Gunung Api Ile Lewotolok Meletus, Tidak Ada Korban dan 4.483 Jiwa Mengungsi

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Hingga Minggu, 29 November 2020 pukul 24.00 Wita (jam 12.00 malam) tidak ada korban jiwa akibat meletusnya Gunung Api Ile Lewotolok, tepatnya di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata,  Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sampai dengan  Minggu, 29 November 2020 pukul 24.00 Wita, sebanyak 4.483 jiwa mengungsi sementara pada 6 titik di Kabupaten Lembata yang merupakan dampak dari meletus Gunung Api Ile Lewotolok,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Thomas Bangke kepada media ini di Kupang, Senin (30/11/2020).

Thomas menjelaskan, erupsi Gunung Ile Lewotolok ini terjadi Minggu, 29 November 2020 sekitar jam 09.45 Wita. Berdasarkan, informasi dari Balai Vulkanologi dan Geofisika di Jakarta, tinggi debu vulkaniknya 4000 meter di atas puncak, yang berdampak langsung pada 26 desa di Kecamatan Ile Ape, dan Kecamatan Ile Api Timur.

Daerah yang terdampak I sejauh 2 kilo meter tanpa ada pemukiman warga, dan daerah termpak II, sejauh 4 kilo meter dan daerah terdampak III ada 26 desa yang tersebar di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.

Baca juga :  Lima Paslon Bupati Terpilih di NTT Akan Dilantik Akhir Februari 2021

Saat terjadi erupsi, karena panik secara spontan masyarakat langsung menyelamatkan dirinya masing-masing untuk mencari tempat perlindungan. Melihat peristiwa itu, Pemerintah Kabupaten Lembata langsung terjun ke lokasi untuk melakukan evakuasi para korban ke 6 titik lokasi pengungsian, yakni Kantor Bupati Lama Lembata, Aula Angkara, Kelurahan Lewoleba Tengah, Desa Tabolango,Desa Maobara, dan Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lembata.

Thomas mengatakan,  penanganan pengungsi tetap disesuaikan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) di tingkat kabupaten. Dalam situasi seperti sekarang ini, kata Thomas, kabupaten langsung mengambil langkah-langkah tanggap darurat untuk melakukan penanganan pengungsi.

Distribusi Bantuan

Thomas Bangke

Menurut rencana, Selasa, 1 Desember 2020 Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur akan mengirimkan sejumlah bantuan kepada para pengungsi di Lembata.  Bantuan dari BPBD NTT sendiri berupa 5.000 masker,1 ton beras dan tenda gulung 10 buah.

Pada hari yang sama juga dari Balai Cipta Karya Kementerian PUPR NTT akan mengirimkan peralatan ke lokasi pengungsian, berupa mobil tanki air, mobil toilet, tenda, dan beberapa peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk mengantisipasi sanitasi, apa lagi sekarang ini bertepatan dengan musim hujan, kata Thomas.

Baca juga :  Desa Sebagai Etalase Garis Depan Pemerintahan

Sementara dari Dinas Kesehatan NTT akan membantu masker medis, obat-obatan untuk mengantisipasi munculnya penyakit diare  dan ISPA di lokasi pengungsian yang semuanya dikirimkan melalui kapal feri. “Saya perkirakan, Rabu (2/12/2020) pagi sudah tiba di lokasi pengungsian,”kata Thomas.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Bupati Manggarai Barat dan Kepala BPBD Kabupaten Manggarai Barat  untuk bisa menerbangkan kapal helikopter milik BNPB yang ada di Labuan Bajo, untuk bantuan-bantuan yang sifatnya darurat.

“Saya sudah koordinasi dengan Bupati Manggarai Barat dan Kepala BPBD Kabupaten Manggarai Barat kalau bisa helikopter milik BNPB yang ada di Labuan Bajo diterbangkan ke Lembata pada hari Rabu, 2 Desember 2020 untuk penanganan kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya mendesak dalam penanganan pengungsi. Hal itu, sangat tergantung pada situasi bandara di Lembata. Kalau bandaranya bisa didarati, berarti helikopternya bisa terbang ke Lembata,”ujarnya.

Baca juga :  Sidak di Sejumlah OPD, Bupati Mabar : “Yang Malas Kita Rumahkan”

Ia juga menginformasikan, awan vulkanik gunung api yang sebelumnya tinggi 4.000 meter itu hingga Minggu, 29 November 2020  pukul 24.00 (jam 12.00 malam,red) sudah   turun 2.000 meter.

“Kita berdoa, mudah-mudahan dalam 1-2 hari ke depan erupsinya menurun terus, sehingga statusnya diturunkan dari siaga ke waspada,” harapnya.

Karakteristik gunung berapi yang paling berbahaya itu, menurut dia,  adalah larva pijarnya dan lahar dingin yang berasal dari gumpalan debu vulkanik yang tertampung di gunung, dimana kalau hujan turun akan terjadi banjir.

Ia terus menghimbau kepada masyarakat, supaya pada radius 4 kilo meter tidak boleh ada aktifitas.(ade)