Akibat Pandemi Covid-19, Harga Rumput Laut di Kupang Anjlok

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Akibat situasi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, menyebabkan harga rumput laut yang dibudidayakan masyarakat Desa Lifuleo di  Pantai Oesina, Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat,Kabupaten Kupang mengalami penurunan harga yang drastis.

Yohanes Rote (49), salah satu petani rumput laut di Pantai Oesina,  Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat,Kabupaten Kupang kepada media ini, Jumat (4/12/2020) mengaku, harga rumput laut kering di daerah tersebut mulai anjlok sejak pandemi Covid-19 melanda di NTT.

Dampak dari pandemi Covid-19 ini, kata Yohanes, permintaan dari pihak perusahaan akan rumput laut juga mulai menurun. Hal itu dibuktikan, pengiriman rumput laut ke Surabaya tersendat.

Yohanes Rote menjelaskan, sebelum merebaknya pandemi Covid-19 di NTT, harga rumput laut kering ditimbang perbulan sebanyak 100-200 kg dan dengan harga sebesar Rp 18.000/kg.  Tetapi, karena persoalan pandemi Covid-19 harga rumput laut mulai mengalami penurun harga mulai Maret 2020 lalu, bahkan hingga kini sudah menjelang akhir tahun masih tetap anjlok dengan harga Rp 15.000/kg.  Jika dibandingkan dengan akhir tahun lalu harga rumput laut kering bisa  mencapai Rp 22.000/kg.

Baca juga :  Bupati Manggarai Kukuhkan DKM Periode 2021-2024

“Jadi, sebelum virus corona itu harga  rumput laut biasanya Rp 18 000/kg, tetapi karena mulai masuk corona harga sudah menurun  hingga Rp 15.000/kg  bahkan kalau kita bandigkan akhir tahun ini dengan tahun lalu dia punya harga tahun lalu lebih baik karena harganya  mencapai Rp 22.000/kg , ” tutur Yohanes.

Esriyanti Mauk Markus yang juga petani rumput laut di desa itu juga merasakan hal yang sama.  Ia mengaku, saat ini harga rumput laut  masih tetap mengalami penurunan drastis sejak masuknya pandemi Covid-19 di NTT dibanding tahun lalu.

Ia menyebutkan, bulan Juni 2020 lalu, budidaya rumput laut sempat terserang oleh penyakit sejak Perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Timor 1 membangun jembatan yang tak jauh dari lokasi budidaya tersebut.

Baca juga :  Menko PMK dan Menteri PPPA Berkunjung ke Kabupaten Kupang

Akibat dari pembuatan jembatan tersebut, maka debu yang jatuh ke laut itu terbawa oleh arus ke tempat budidaya rumput laut mereka, tetapi kini tidak lagi sehingga tanaman rumput laut mereka sudah tumbuh dengan baik.

“Baru-baru ini tanaman kita sempat kena hama karena ada pembuatan jembatan sehingga semuanya kena debu  dan akhirnya rusak, tetapi, sekarang sudah tidak ada lagi.  Jadi, kami juga mau dibilang rugi karena tanaman kami mati. Kami punya hidup dari rumput laut, tapi sykurlah sekarang sudah  tidak ada penyakit lagi,”ungkapnya (ris)