PPDB Tingkat SMA/SMK di NTT Akan Dibuka Secara Online dan Offline

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tingkat SMA/SMK Tahun Ajaran (T.A) 2020/2021 pada 22 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan dibuka secara online dan offline.

“Konsep yang  kita buat, untuk PPDB online akan dibuka mulai  15 Juni 2020. Kalau dia (calon siswa baru,red) itu tidak tertampung melalui sistem online, tetapi masih mau masuk di sekolah negeri, maka bisa mendaftarkan lagi secara offline yang akan dibuka 29 Juni 2020,” jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Benyamin Lola kepada wartawan media ini di Kupang, Jumat (29/5/2020).

“Draf untuk petunjuk teknis (Juknis) PPDB-nya sudah kita siapkan, tinggal menunggu Surat Keputusan (SK) Gubernur NTT terkait daya tampung  sekolah saja.  Jadi, kuota untuk masing-masing sekolah itu harus  ditetapkan melalui SK Gubernur NTT  karena  itu menjadi dasar untuk Juknis,”kata Mantan Kadis Perpustakaan NTT itu.

Baca juga :  Terkait Penjualan Tanah Milik Pemkab Mabar, Kejati NTT Geledah Kanwil BPN NTT

Dokumen atau draf yang disiapkannya itu sudah diskusikan dengan semua pemangku kepentingan.  Draf yang disiapkannya sedikit berbeda dengan Juknis PPDB tahun sebelumnya.

Perbedaannya terkait zonasi, kalau dulunya zonasi 90 persen, tetapi sekarang menurun menjadi 50 persen.  Sedangkan, 50 persen yang lainnya itu dibagi lagi 30 persen untuk prestasi masing-masing prestasi akademik 25 persen, dan prestasi non akademik, 5 persen. Prestasi non akademik lagi dibagi 2 sasaran, yakni sasaran pertama prestasi di bidang olahraga, dan sasaran kedua, prestasi di bidang kesenian.  Kemudian, yang mengikuti orangtua, 5 persen, dan afirmasi, 15 persen.

Perbedaan lainnya, lanjut Lola, kalau dulu PPDB setelah mendaftarkan diri secara online diikuti lagi dengan verifikasi manual, tetapi sekarang penerimaan dan verifikasi secara online tanpa manual lagi.

Baca juga :  Rentangkan Sayap Organisasi, IMO-Indonesia Kukuhkan Delapan DPW

Khusus untuk PPDB secara langsung atau manual tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, dan supaya tidak terjadi penumpukan siswa maka pendaftarannya dilakukan  sistem zonasi waktu.

Artinya, kata dia, bahwa sekolah akan membagikan waktunya per wilayah, sehingga tidak terjadi penumpukan siswa dalam jumlah yang banyak. Untuk wilayah yang tinggal perbatasan, misalnya Kota Kupang dengan Kabupaten Kupang tetap mengikuti zonasi yang melampaui batas wilayah.

Ia contohkan, calon siswa dari Matani, Desa Penfui Timur, Tarus dan Manikin bisa mendaftarkan ke SMAN 9 Kupang dan SMAN 4 Kupang karena jaraknya sangat dekat dengan sekolah. (ade)