Pilkada Telah Selesai, Marilah Kita Kembali Merajut Persaudaraan

Oleh : Kanisius Seda, Pemimpin Redaksi NTT Pembaruan

MENCERMATI fenomena yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia termasuk di Nusa Tenggara Timur  sebelum dan setelah pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah Tahun 2020, masih saja terjadi saling serang menyerang antara pendukung di masyarakat. Padahal, kalau semuanya paham  tentang demokrasi, maka perbedaan pilihan itu adalah hal yang wajar-wajar saja.

Istilah demokrasi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos (rakyat) dan kratos (pemerintah) yang bila diterjemahkan secara langsung dapat diartikan sebagai bentuk pemerintah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Ketertarikan masyarakat terhadap isu politik meningkat seiring tingginya partisipasi di pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah di daerah itu. Namun, tingginya partisipasi dan ketertarikan itu tidak dibarengi dengan penggunaan akal sehat sehingga menimbulkan fanatisme buta yang mencederai demokrasi.

Misalnya, gara-gara beda pilihan politik saat Pilkada,  bisa menganiaya saudaranya sendiri, tidak baku tegur, dan sebagainya.  Inilah  salah satu  contoh gagalnya pemahaman masyarakat terhadap demokrasi.

Bukan hanya itu, materi wawasan kebangsaan dan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang dulu dipakai sebagai pemersatu, kini tidak dipakai lagi. Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia sekaligus pandangan hidup bangsa seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai filter atau penyaring berbagai pengaruh yang menimbulkan keretakan dalam hubungan persaudaraan.

Kegagalan pemahaman terhadap demokrasi pancasila,merupakan kenistaan terparah dalam hidup seseorang untuk kemajuan suatu daerah dan bangsa ini ke depan.

Padahal, kalau menggunakan akal sehat,  siapapun yang terpilih, mereka adalah pemimpin rakyat, bukan pemimpin suku, agama, ras, golongan tertentu, keluarga atau tim sukses dari paket  yang  telah memenangkannya dalam pertarungan politik.

Siapapun yang menjadi bupati, wali kota dan gubernur semuanya mengapdi untuk kepentingan dan kesejahteran rakyatnya. Karena itu, belajarlah berjiwa besar untuk menerima secara lapang dada dari hasil Pilkada yang ada, dengan merajut kembali persaudaraan yang telah dibina.

Sebab, dalam sebuah pertandingan, kalah dan menang itu merupakan hal yang biasa terjadi. Meraih kemenangan tentunya menjadi sebuah tujuan dan harapan utama dalam berkompetisi. Namun, terkadang harapan tidak selamanya bisa terwujud.

Bisa menerima kekalahan pastinya bukan perkara yang mudah. Apa lagi, jika kita sudah bekerja keras dan memberikan yang terbaik untuk memenangkannya dalam sebuah kompetisi.

Jika hasil tidak sesuai dengan harapan, harus menerimanya dengan lapang dada. Gagal menjadi yang terbaik dalam sebuah kompetisi bukanlah akhir dari segalanya. Karena dibalik kekalahan itu pasti ada pelajaran yang bisa dipetik.

Mereka yang berseberangan politik pun dalam Pilkada, merupakan aset dalam membangun sesuatu yang lebih besar lagi untuk masa depan daerah tersebut. Karena itu, yang menang rangkullah  yang kalah untuk membangun bersama-sama daerahnya lima tahun ke depan.

Bagi yang menang, janganlah meluapkan kemenanganmu itu dengan pesta pora, tetapi bersyukurlah atas anugrah Tuhan yang telah memilih anda lewat pilihan masyarakat. Kepercayaan masyarakat itu, haruslah anda buktikan lewat program-program unggulanmu yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Kalah dan menang tidak ada yang abadi. Keduanya, hanyalah bersifat sementara dan semu, yang dapat berubah setiap  saat. Sejatinya, hidup bukanlah soal kalah atau menang. Karena hidup bukanlah perlombaan, dan bukan pula pertempuran. Kita lebih membutuhkan hati yang besar, hati yang lapang dan mampu menyikapi setiap kenyataan yang terjadi.

Karena itu, bagi yang menang tidak perlu angkuh, sombong atau merasa lebih hebat dari orang lain dengan mengerahkan massa untuk melakukan konvoi kemenangan. Tetapi, yang paling penting adalah bersyukurlah kepada Sang Ilahi yang telah memberikan kesempatan kepada anda untuk menahkodai  daerah itu lima tahun ke depan. Salam persaudaraan! (***)

Komentar