PPDB TA 2021/2022 Tetap Menggunakan Sistem Zonasi

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Untuk menghindari penumpukan di suatu sekolah, maka sistem yang digunakan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2021/2022 masih menggunakan sistem zonasi.

Sistem zonasi adalah sebuah sistem pengaturan proses penerimaan siswa baru sesuai dengan wilayah tempat tinggal. Sistem tersebut diatur dalam Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018, sehingga tidak ada sekolah-sekolah yang dianggap sekolah faforit.

“ Komitmen kita, bagaimana pelayanan penerimaan siswa baru ini tertangani secara baik.  Yang paling utama itu bagaimana kepentingan masyarakat atau anak-anak didik kita bisa terakomodir di sekolah-sekolah yang ada di seluruh NTT,” kata Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Kabid Dikmen) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Mathias M.Beeh,S.ST,Par,MM kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (21/6/2021).

Ia menyebutkan, dari 903 SMA/SMK di NTT yang melaksanakan PPDB Online tahun ini, sebanyak  63 sekolah terutama yang  terletak di wilayah –wilayah atau zona-zona yang penduduknya cukup padat, seperti di Kota Kupang dan daerah lain yang animo masyarakatnya sering terjadi membludak di salah satu sekolah tertentu saja.

Baca juga :  Pengawasan Internal Pemerintah Kunci Wujudkan Visi dan Misi Pemkab Manggarai

“Kita memastikan, bahwa tidak ada masalah soal daya tampung.  Yang menjadi masalah, ketika masyarakat menginginkan anaknya sekolah di suatu sekolah tertentu. Hal ini, akan menjadi perhatian kita di dinas, terutama berkaitan dengan daya dukung sarana prasarana (Sarpras), dan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terus kita perbaiki.Kita yakinkan masyarakat, bahwa dimanapun bersekolah, semuanya sudah tertata dengan baik,” kata Mantan Kepala SMKN 1 Kota Kupang ini.

Animo Cukup Tinggi

Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Kabid Dikmen) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Mathias M.Beeh,S.ST,Par,MM ketika menerima  proposal pembangunan unit  sekolah baru SMKN 2 Welak, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Senin (21/6/2021).

Mathias juga mengakui, animo masyarakat untuk mendirikan sekolah baru, baik SMA maupun SMK di NTT cukup tinggi, terutama di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Manggarai, Manggarai Barat, Ngada dan Nagekeo.

“Kita akan mendorong untuk SMK yang lebih linear dengan keadaan alam. Misalnya, untuk sekolah pertanian, peternakan, perikanan, dan pariwisata, sejalan dengan visi misi Bapak Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Bapak  Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi.  Jadi, kita mendorong SMA untuk dibangun secara bertahap, tetapi lebih diprioritaskan SMK, sehingga sumber daya alam kita yang luas ini bisa termanfaatkan dengan lulusan SMK,”urainya.

Baca juga :  Konsep Smart City Akan Dikembangkan di Labuan Bajo

“Misalnya, hari ini ada sekolah yang jangkauannya puluhan kilo meter, tetapi berkat perjuangan kelompok masyarakat kita,  mereka bisa sekolah lebih dekat lagi.  Kita juga memberikan apresiasi kepada masyarakat yang rela menyerahkan lahannya untuk mendirikan sekolah. Dengan dibangunnya sekolah di tempat itu, maka anak-anak yang sebelumnya harus menempuh puluhan kilo meter untuk melanjutkan pendidikan  SMA/ SMK, sekarang sudah dekat,” terang Mathias.

Menurut dia,  salah satu penyebab anak putus sekolah karena jarak tempuh antara tempat mereka tinggal dengan sekolah itu cukup jauh ditambah lagi biaya hidup yang besar, seperti biaya makan minum dan biaya kos.

Tetapi, dengan dibangunnya sekolah di dekat mereka maka tidak ada kesulitan lagi untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya. Sekolah-sekolah yang dibuka itu juga tentunya telah melalui kajian yang mendalam antara lain, kesiapan lahan dan sekolah pendukung atau SLTP yang berada di sekitarnya, sehingga setelah mereka tamat, bisa melanjutkan SMA/SMK di dekat itu tanpa harus mencari sekolah yang jauh-jauh ke kota. (red)