LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com-Krisis air bersih yang dialami oleh warga Dusun Handel, Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak dahulu kala hingga daerah itu menjadi sebuah kabupaten defenitif belum juga berakhir.

Nurdin ( 49 ), Kepala Dusun (Kadus) Handel kepada media ini di kedimannya, Sabtu (17/7/2021) mengaku, kondisi seperti itu sudah terjadi sejak nenek moyang mereka tinggal di daerah tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan air saja, masyarakat harus berbondong-bondong berjalan kaki ke kali Wae Mese, baik untuk kebutuhan mencuci, mandi, memasak dan minum sehari-hari.

“Kami sudah mengonsumsi air kali ini sejak nenek moyang kami tinggal di kampung ini”, kisah Nurdin kepada wartawan media ini.

Dari sisi higienis, menurut dia, air kali yang dikonsumsi masyarakat sangat berpengaruh terhadap kesehatan karena diduga air kali tersebut dicemari bahan pelumas, seperti oli, solar dan bensin, sebab di bagian hulu sungai itu ada aktivitas penambang pasir.

Baca juga :  PPKM Level 4, Pemkot Kupang Batasi Aktivitas Masyarakat Hingga Pukul 21.00 Wita

” Air kali ini mungkin sudah dicemari berbagai penyakit, soalnya sepanjang aliran sungai ada aktivitas galian penambang pasir. Setiap hari dilalui kendaran, sehingga air ini mungkin sudah dicemari oleh oli, solar atau pun bensin dari mobil, alat berat dan motor yang melintasi sungai ini”, tutur Nurdin.

Kata Nurdin, bukan hanya pencemaran dari bahan bakar mobil dan alat berat saja, tetapi juga pencemarannya dari limbah cucian warga, dan kotoran hewan.

Selain untuk kebutuhan minum, mencuci, dan memasak, air kali tersebut juga sering digunakan oleh masyarakat untuk mencuci mobil dan motor pada sore hari, bahkan menjadi sumber  air minum dan kubangan  bagi ternak milik warga yang bermukim di sekitarnya, seperti kerbau dan sapi.

Baca juga :  Wakapolri Kunjungi RSUD Komodo

“Tetapi mau dibilang apa, walaupun kali itu bercampur kotoran hewan, kami tetap mengonsumsinya karena satu-satunya sumber air hanyalah dari kali tersebut,” ungkapnya.

Menurut Nurdin, di desanya sudah terpasang jaringan perpiaan air minum sejak Tahun 2014 lalu, namun sampai saat ini belum juga berfungsi.

Hal yang sama juga dialami Ny.Siti Amina,  salah satu warga Kampung Handel yang merasakan sulitnya mendapatkan air bersih, terutama untuk kebutuhan air minum, memasak, mandi dan mencuci.

“Kami sudah lama menimba air di sini, tetapi mau bagaimana lagi hanya ini saja sumber air bagi warga di sini. Kami di sini, sering menderita diare dan penyakit lain, tapi tidak tahu apakah penyakit itu karena minum air sungai ini atau tidak”, keluh Siti.

Baca juga :  Kejari Labuan Bajo Kembalikan Berkas Perkara 21 Tsk Dugaan Sengketa Lahan Golo Mori

Kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, ia berharap, untuk bisa memperhatikan kebutuhan air bersih termasuk mefungsikan jaringan perpipaan yang sudah lama terpasang   di kampung mereka. (fon)