KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Ratusan umat katolik mengikuti Ibadat Jumat Agung di Gereja St. Kristoforus Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jumat (2/4/2021).

Ibadat Jumat Agung di Gereja St. Kristoforus Matani yang dipimpin oleh Romo Erik Fkun,Pr itu dimulai pukul 15.00 Wita ditandai dengan penghormatan Salib Kristus.

Sesuai pengamatan media ini, jumlah umat yang hadir cukup banyak sehingga ada sebagian umat berdiri di sepanjang jalan depan gereja, dan samping kiri kanan gereja karena kehabisan tempat duduk.

Walaupun jumlahnya begitu banyak, tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 seperti memakai masker, mengukur suhu tubuh, mencuci tangan dan menjaga jarak yang secara teknis diatur oleh Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St. Kristoforus Matani kolaborasi dengan THS/THM dan Panitia Paskah 2021.

Baca juga :  Agus : Memeriahkan HUT RI Ke-76 dengan Kegiatan Positif

Nampak Panitia Paskah Tahun 2021 yang dipercayakan kepada Wilayah VII sibuk mengatur umat yang datang ke gereja,  mengatur umat saat  memberi penghormatan kepada Salib Kristus dan mengatur umat  pada saat penerimaan komuni di tempat-tempat yang telah disediakan.

Sementara, Romo Erik Fkun,Pr dalam khotbah Ibadat Jumat Agung di gereja itu mengatakan, Jumat Agung begitu bermakna bagi orang-orang katolik tentang  sengsara  penyaliban Yesus Kristus hingga wafatNya di Golgota.

Yesus memberikan kesaksian yang jujur sebagai Putra Allah tanpa menyatakan Aku adalah Raja. Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran, terang Romo Erik.

Lebih lanjut, Romo Erik mengatakan, Yesus adalah jalan kebenaran. Kebenaran telah memberanikanNya untuk memberikan kesaksian tentang Allah dan tentang keselamatan.

Baca juga :  Tingkat Kecamatan Lamba Leda Utara, Puskesmas Weleng dan Desa Satar Padut Juarai I Lomba Kreasi

Yesus berani menyatakan secara jujur sekalipun disiksa, sekalipun dihujat dan menerima berbagai macam cambukan sebagai bukti kesetianNya kepada Bapa dan cinta serta pengorbanNya kepada seluruh umat manusia.

Keberanian Yesus dalam menyatakan kebenaran, lanjut Romo Erik, bertolak belakang dengan sikap Rasul Petrus yang selama proses pengadilan terhadap Yesus, justru memperlihatkan sikap menyangkal atau menyatakan yang tidak jujur kepada publik bahwa ia bukan murid Yesus.

“Sikap penyangkalan Petrus itu, menunjukkan kelemahan dan kekwatiran kita seluruh umat manusia yang saat menghadapi ancaman dalam segala sisi kehidupan kita. Manusia cendrung menjadi tidak jujur, menjadi berbohong terhadap diri sendiri, terhadap sesama, dan juga terhadap Tuhan dalam situasi yang terjepit dan berbahaya,” urai Romo Erik.

“Kesetian Yesus melalui penderitaanNya di salib, sebagai bukti ketaatanNya kepada Bapa dan cintanNya kepada  kita umat manusia. Menemukan hati kita semua bahwa Yesus sungguh-sungguh mencintai hidup dan masa depan kita. Karena itu, kita semestinya meresponnya dengan sikap refleksi yang berguna untuk pembaharuan diri yang revolusioner. Ketaatan dan totalitas pengorbanan diri adalah bukti cinta yang sejati merawat dan menghidupi setiap panggilan, setiap tugas dan amanah yang dijalani dalam siarah hidup ini,” kata Romo Erik. (red)