakni, (1) gaya belajar Auditori, (2) gaya belajar Visual, dan (3) gaya belajar Kinestetetik. Mengetahui kebutuhan belajar dan gaya belajar tersebut menjadi acuan dalam Merancang pelaksanaan pembelajaran diferensiasi.

Dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi tersebut guru akan memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran sesuai dengan gaya belajar masing-masing.

Dalam penerapan pembelajaran diferensiasi, seorang guru memerlukan strategi. Beberapa strategi yang digunakan untuk dapat menerapkan pembelajaran diferensiasi adalah diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten merupakan strategi membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten.

Konten adalah materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum. Sementara itu diferensiasi proses adalah diferensiasi yang merujuk pada strategi membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi materi dan diferensiasi produk adalah strategi memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan terhadap apa yang telah dipelajari.

Diferensiasi Konten

Konten sebagai apa yang diajarkan kepada peserta didik dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap tingkat kesiapan belajar peserta didik, minat atau profil belajar murid yang berbeda atau bahkan kombinasi ketiganya. Untuk dapat mengukur kesiapan, guru harus mampu membedakan tingkat Informasi yang disiapkan.

Peserta didik yang kesiapan belajar, minat dan profil belajarnya. Masih pada taraf dasar, maka guru harus membedakan Informasi yang disajikan.

Ide, yang disajikan baik dalam bentuk informasi atau teks bagi peserta didik yang masih pada level dasar tidak dapat disamakan dengan peserta didik yang sudah berada pada tingkatan transformasional.

Dalam mendesain konten seorang guru harus mampu membedakan tingkat atau level peserta didik yang masih berpikir konkrit dengan peserta didik yang sudah mampu berpikir abstrak.

Peserta didik sekolah dasar misalnya penyediaan alat bantu berupa alat atau media nyata akan sangat membantu memahami materi pembelajaran. Demikian halnya peserta didik pada level sekolah menengah atas yang sudah mampu berpikir dengan sesuatu yang abstrak, penggunaan media gambar tentu akan bisa menunjang pemahaman terhadap materi pembelajaran. Sementara itu peserta didik berdasarkan pada minat diarahkan untuk memilih sesuai minat mereka.

Begitu pula peserta didik berdasarkan profil belajar.

Seorang peserta didik yang memiliki gaya belajar visual, guru dapat menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk video atau gambar. Peserta didik auditori dan kinestetik.

Diferensiasi proses

Proses dapat dimaknai bagaimana murid memahami Informasi apa dari materi yang sedang dipelajari.

Guru harus mampu memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dengan cara menuangkan cara atau proses seperti apa yang akan dilakukan dalam memenuhi kebutuhan belajar.

Dalam diferensiasi proses seorang guru harus membuat langkah konkrit dengan cara membuat pertanyaan berjenjang, pertanyaan pemandu atau pertanyaan tantangan yang perlu diselesaikan untuk mendorong peserta didik melakukan eksplorasi terkait materi yang dipelajari.

Selain itu guru juga dapat melakukan agenda individu kepada peserta didik setelah melakukan tugas secara kelompok atau tim.

Guru juga dapat memberikan variasi waktu yang berbeda bagi peserta didik dalam menyelesaikan tugas mereka.

Diferensiasi produk

Diferensiasi produk adalah terkait dengan tagihan atau produk yang dihasilkan oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan belajar, minat dan profil belajar mereka.

Peserta didik yang visual misalnya dapat atau bisa saja hasil produk mereka berupa video, atau auditori bisa berupa sebuah rekaman atau audio.

Selain memahami kebutuhan belajar, minat dan profil belajar peserta didik, seorang guru juga harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menunjang pembelajaran diferensiasi demi terwujudnya merdeka belajar bagi peserta didik.

Selain itu, iklimpembelajaran juga tentunya memberikan andil yang cukup besar dalam keberhasilan pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan belajar peserta didik.(*)