LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com – Alexandro Hatol, salah satu wartawan TVRI yang bertugas di Labuan Bajo merasa dirinya dihalang–halangi Staf Ajudan Kapolda NTT saat meliput berita penyerahan Kapal Patroli Polairud Polda NTT di Labuan Bajo, Rabu (13/10/2021).

Kepada media ini di Labuan Bajo, Rabu (13/10/2021) Alexandro Hatol, merasa dirinya dihalang-halangi saat melakukan pengambilan video Kapolda NTT yang melakukan pengecekan di atas Kapal Polairud.

Saat itu, salah satu aparat yang merupakan Staf Ajudan Kapolda NTT menyuntilnya dari belakang dengan mengatakan jaga jarak.

” Saat itu, saya sedang melakukan pengambilan vidio, karena Bapak Kapolda masuk ke dalam ruangan kapal, tiba-tiba salah satu anggota polisi yang saya ketahui Staf Ajudannya Kapolda, menyuntil pinggang saya dengan berkata jaga jarak. Sementara di dalam ruangan kapal itu sangat kecil dan memang kondisinya juga tidak bisa untuk menjaga jarak. Saat itu saya merasa tidak nyaman dan saya keluar dari dalam kapal,” jelas Alexandro.

Lebih lanjut, Alexandro mengatakan, saat hendak  mewawancarai Kapolda NTT, dirinya juga kembali disuntil oleh Staf Ajudan Kapolda NTT yang tidak di ketahui namanya tersebut.

“Jadi hal yang sama kembali dia lakukan saat saya sedang mewawancarai Bapak Kapolda. Saat itu saya berada di posisi paling depan berhadapan langsung dengan Kapolda dengan posisi kamera sementara on record , tiba-tiba dia kembali suntil saya, yang mengakibatkan kamera saya goyang dan membuat vidio berita menjadi tidak bagus. Saya pun pasrah saja dan mematikan kamera kemudia memilih keluar dari barisan para awak media yang sedang wawancara,” tuturnya.

Alexandro menyayangkan perbuatan yang dilakukan oleh Staf Ajudan tersebut yang sudah menghalang-halangi kerja pers. Dirinya juga menambahkan, saat itu semua orang yang hadir semuanya tetap mematuhi protokol kesehatan seperti tetap menggunakan masker dan mencuci tangan serta menjaga jarak.

” Saya sangat menyayangkan hal ini, padahal kegiatan yang di hadiri oleh pak Kapolda ini merupakan salah satu kegiatan yang memberikan dampak baik dalam kemajuan pengamanan laut Labuan Bajo. Namun saat itu kami terkesan dihalang-halangi, padahal kami semua taat prokes, tetap memakai masker semua, dan saat wawancara pun demikian, karena tempat yang sempit dan terbatas saat wawancara jadi kelihatanya seperti berkerumun, namun kita semua wartawan tau juga soal penerapan protokol kesehatan. Saya pun selip di urutan depan saat wawancara juga karena saya harus dapat vidio yang maksimal untuk ditayangkan,” tambahnya.

“Bahkan saat saya mengambil foto, dia melihat saya langsung menghampiri dan berkata “loh foto gue ya” dan melarang jangan memfoto sembarang,” terang Sandro.

Akibat kejadian tersebut, dirinya tidak mendapatkan video berita yang maksimal untuk disiarkan di Stasiun TV Nasional tempat dirinya bekerja.

Secara terpisah, Ajudan Kapolda NTT, Briptu Zilkifi Salman saat dihubungi wartawan di Labuan Bajo menerangkan jika yang melakukan peneguran terhadap wartawan TVRI bernama Alexandro Hatol tersebut adalah stafnya.

“Memang betul tadi dari stafnya kita ada yang tegur dan itu bukan ajudan yang tegur” terangnya.

Ia menerangkan, teguran yang dilakukan hanya mau melanjutkan atensi dari pimpinan agar dalam kegiatan selalu jaga jarak dan tidak bermaksud untuk menghalangi-halangi tugas wartawan. (fon)