LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com – Untuk mencegah terjadinya bentrokan fisik antara para pihak,  Polres Manggarai Barat telah menetapkan 21 tersangka (tsk) bersama barang bukti (BB) berupa 15 bilah parang milik para pelaku dalam kasus sengketa lahan di Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

21 tersangka dan 15 BB itu telah diamankan Polres Manggarai Barat pada  Jumat, 2 Juli 2021 lalu, demikian rilis Humas Polres ManggaraI Barat yang diterima media ini, Jumat (3/9/2021).

Para tersangka itu masing-masing, 3 orang aktor intelektual berasal dari  Desa Golo Mori, 13 orang massa bayaran berasal dari Kampung Popo, Desa Popo, Kecamatan Satar Mese Utara dan 5 orang massa bayaran lainnya berasal dari Kampung Dimpong, Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Bambang Hari Wibowo, S.I.K, M.Si menjelaskan, 21 tersangka yang telah  diamankan itu berdasarkan laporan polisi nomor : LP / B /128 / VII / 2021 / SPKT / RES MABAR / POLDA NTT tanggal 03 Juli 2021 dari saudara FP (58) Warga Dusun Nggoer, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

“Berdasarkan laporan tersebut, kami langsung bergerak ke TKP untuk mengamankan 3 orang aktor intelektual bersama 18 orang massa bayarannya. Tujuannya, untuk mencegah terjadinya aksi bentrok antara para pihak di lahan sengketa di Desa Golo Mori  selama ini.  Selain itu, agar tidak membuat resah dan mengganggu kenyamanan masyarakat Desa Golo Mori, khususnya Kampung Nggoer yang mengancam Kamtibmas di Kabupaten Manggarai Barat,” ungkapnya.

Baca juga :  Menggerakan Literasi Sekolah, SMPN Satap Pong Meleng Ikuti Ajang Lomba Menulis Nasional

Kronologisnya, pada hari Kamis, 01 Juli 2021, 18 orang tersangka dari Kampung Popo, Desa Popo, Kecamatan Satar Mese Utara dan dari Kampung Dimpong, Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai di bawah pimpinan tersangka YT (68) datang ke Desa Golo Mori dengan masing–masing tersangka membawa parang.

Para tersangka dijemput di Kampung Dalong, Desa Watu Nggelek, Kecamatan Komodo dengan menggunakan 2 unit kendaraan roda empat yang disewakan oleh tersangka HA (57) dan 18 orang massa bayaran menginap di rumah saudari MB (43) dan tersangka HA (57) di Desa Golo Mori. Kedatangan para massa bayaran itu tidak pernah dilaporkan oleh HA (57) maupun MB (43) kepada aparat desa setempat maupun pihak keamanan di desa tersebut.

Selanjutnya, pada hari Jumat, 02 Juli 2021 sekitar pukul 09.00 Wita, tersangka ATM (46), HBKH (31) dan 18 orang tersangka yang berasal dari Kampung Popo dan Kampung Dimpong berjalan secara bergerombol dengan masing–masing membawa parang yang notabenenya adalah membawa senjata tajam dalam wilayah kampung dan desa orang lain yang mana mereka pergi ke lokasi tanah Lingko Rase Koe, Desa Golo Mori dalam rangka menduduki lahan sengketa tersebut untuk mendukung tersangka HA (57).

Baca juga :  Mengenal Perfect Fit Pembalut Kain Cuci Ulang Yang Ada di Kota Labuan Bajo

“Para tersangka melakukan aktivitas pembersihan lahan, sehingga perbuatan tersebut menimbulkan keresahan bagi warga Desa Golo Mori terlebih khusus Kampung Nggoer, terutama bagi saudara FP (58) sebagai salah satu pihak yang mengaku sebagai pemilik tanah di Lingko Rase Koe tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, tindakan HA (57) ini sudah dilakukan berulang kali ketika sedang bersengketa tanah,” katanya.

Atas kejadian tersebut, saudara FP (58) melaporkan kepada pihak Kepolisian dan para pelaku tertangkap tangan oleh Tim Jatanras Komodo saat memegang senjata tajam yang langsung diamankan oleh personil Polres Manggarai Barat untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut.

Modusnya, para tersangka yang bukan warga asli Desa Golo Mori difasilitasi dan dibayar Rp 70.000,- per hari oleh tersangka HA (57) datang ke wilayah Desa Golo Mori dengan membawa senjata tajam berupa parang, kemudian masuk ke lokasi tanah milik warga Desa Golo Mori yakni di Lingko Rase Koe dan melakukan pembersihan serta menduduki lahan yang masih disengketakan.

Tersangka HA (57) sengaja mendatangkan 17 orang dari Kampung Popo dan Kampung Dimpong di bawah pimpinan YT (68) dengan membawa serta senjata tajam dengan tujuan menduduki lokasi tanah Lingko Rase Koe, Desa Golo Mori yang adalah objek sengketa tanah antara saudara FP (58) dan kawan–kawan dengan saudara HA (57) dan saudari MB (43).

Baca juga :  KM Lexxy Terbakar di Labuan Bajo, 20 Penumpang, 1 Kapten dan 8 ABK Selamat

Untuk diketahui, tersangka YT (68) bersama 17 tersangka lainnya sengaja didatangkan untuk membantu tersangka HA (57) untuk menduduki lahan yang disengketakan.

Para tersangka didatangkan dilengkapi fasilitas dari penjemputan dan bayaran untuk menduduki tanah sengketa tersebut dengan alasan pembersihan lahan yang mana lahan tersebut masih sengketa.

Perbuatan para tersangka, telah menimbulkan ketakutan atau menakut–nakuti lawan atau pihak yang bersengketa  serta mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum untuk  Warga Desa Golo Mori.

Perbuatan para tersangka diatur dalam pasal 2 ayat 1 Undang–Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman pidana 10 tahun penjara. (fon/*)