Acara Adat Wuat Wa’i Bacabup Maria Geong Dihadiri Bupati Mabar

LABUAN BAJO, NTT PEMBARUAN.com –Acara adat wuat wa’i dari salah satu bakal calon bupati (Bacabup) pada Pilkada Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Desember 2020 mendatang, Maria Geong, berlangsung di kampung halamannya di Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (12/7/2020) malam.

Dalam Pilkada Mabar 2020 ini, Maria Geong didampingi oleh bakal calon wakil (Bacawabup) Silverius Sukur dengan tagline Paket Misi. Acara tersebut dihadiri Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch Dula,dan sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Kuwus Barat.

Seperti disaksikan media ini, Bupati Dula yang mengenakan semi jas blazer berwarna coklat tua diterima secara adat di pintu masuk rumah Gendang Ranggu, Minggu (12/7/2020) petang.

Baca juga :  Pramuka, Bentuk Generasi Muda yang Punya Daya Tahan Kuat

Penjemputan secara adat tersebut dilakukan setelah tim kesehatan desa setempat melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan pengenaan masker, sesuai standar Protokol Covid-19. Nampak antusiasme para tua adat yang mengenakan pakaian khas budaya Manggarai menyambut Bupati Dula didampingi Maria Geong yang saat ini sebagai Wakil Bupati Mabar.

Pengalungan selendang songke oleh perwakilan warga Ranggu Nova dan penyerahan sebuah Robo atau tuak curu oleh Hilarius Ngaru mewarnai acara penjemputan itu.

Reweng dami te kapu agu naka ite, ema dami bupati,” tutur tua adat Hilarius Ngaru dan Silvester Sinir mewakili para tua adat lainnya, sebagai tuturan untuk menggambarkan kebahagiaan mereka menerima kehadiran pada saat itu.

Baca juga :  Buka Diklat SDM Kepramukaan, Wabup Heri: Pramuka Salah Satu Giat Menyiapkan Kader Pemimpin
Masyarakat yang hadir dalam acara wuat wa’i  Calon Bupati Manggarai Barat, drh.Maria Geong di kampung halamannya di Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (12/7/2020) malam.

Tuak curu dan manuk kapu dalam tradisi Manggarai merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan untuk para tamu yang dengan ketulusan dan kebesarannya mau bertemu dan berada bersama dengan masyarakat setempat.

Sebelum beranjak menuju rumah gendang, disampaikan bahwa ritus adat saat itu merupakan simbol kebahagiaan serta menggambarkan ketulusan hati dari semua masyarakat.

“Di dalam kendi itu ada aren, berwarna putih. Begitu juga ayam warnanya putih, melambangkan hati yang bersih dan putih,” kata Agustinus. Usai acara penyambutan, semua menuju rumah gendang untuk mengikuti berbagai rangkaian acara adat. (LM)