BTNK dan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Terapkan Sistem Registrasi Online

LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com – Juru Bicara Otorita Taman Nasional Komodo, Muhamad Iqbal Putera pada travel dialogue, Famtrip, Sabtu, (12/9/2020) mengatakan, sebagai destinasi wisata kelas dunia, kawasan Taman Nasional Komodo erat kaitannya dengan carrying capacity,dan ekowisata bukanlah mass tourism.

Ia menegaskan hal itu, terkait dengan penerapan sistem registrasi online bagi calon wisatawan yang akan berkunjung ke Labuan Bajo, khususnya ke Taman Nasional Komodo. Carrying capacity yang ia maksudkan adalah bertujuan menjaga kelestarian Taman Nasional Komodo sebagai wilayah konservasi nasional tanpa menghilangkan kesempatan bagi wisatawan untuk tetap berkunjung, dengan rasa aman dan nyaman sehingga benar-benar mendapat pengalaman pariwisata yang berkualitas.

“Salah satu cara dengan menerapkan sistem registrasi online ini. Dan sistem ini sangat erat kaitannya dengan kondisi pandemi COVID-19, sehingga pemantauan kesehatan dan pengawasan terhadap wisatawan itu bisa difungsikan melalui registrasi online. Jadi tidak hanya bermanfaat bagi ekosistem, tapi juga keselamatan petugas dan stakeholders terkait,” kata Iqbal dalam sesi “Travel Dialogue”  di acara FamTrip Media yang diselenggarakan BOPLBF, Sabtu (12/9/2020).

Dijelaskannya, pihak otorita Taman Nasional Komodo telah menerapkan sistem registrasi online sejak September 2019 di dua lokasi yakni ; Batu Bolong dan Karang Makassar, kemudian terus berkembang hingga tujuh titik objek wisata dan masih berlaku hingga saat ini.

Berdasarkan kajian yang dilakukan pihak otorita pada September 2018 lalu, carrying capacity sudah berlaku di sejumlah objek wisata dalam kawasan zona hijau seperti Loh Liang (Pulau Komodo,red) dengan jumlah maksimal 250 orang, Loh Buaya (Pulau Rinca,red)  dengan jumlah maximal 150 orang, dan Pulau Padar 60 orang.

Baca juga :  Peduli Pengembangan Kelor, PLN Bantu Rumah Pengeringan Kelor dan Sumur Bor Kepada Kelompok Tani Kelor Boneana

Sementara untuk lokasi Perairan Karang Makassar pemberlakuan carrying capacity dibolehkan dengan jumlah maximal sebanyak 32 kapal, dan Batu Bolong 8 kapal, Siaba Besar, dan Pulau Mawan sebanyak 20 kapal perhari.

“Tapi kajian itu perlu diperbaharui setiap dua tahun sekali. Dan karena angka itu berdasarkan kajian pada 2018, akan dibuat kajian terbaru untuk mendapatkan angka yang baru,” tuturnya. Saat itu, proses penyempurnaan registrasi masih terus dilakukan baik secara online maupun offline.

Kepada setiap calon wisatawan yang sudah memiliki data persyaratan  yang cukup, ia berpesan untuk dapat melakukan registrasi online dengan fasilitas layanan yang ada melalui travel agent atau tour operator di Manggarai Barat.

“Penerapan registrasi online secara ideal seperti ini, akan dilakukan ketika semua pihak sudah familiar dengan sistem. Semoga bisa segera dilakukan, karena concern kita adalah peningkatan kembali kunjungan wisatawan dari luar negeri dan sebelum itu terjadi internal kita harus siap dulu dan salah satu caranya ini,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat, Agustinus Rinus, menjelaskan, sistem registrasi online ini dibuat, sebagai upaya peningkatkan kapasitas bagi agen dan biro perjalanan yang ada di Manggarai Barat.

