Tahun 2021, UPTD Bahasa NTT Fokus Pada Penguatan Literasi

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Tahun 2021, program kerja Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Bahasa Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih fokus pada penguatan literasi dengan sasaran anak-anak sekolah dasar (SD).

“Rencananya, Tahun 2021, kita lebih  fokus pada penguatan literasi ke seluruh daerah termasuk daerah-daerah terpencil yang jaringan internetnya masih sulit.Bagaimana minat baca ini terus bertumbuh dengan sasaran anak-anak  SD,” tandas Kepala UPTD Bahasa NTT,” Syaiful Bahri Lubis kepada media ini di Kupang, Jumat (23/10//2020).

Sejalan dengan rencana itu, maka pada tanggal 13 November 2020 nanti  dari Kemendikbud  melakukan kegiatan di Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, untuk menguji bahan bacaan yang dilakukan kepada anak SD dengan mengundang para guru SD yang diwakili 50 guru saat itu nanti.

Baca juga :  Sejumlah Ruas Jalan dan Rumah Warga Desa Aeramo Terendam Banjir

Kata Lubis, itu hanya sekedar untuk menguji apakah bahan bacaannya sudah cocok atau belum sebagai tahap awal menuju literasi 2021 termasuk pemetaan bahasa daerah, terutama bahasa- bahasa daerah yang jumlah penuturnya sedikit.

Mengapa jumlah penutur yang sangat sedikit perlu diperhatikan,  jawabLubis, karena jumlah yang sedikit itu rawan punah. Dalam catatan UPTD Bahasa NTT, ada sekitar 72 bahasa daerah di NTT dengan jumlah penutur terbanyak, antara lain, Bahasa Manggarai, Bahasa Lamaholot, dan  Bahasa Melayu Kupang. Tetapi, ada juga bahasa daerah yang jumlah penuturnya sedikit, seperti di Kabupaten Alor.

Menyinggung soal kegiatan bulan bahasa yang dilakukan UPTD NTT tahun ini, Lubis mengatakan, karena masih dalam situasi pandemi Covid-19, maka kegiatan bulan bahasa di 34 provinsi di Indonesia dilaksanakan secara virtual dengan jadwalnya masing—masing.

Baca juga :  PLN Resmikan Gedung Control Center pada Peringatan Hari Listrik Nasional Ke-75 di NTT

Jadwal untuk UPTD Bahasa NTT tanggal 8 Oktober 2020  baru—baru ini, berupa gelar wicara dengan narasumber Gubernur NTT, dan Tokoh Sastrawan dengan durasi selama 3 jam terkait pelestarian bahasa daerah, seni tradisi, kreatifitas anak muda, anak duta bahasa, dan mengundang narasumber dari kalangan Tuna Rungu. (ade)