Terkait Warga NTT yang Masih Tertahan di Sape, Nuka : “Kita Masih Memberikan Toleransi”

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Sekretaris Bidang Pengendalian Pintu Masuk Keluar Gugus Tugas Percepatanan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi NTT yang juga Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka, S.T, M.M menegaskan, kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT di bidang perhubungan tidak berubah.

Terkait video yang viral di media social warga masyarakat NTT yang masih tertahan di Sape Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), kata Isyak Nuka, semuanya disebabkan oleh ketidaktahuan mereka saja.

“Mungkin 1-2 hari yang menjadi viral di media, khususnya di pintu masuk sampai Labuan Bajo dan Lembor – Waingapu masih ada, semua itu lebih banyak dikarenakan ketidaktahuan dari para saudara kita terutama anak-anak mahasiswa,”  kata Isyak Nuka kepada wartawan di Kupang, Senin (20/4/2020).

Sejumlah warga masyarakat yang berada di luar NTT, lanjut dia, tidak mendapatkan informasi adanya pelarangan pelayaran. “Nah, terhadap mereka ini kita masih memberikan toleransi. Semata-mata alasannya kemanusiaan. Sekali lagi saya tekankan karena ketidaktahuan mereka terhadap informasi adanya penutupan,” tandasnya.

Baca juga :  Optimalkan Pool Test, Bandara dan Pelabuhan di NTT Beroperasi Normal

“Dari waktu ke waktu kita sosialisasikan terutama kepada rekan kerja kita perhubungan baik Kadis Perhubungan di Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan di Jawa Timur,” tukasnya.

Kebijakan yang diambil Pemprov NTT, kata Nuka, sesungguhnya hanya untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Provinsi NTT. “Kita di NTT mengambil kebijakan ini dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 secara lebih meluas dengan melarang penumpang untuk tidak melakukan perjalanan atau bepergian,” ujar dia.

Dia berharap, kebijakan yang diambil Pemprov NTT ini dapat dimengerti dan dipahami oleh masyarakat NTT. “Sekali lagi semata- mata untuk itu. Untuk diketahui oleh rekan-rekan media, virus ini belum ada obatnya. Karena itu, langkah antisipatif kita satu-satunya adalah memutus mata rantai. Memutus mata rantai menurut pemahaman kami adalah meniadakan sama sekali transportasi. Ini karena selama masih ada pergerakan manusia dalam jumlah yang banyak seperti itu maka angkanya akan terus meningkat. Beri kita ruang. Penutupan atau pelarangan semata- mata untuk memberi ruang kepada kita yang karena

Baca juga :  Usulan Pendirian SMKN Dari Masyarakat Wewa Sementara Dalam Kajian Dinas P dan K NTT

keterbatasan sarana prasarana, tenaga, terutama tenaga kesehatan, para relawan kita agar juga mempersiapkan tempat-tempat karantina terpusat, mempersiakan peralatan mereka, mempersiapkan mereka melatih tenaga-tenaga kesehatan kita. Untuk itu, kita mohon pengertian dari sanak saudara kita. Kita berdoa supaya bencana ini segera selesai sehingga tidak perlu kita tutup sampai tanggal 30 Mei 2020,” urainya.

“Kalau di bandara belum kita tutup, tetapi yang terjadi adalah memang pengurangan frekuensi penerbangan. Itu juga karena air lines sendiri yang mengambil kebijakan demikian,” tandas Isyak Nuka.

Dia mengaku, di dalam wilayah NTT umumnya masih dilayani oleh wings air dan Nam air. “Kalau yang keluar masih ada garuda, lion air, batik air dan city link. Namun itu pun sudah banyak yang berkurang frekwensi penerbangannya. Kedepan kita akan meminta kepada pengelola bandara dalam hal ini pihak Angkasa Pura 1 mengurangi jam operasionalnya, kalau yang biasanya dari pagi sampai malam. Maka berkaitan dengan pencegahan Covid-19 ini, diminta supaya jam operasional mereka dikurangi sampai pukul 18.00 wita atau jam 6 sore saja,” jelas Mantan Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTT ini. (ade/*)