Berkaitan dengan pengalaman selama ini, lanjut Kadisparbud Mabar itu, masih banyak agen perjalanan dari luar Mabar yang mendapatkan manfaat dari pariwisata, namun tidak memberikan kontribusi pada daerah tersebut.

Baca juga :  Pemprov NTT dan Undana Kupang Bahas Pengembangan Pertanian, Peternakan dan Perikanan

Ia membeberkan data  kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo pada 2019 lalu, mencapai 187.128 dengan 55,9 persen diantaranya wisatawan mancanegara. Angka itu meningkat 875 persen dari Tahun 2010 dengan lama tinggal rata-rata 6,9 hari dan jumlah pengeluaran sebesar 978 dolar AS. Sementara itu, kontribusi pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Manggarai Barat pada 2019 mencapai Rp 40,605 miliar, meningkat 2.674 persen dari  Rp 2,37 miliar di Tahun 2010.

“Calon wisatawan dapat melakukan registrasi dengan agen perjalanan atau tour operator yang harus terdaftar di Manggarai Barat. Daftarnya dapat dilihat di situs registration.labuanbajoflores.id,” kata Agustinus.

Terkait hal itu, Direktur Utama BOP-LBF, Shana Fatina, di acara tersebut menjelaskan, registrasi online ini tentu akan mendukung penguatan safety and security yang menjadi faktor penting dalam dunia pariwisata termasuk ekonomi kreatif di era adaptasi kebiasaan baru.

Registrasi online, dengan wilayah konservasi dari TN Komodo sebagai dasar, nantinya sebagai wujud pembangunan sistem digital pariwisata terpadu yang terintegrasi dalam satu big data.

Shana optimis, sistem digital pariwisata yang diterapkan saat ini akan menjadi rumah bagi pariwisata Flores dan Nusa Tenggara Timur secara keseluruhan.

Sebab, selain untuk mendata identitas para pengunjung yang datang dan mentracing riwayat perjalanan para pengunjung, sistem ini juga akan memperkuat penerapan tatanan normal baru di sektor pariwisata.

“Dengan sistem ini ketika ada keadaan darurat, kami terbantu sekali. Dulu, kalau ada kecelakaan kapal, atau kecelakaan diving kita kesulitan mencari tahu siapa operatornya mereka  dan laporannya kemana. Nah, dengan sistem registrasi online ini dan dikombinasikan dengan konsep panic button dari Kemenparekraf akan lebih mudah bagi setiap orang memberi sinyal saat kondisi darurat dan langsung terhubung ke instansi terkait,” papar Direktur Utama BOP-LBF itu.

Baca juga :  Jelang Pilkada, Polres Mabar Tingkatkan Koordinasi Pengamanan

Simulasi terhadap kondisi darurat tersebut awalnya, akan disimulasikan di April 2020, namun tertunda akibat kondisi pandemi Covid -19.

Shana menegaskan,  bahwa pihaknya bersama pihak-pihak terkait telah menyusun action plan untuk di lapangan dan dalam waktu dekat akan mengaplikasikan modul pertama dengan pengoperasian command center secara bertahap dengan berbagai fasilitas pendukung tambahan di tahun berikutnya.

“Kami akan pasang CCTV di titik keramaian dan ditargetkan selesai sebelum G-20 di akhir 2022 dengan standar internasional,” kata Shana.

Pihaknya juga akan terus berupaya meningkatkan kapasitas SDM dalam membangun pola pikir pariwisata dengan melibatkan berbagai stakeholder terkait termasuk Dinas P dan K Provinsi NTT untuk memasukkannya dalam muatan lokal tentang konservasi dan pariwisata di sekolah-sekolah.

“BOP-LBF juga akan terus melibatkan mitra-mitra lokal dalam setiap kegiatan yang dilakukan guna meningkatkan kapasitas mereka dalam berorganisasi sehingga dapat membantu mereka untuk nantinya memulai usaha sendiri,” ujarnya.(lom)