Di NTT, Insentif 9.000-an Guru Komite dan GTT Yayasan Siap Dibayar

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Sebanyak 9.000-an guru komite di sekolah negeri dan guru tidak tetap (GTT) di sekolah yayasan termasuk guru di sekolah luar biasa (SLB), siap dibayar oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K ) NTT awal bulan Juni 2020.

“Dari 11.304  guru komite di sekolah, dan GTT Yayasan termasuk guru SLB  di 22 kabupaten/kota di NTT, dari hasil verifikasi nama-nama yang dikirim ke kami hanya 9.000-an guru, dan itu yang siap dibayarkan dalam waktu dekat ini untuk tiga bulan pertama, yakni Januari, Februari dan Maret 2020,” jelas Kepala Dinas P dan K NTT, Benyamin Lola melalui Kabid Pembinaan dan Ketenagaan Dinas P dan K NTT, Adelino Soares,MPS,SP kepada media ini di Kupang, Kamis (28/5/2020).

Kata Adelino, insentif yang diberikan merupakan honor tambahan dari Pemprov NTT bagi guru-guru komite di sekolah negeri dan sekolah swasta yang upahnya di bawah Rp 1,4 juta/bulan atau di bawah upah minimum provinsi (UMP) Rp 1,7 juta/bulan.

Baca juga :  Gubernur NTT Minta 11 Kepala Daerah dan BOPLBF Bangun Cara Berpikir Pariwisata Integral

Karena itu, bagi guru-guru komite di sekolah negeri dan guru-guru swasta di sekolah yayasan yang sudah menerima gaji sebesar Rp 1,7 juta/bulan ke atas tidak berhak mendapatkan honor tambahan dari Pemprov NTT.

Honor tambahan yang diberikan oleh Pemprov NTT itu masing-masing, untuk guru komite yang mengajar di sekolah negeri ( SMA/SMK) akan mendapat honor tambahan dari Pemprov NTT sebesar Rp 400.000/bulan, dan GTT di sekolah swasta milik yayasan termasuk SLB akan diberikan honor tambahan sebesar Rp 300.000/bulan.

Jika yang bersangkutan mengajar lebih dari satu sekolah, ujar dia, hitungannya untuk pembayaran honor tambahan dari Pemprov NTT tetap satu sekolah.  “SK-nya sudah ditandatangani Kepala Dinas P dan K NTT, Benyamin Lola, namun setelah kita melakukan verifikasi kembali ada laporan bahwa ada beberapa guru yang memang mengajar di 2 sekolah. Sementara data base yang kami pegang menggunakan data tahun lalu, sehingga perlu diverifikasi kembali dan membatalkan pembukaan rekening di Bank NTT,” ujarnya.

Baca juga :  Terkait Penurunan Tarif Listrik Golongan Tegangan Rendah, PLN Siap Jalankan Keputusan Menteri ESDM

Adelino berjanji,  kalau semuanya sudah tuntas, maka dalam minggu ini atau paling lambat awal Juni 2020  uangnya sudah bisa dicairkan ke rekening guru-guru  melalui Bank NTT di daerah masing-masing.

Terhadap pengaduan dan keluhan sejumlah guru komite dan GTT Yayasan  yang mengeluh gajinya  selama ini hanya sebesar Rp 1,4 juta/bulan, sementara yang bersangkutan sudah lama mengajar di sekolah itu, tetapi namanya belum dimasuk dalam SK penerimaan honor tambahan dari Pemprov NTT, pihaknya meminta dari masing-masing satuan pendidikan atau kepala sekolah untuk menyampaikan laporan tertulis yang menerangkan bahwa guru yang bersangkutan sudah mengapdi minimal 2 tahun di sekolahnya dan honornya di bawah Rp 1,4 juta/bulan.

“Jadi, pengaduan guru-guru itu harus dibuktikan dengan surat rekomendasi atau surat keterangan dari kepala sekolah setempat untuk mendukung bahwa guru yang bersangkutan benar sudah mengapdi  minimal 2 tahun di sekolah itu. Sebab, tanpa rekomendasi kepala sekolah, kami tidak bisa melayani,” ujar dia.

Molornya pembayaran insentif guru komite dan GTT Yayasan  selama ini, menurut dia, karena masalah datanya. “Idealnya, setiap bulan kepala sekolah memberikan laporan secara rutin kepada kami, sehingga kami bisa mengetahui perkembangan guru-guru di lapangan apakah dia masih aktif mengajar atau sudah keluar,” tandas Adelino.

Baca juga :  Samuel Bia Hilang Saat Mencari Ikan di Pantai Boking

Kata Adelino, pernah terjadi tahun lalu, terjadi kesamaan namanya tetapi dua rekening, sehingga salah satunya dikembalikan ke khas negara.  “Pernah juga terjadi, namanya sama, tetapi sekolah mengajarnya berbeda, kami pikir yang bersangkutan menerima dobel, sehingga satunya di cut. Ternyata setelah uangnya dicairkan, nama yang sama itu adalah nama  2 orang guru, sehingga dicairkan ulang lagi untuk satu orang lagi,” urainya. (ade)