Ketua GP Ansor NTT : Gerakan HTI Menjadi Tamparan Bagi Pemerintah dan Penegak Hukum di NTT

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com-  Ketua GP Ansor NTT, Ajhar Jowe Ketu menilai, kehadiran Organisasi Terlarang Hisbuh Tahrir Indonesia (HTI) menjadi tamparan keras bagi pemerintah dan penegak hukum di Wilayah Nusa Tenggara Timur.

“Sebab ,sejak HTI dibubarkan oleh Negara secara Nasional kita menyadari bahwa mereka tidak akan melakukan gerakan apapun, tentu pikiran kita hanya sampai di situ tetapi reaksi mereka tetap melakukan berbagai aktivitas hingga melakukan siaran langsung video rapat virtual di depan Kantor Gubermur NTT,”  tulis Ajhar melalui press release yang diterima media ini, Minggu (31/5/2020).

Secara sengaja ataupun tidak sengaja pentolan HTI saudara Suryadi Koda melakukan aksi bebas menunjukan bahwa mereka itu ada di Kota Kupang.  Walaupun beberapa kali kegiatan mereka di Kupang selama Tahun 2019 terus digagalkan oleh GP Ansor NTT.  Kemarin mereka berupaya dan reaksi kembali dan semakin berani di depan publik, kata Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor NTT, Ajhar Jowe.

Menurut Ajhar, eks HTI beraktivitas di Kupang secara masif mereka melakukan gerakan konsolidasi dari rumah ke rumah. Sehingga pentolan HTI Suryadi Koda berani menunjukan sikap mencoba publik NTT, pemerintah, polisi, TNI dan Badan Intelejen Daerah.

Baca juga :  Gandeng TNI dan PT. Wartsila Indonesia, PLN Bantu Ruang Sekolah di Maumere

Melalui video itu, kata Ajhar, mereka lagi upaya ujicoba mengundang reaksi  penegak hukum, pemerintah dan warga NTT. Karena semua elemen masyarakat NTT sudah menolak kehadiran mereka dengan berbagai cara apapun, tetapi hari ini  mereka tampil dan tampilan itu di depan Kantor Gubernur NTT.

“Video itu mereka menunjukan kepada publik secara Nasional bahwa mereka masih terus hidup dan bergerak di Nusa Tenggara Timur,” jelas Ajhar.

Lebih lanjut dikatakan Ajhar, apa yang dilakukan pentolan HTI itu,  jangan salahkan mereka, yang perlu digaris bawahi adalah semua pihak lemah mengawasi kehadiran mereka di Nusa Tenggara Timur. “Mereka hanya sekelompok kecil tapi mereka mampu menggerakan berbagai aktivitas sampai menyebarkan melalui media penyebaran seperti media cetak, buletin serta melakukan video bebas. Itu mereka menganggap sudah ada kekuatan basis serta gerakan mereka di NTT, khususnya di Kota Kupang,” tandas Mantan Wartawan VN ini.

Salah satu strategi mereka, ujar Ajhar, jika mereka belum mempunyai basis, mereka diam dan tidak mau muncul di publik.  Ketika mereka sudah memiliki kekuatan atau basis maka mereka sudah berani menunjukan diri mereka dengan cara apapun.

Artinya,  hari ini Suryadi Koda (pentolan HTI) diamankan oleh polisi dan terus dilakukan proses hukum, sudah jelas pengganti Suryadi Koda sudah ada.  “Memang itu cara-cara melalui kaderisasi mereka sehingga sampai kapanpun mereka akan tetap ada di seluruh kota. Hari ini mereka sudah merelakan pentolan garis keras HTI diproses hukum, terus publik membaca bahwa Suryadi Koda diproses hukum dan selesailah gerakan mereka, maka kita tidak membaca hanya sampai di situ. Kami mau sampaikan gerakan mereka kalau kita jangan membaca secara lurus, kita akan berhenti di situ, tetapi berbagai strategi mereka sudah desain dengan berbagai cara, maka penahanan Suryadi Koda bukan menyelesaiakan HTI di NTT dan bukan ending melemahkan sistem gerakan mereka,”urainya.

Baca juga :  Tingkatkan Peran Serta , IMO-Indonesia Sampaikan Surat ke Dirjen Polpum Kemendagri RI

Tentu tidak demikian, lanjut dia, karena pergerakan mereka yang begitu masif  itu yang perlu diantisipasi secara baik oleh pihak-pihak yang berkompoten dan Badan Intelejen Daerah.

“Perjalanan mereka di NTT terus kita ikuti bersama sejak Negara merencanakan untuk membubarkan HTI, sebelum dibubarkan saat itu saudara Sait Made mengundurkan diri dari Ketua HTI NTT.  Dalam perjalanan setelah Said mundur, mandat ketua dipegang oleh Suryadi Koda hingga HTI resmi diberhentikan oleh Negara. Dengan ancaman apapun untuk mereka tentu mereka sudah mempersiapkan berbagai cara dan berbagai strategi. Ini hal yang perlu dicermati secara bersama oleh semua pihak,” kata  Ajhar dengan nada mengingatkan semua pihak.

Baca juga :  PLN Amankan Kunjungan Sehari Presiden Jokowi di Labuan Bajo

Ironisnya, akibat gerakan HTI yang terus menunjukan sikap di NTT akhirnya diberbagai medsos membuly Agama Islam dengan berbagai komentar yang tidak sehat. Sampai dengan berbagai ancaman terus beredar di semua kalangan.

“Lebih ngeri lagi di grup facebook Veki Lerik. Kita memantau berbagai komentar menunjuk sikap rasa tidak suka dengan agama sangat terlihat, caci maki dan kata-kata yang tidak pantas dilontarkan. Sayangnya ko ulahnya HTI, tapi agama diseret ke berbagai komentar. Pemuda Ansor sejauh ini pun terus memantau gerakan mereka. Tetapi kewenangan kita hanya sebatas memantau dan memberikan rekomendasi kepada pihak penegak hukum,” tutupnya. (mat/ade)