Agustus 2020, NTT Mengalami Deflasi 0,71 Persen

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mencatat Agustus 2020, tiga kota di NTT mengalami deflasi sebesar 0,71 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 102,82.

Tiga kota yang mengalami deflasi itu, yakni Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,92 persen, Kota Maumere mengalami deflasi sebesar 0,71 persen dan Kota Waingapu mengalami deflasi sebesar 0,48 persen.

Data itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, Darwis Sitorus dalam jumpa pers di Aula Utama BPS NTT, Selasa (1/9/2020).

Deflasi Agustus 2020 di NTT terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada 7 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik sebesar 2,19 persen.

Baca juga :  Wakil Gubernur NTT Serahkan Bantuan di Sabu Raijua

Pada Agustus 2020, dari 90 kota sampel IHK Nasional, 37 kota mengalami inflasi dan 53 kota mengalami deflasi. Kota yang mengalami inflasi tertinggi terjadi di Kota Meulaboh sebesar 0,88 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Batam, Kediri dan Kotamobagu sebesar 0,02 persen.

Sedangkan, deflasi terbesar terjadi di Kota Kupang sebesar 0,92 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Banyuwangi, Bekasi, Tembilahan dan Sibolga sebesar 0,01 persen.

NTP Agustus 2020 Turun 0,44 Persen

Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) Agustus 2020 sebesar 95,74 persen. Artinya, kata Darwis, bahwa bulan Agustus daya jual hasil produksi petani masih lebih rendah dibanding daya beli kebutuhan konsumsi dan barang modal.

Baca juga :  Gubernur NTT Apresiasi Kepada BNPB

Dengan demikian, lanjut dia, NTP Agustus 2020 turun 0,44 persen jika dibandingkan dengan NTP Juli 2020. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima dan indeks harga dibayarkan petani.

Pada bulan Agustus, NTP NTT sebesar 95,74 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 94,54 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P), 99,07 untuk subsektor hortikultura (NTP—H), 94,71 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR), 102,75 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 94,34 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi). (ade)