Karo Humas dan Protokol : “Ayo, Mari Kita Berubah”

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Kepala Biro Humas dan Protokol NTT, Jelamu Ardu Marius mengajak masyarakat NTT untuk  berubah dalam mewujudkan NTT Bangkit Menuju Sejahtera. Butuh kerjasama dan sinergi semua komponen masyarakat agar NTT bisa keluar dari  kemiskinan dan provinsi dengan literasi terendah di Indonesia.

“Terkait pernyataan Gubernur NTT yang viral tentang dua pulau besar, yakni Timor dan Sumba dengan penduduk miskin dan bodoh yang banyak di NTT. Sebenarnya di balik diksi dari Gubernur ini  terkandung ajakan, ayo mari  kita berubah dan memperbaiki diri supaya kita tidak tertinggal,” jelas Marius Ardu Jelamu dalam keterangan pers di Ruang Media Center, Selasa (18/8/2020).

Marius yang didampingi Kabag Pers,Pengeloaan Pendapat Umum dan Pepustakaan, Diani T.A Ledo mengatakan, kemiskinan dan kebodohan tidak hanya ada di dua pulau itu, tapi juga ada di daerah-daerah lainnya di NTT.

Apa yang dikatakan Gubernur NTT terkait hal tersebut didasarkan  pada data statistik. Berdasarkan data penduduk miskin yang dirilis BPS Tahun 2019, total penduduk miskin yang ada di 10 kabupaten di dua pulau tersebut adalah  619.400 jiwa. Pulau Flores yang terdiri dari delapan kabupaten punya penduduk miskin sebanyak 367.800 jiwa. Sisanya sebanyak 159.000 jiwa tersebar  di Sabu Raijua, Rote Ndao,Lembata dan Alor.

Baca juga :  Bocah Penderita Kanker Ganas di Mabar Diterbangkan ke Bali

“Bila kita melihat lebih spesifik lagi. Data statistik BPS pada Tahun 2019,  enam kabupaten dengan jumlah penduduk miskin tertinggi (dalam ribuan jiwa) masing-masing TTS , 130, 3, Sumba Barat Daya 96,3, Kabupaten Kupang 92,0, Sumba Timur 77,4, Manggarai Timur 75,8, dan  Manggarai 69,3.

Untuk 6 kabupaten dengan indeks kedalaman kemiskinan tertinggi mencakup Sumba Timur 8,57, Sumba Tengah 7,57, TTS  6,68, Sabu Raijua 6,20, Sumba Barat 5,11 dan Rote Ndao 5,08. Sementara, 6 kabupaten dengan indeks keparahan kemiskinan tertinggi, yakni Sumba Timur 3,14, Sumba Tengah 2,20, TTS  2,09, Sabu Raijua 1,78, Sumba Barat 1,37 dan Rote Ndao 1,33.

Rata –rata pengeluaran per kapita per bulan dari masyarakat NTT adalah Rp 373.992  berada di bawah batas garis kemiskinan yang ditetapkan nasional pada Maret 2020 sebesar Rp 454.652.

Lebih lanjut, Marius mengungkapkan, kemiskinan tidak berdiri sendiri, tetapi masih ada hubungan dengan  indikator-indikator lainnya seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur,dan  sosial budaya.

“Orang menjadi miskin bisa karena kemampuan untuk mengelola potensi dirinya kurang maksimal, atau karena Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di sekitarnya kurang,ataupun karena tanahnya tandus sehingga tidak bisa dikelola secara manual membutuhkan teknologi dengan cost tinggi,” jelas Marius.

Baca juga :  Pembukaan Musrenbangnas 2021, Jokowi Tekankan Penggunaan IPTEK

Pemerintah Provinsi NTT, seperti yang ditegaskan Gubernur NTT dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2020, tetap berupaya keras untuk mewujudkan visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera walaupun dalam situasi pandemi Covid-19.

Mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, membangun infrastruktur, memajukan pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan serta pariwisata  untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Kita bersyukur ketahanan ekonomi NTT terhadap dampak pandemi Covid-19 sangat kuat. Kalau di triwulan kedua, ekonomi nasional terkontraksi pada minus 5,32 persen, NTT justru tumbuh 0,96. Sekali lagi kami mengajak masyarakat NTT untuk membaca dan memaknai pernyataan Gubernur NTT secara positif sebagai motivasi. Kita harapkan para bupati/wali kota tetap menjaga trend pertumbuhan ekonomi yang positif. Semua komponen terkait lainnya seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, perbankan, kalangan industri dan pemangku kepentingan lainnya di momentum 75 tahun kemerdekaan RI agar bergandengan tangan membangun NTT menuju kesejahteraan dan meningkatkan semangat literasi,” bebernya.

Pada kesempatan tersebut juga, atas nama Pemerintah Provinsi NTT, Marius memberikan apresiasi kepada Presiden Joko Widodo yang dalam dua momentum besar menggunakan pakaian adat dari NTT, yakni saat sidang tahunan MPR, Jumat, 14 Agustus 2020 memakai pakaian adat Sabu Raijua dan pada upacara Peringatan HUT ke-75 RI, Senin, 17 Agustus 2020 menggunakan pakaian adat dari TTS.

Baca juga :  Dua Hari, Gubernur NTT Pantau Kondisi Korban Bencana Badai Tropis di Sumba

“Terima kasih Presiden Jokowi yang telah memperkenalkan adat dan istiadat NTT ke panggung nasional dan internasional. Ini tentu memotivasi masyarakat NTT untuk terus menghargai dan melestarikan kekayaan intelektual warisan budaya kita. Gubernur NTT dan Wakil Gubernur NTT selalu menghimbau dan memberikan contoh agar kita senantiasa bangga memakai tenunan khas NTT,” jelas Marius.

Secara khusus, Marius juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada Dekranasda NTT di bawah kepemimpinan  Ibu Julie Sutrisno Laiskodat. Kerja keras beliau dan jajarannya, menurut dia, menyebabkan pakaian adat NTT bisa dikenal secara nasional dan di berbagai negara di dunia  termasuk dikenakan oleh Presiden Jokowi,”pungkas Marius. (ade/*)