Makna Puasa dan Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19, Melatih Diri untuk Bersabar

MBAY, NTT PEMBARUAN.com- Sekretaris Umum Pengurus Daerah Muhadiyah Kabupaten Nagekeo yang juga Sekretaris Umum Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Nagekeo, Ustaz Hasbil Rena mengatakan, melatih diri untuk bersabar, salah satu makna dari puasa dan Idul Fitri.

“Pelaksanaan puasa dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini bersamaan dengan pandemi Covid– 19, sehingga memaksa kita untuk selalu di rumah dan berjaga jarak, maka ada hikmah yang dapat dipetik,” kata Ustadz Hasbil Rena kepada media ini di Mbay, Sabtu (23/5/2020).

Hikmah yang dapat dipetik itu, pertama, semua umat Islam yang tidak berhalangan (kecuali perempuan yang mengalami masa haid) dapat menjalankan amalan- amalan romadhon dengan sempurna, seperti tarwih. Sebab, tarwih dilaksanakan di rumah, sehingga apabila pada tahun -tahun sebelumnya para lansia beralasan tidak bisa tarwih ke masjid karena jauh, maka tahun ini sudah harus melaksanakannya karena tarwih di rumah saja.

Baca juga :  Tim Gugus Tugas Covid-19 Nagekeo Jemput Dua Warganya di Maumere

Kedua, memberikan pelajaran penting kepada para kepala keluarga muslim, bahwa pengetahuan agama harus dimilikinya terutama yang berkaitan dengan imam sholat, sehingga apabila menghadapi kondisi seperti saat ini, semua kepala keluarga bisa menjadi imam.

Ketiga, karena protokol Covid- 19, harus di rumah saja, maka puasa ramadhan tahun ini adalah puasa yang paling syarat dengan pahala yang berlipat ganda karena semua amalan ramadhan hendaknya dapat dilaksanakan secara sempurna karena tidak adanya kesibukan di luar rumah.

Ustadz Hasbil Rena juga menjelaskan, bahwa ibadah puasa merupakan salah satu rukun Islam. Puasa dalam Bahasa Arab Shaum, artinya menahan.  Dengan demikian, puasa berarti menahan segala yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan ramadhan selama 29 -30 hari, menurut Ustadz Hasbil,  atas perintah Allah swt, sesuai firmannya dalam al qur’an surah al baqarah ayat 183 yang artinya : “hai orang orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.”

Baca juga :  Sawah dan Permukiman Warga Desa Tonggurambang Terendam Banjir

Karena itu, lanjut Ustadz Hasbil,  makna ibadah puasa diantaranya, pertama,  mensucikan jiwa, dimana setiap pribadi dalam menjalani kehidupan terkadang ada penyimpangan yang dilakukannya, maka dengan puasa diharapkan dapat membersihkan jiwanya.

Kedua,  melatih untuk bersabar, dimana setiap pribadi tentu memiliki ambisi, sehingga terkadang tidak dapat mengendalikan diri dalam upaya menggapai obsesi,baik dalam politik, dagang maupun aspek lain. Kehadiran puasa dengan arti menahan diharapkan dapat melatih untuk bersabar.

Ketiga, untuk menundukkan hawa nafsu, dimana nafsu merupakan salah fitrah manusia,namun kadang tidak mampu manusia mengendalikkannya, sehingga dengan puasa diharapkan dapat dikendalikan.

Keempat,  ibadah puasa sebagai bulan pendidikan, dimana selama sebulan telah dididik untuk meningkatkan amalan seperti sholat berjamaah, membaca quran, sholat malam, bersedeqah, tidak berbicara yang sia– sia (seperti fitnah,ghibah,adu domba,hoax dll),maka diharapkan tradisi ini dapat dipertahankan untuk bulan bulan selanjutnya.

Baca juga :  Di Nagekeo, P2T2 Tambah 3 Orang, Totalnya Menjadi 1.172 Orang

Ia mengatakan, ibadah puasa yang dilakukan selama 29 atau 30 hari, akan dirayakan pada tanggal 1 syawal, dan Idul Fitri diartikan sebagai hari kemenangan atau perayaan kemenangan setelah berhasil menahan (puasa) dengan segala makna yang terdapat didalamnya.

“Karena itu, dalam merayakan kemenangan, sejatinya kita hidupkan kedamaian dengan semangat silaturahim, serta saling mendoakan agar Allah swt senantiasa menerima amal -amal kita dan memberkahi serta meridhoi kita, sehingga menjadi insan yang muttaqiin (bertaqwa),” tutupnya. (mat)