KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Terkendala situasi pandemi Covid-19, pendapatan yang diperoleh PD Pasar Kota Kupang hingga Juni 2021 sebesar Rp 700-an juta atau baru mencapai 30 persen dari target 50 persen.

“Kalau dalam situasi normal, target kita seharusnya pada bulan Juni 2021 pendapatannya sudah mencapai 50 persen, tetapi karena terkendala Covid-19 baru mencapai 30 persen dari total Rp 3 miliar lebih yang ditargetkan Tahun 2021,” jelas Direktur Pemasaran PD Pasar Kota Kupang, Maksi Nomleni, SH,MH kepada media ini di Kupang, Senin (19/7/2021).

Salah satu faktor penyebab belum tercapainya target itu, menurut Maksi,karena situasi pandemi Covid-19 membuat masyarakat dari pegunungan enggan turun menjual di pasar-pasar di Kota Kupang.

Baca juga :  DPD PAN Mabar Gelar Doa Bersama Agar Indonesia Segera Pulih dari Covid-19

Sementara, pemasukan yang diperolehnya  itu bersumber  dari retribusi harian terdiri dari pembayaran pelapak  tetap dan tidak tetap yang ada di dalam pasar dengan tarif sebesar Rp 2000/penjual/hari.

Dari 8 pasar yang dikelolanya di Kota Kupang, Pasar Kasih Naikoten I memberikan kontribusi paling besar disusul Pasar Oeba dan Pasar Oebobo. Sedangkan, pasar tradisional lainnya, seperti  Pasar Kuanino, Pasar Stadion Merdeka, Pasar Udayana, Pasar Penfui, dan Pasar Kolhua hanya sekedar tambahan saja.

“Selama ini, yang bisa menunjang kita sampai dengan hari ini sehingga bisa mencapai 30 persen itu dari para pedagang yang tetap yang berada di dalam los pasar.Pemasukan bulanan dan tahunan  dari retribusi  yang mengontrak  kios-kios di dalam pasar juga mengeluh tidak ada penghasilan karena terkendala Covid-19. Jadi, mau bilang apa,” cetusnya.

Baca juga :  Soal Dana Pinjaman, Kadis PUPR NTT : “PT. SMI Sudah Menjawab Permohonan Kita”

Artinya, kata dia, , orang-orang yang mengontrak kios di dalam pasar itu per Juni 2021 kemarin seharusnya pembayarannya sudah mencapai 50 persen, tetapi karena alasan situasi Covid-19, dagangan mereka kurang laku, maka lagi-lagi pencapaiannya  masih 30 persen.

“Juru tagih kita pada saat bertemu dengan orang yang menempati kios itu, mendapat keluhan yang sama belum ada uang karena situasi Covid-19, barang dagangannya kurang laku. Jadi, mereka (pengontrak kios,red)  mau bayar pakai apa ,” tandas Maksi. (red)