Pra Musrenbang Tingkat NTT, Gubernur VBL : Kemiskinan Masih Jadi Isu yang Memalukan

KUPANG, NTT PEMBARUAN. com- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menegaskan, kemiskinan yang ada di Provinsi NTT hingga kini masih menjadi isu yang memalukan.

“Isu-isu yang memalukan Provinsi NTT antara lain, tingkat kemiskinan 20,62 persen, rata-rata lama sekolah 7,3 tahun, stunting 30,80 persen dan insfratruktur yang masih buruk,” kata Asisten Administrasi Pemerintahan Sekda Provinsi NTT, Drs. Jamaludin Ahmad, M.M saat membuka Pra Musrenbang Tingkat NTT di Aula Sol Therik Kantor Bappelitbangda NTT, Jalan Polisi Militer Kupang, Jumat (17/4/2020).

“Pra Musrenbang yang kita laksanakan kali ini, berbeda dari biasanya. Kita berada pada situasi dimana pandemic Covid-19 masih membayangi, sehingga pertemuan kali ini dan pada seluruh proses pembahasan akan dilakukan secara daring melalui media elektronik, tidak bertatap muka secara langsung,”kata Jamaludin.

Salah satu tahapan dalam penyusunan RKPD NTT Tahun 2021, kata  dia, diawali dengan pembahasan untuk sinkronisasi rencana kerja perangkat daerah lingkup pemerintah provinsi dengan usulan kabupaten/kota yang pada akhirnya akan menyempurnakan RKPD Provinsi NTT.

Baca juga :  Pemprov NTT Tetapkan Tarif Swab Rp 900.000

Melalui forum ini juga disinkronkan indikator dan target provinsi dan kabupaten/kota agar saling mendukung dalam pencapaian indikator dan target yang telah ditetapkan, khususnya pada setiap prioritas daerah Tahun 2021.

Semuanya ini, tambahnya lagi, untuk mewujudkan amanat RPJMD Provinsi NTT yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah Provinsi NTT Nomor 4 Tahun 2019 yang mewujudkan “NTT Bangkit Mewujudkan Masyarakat Sejahtera Dalam Bingkai NKRI”.

Sementara itu, Kepala Bappelitbangda Provinsi NTT, Lecky F. Koli, S.TP dalam materinya memaparkan, meski dihantui berbagai isu yang memalukan (kemiskinan, stunting dan infrastur yang buruk), tetapi ada 10 isu strategis yakni memilki lebih dari 400 atraksi wisata yang terhubung dari ujung barat Pulau Flores hingga ke perbatasan Negara Republik Democratic Timor Leste (RDTL).

Baca juga :  Pertemuan Persiapan Expo Anak Negeri 2020, Wagub NTT Ingin Penyerapan Anggaran Dipercepat

Luas lahan basah pertanian lebih dari 127.000 hektar dengan 37 daerah irigasi (DI ), luas dan produksi komoditas perkebunan yang merupakan 10 besar nasional, lahan belum digarap lebih dari 1,5 juta hektar, kualitas rumput laut dan garam industri terbaik di Indonesia, dan memiliki potensi pengembangan marungga dengan kualitas terbaik.

Sementara potensi pendapatan asli daerah dan APBD Provinsi NTT lebih dari Rp 6,5 triliun yang terus meningkat setiap tahun, konektivitas transportasi darat, laut dan udara telah terhubung ke seluruh wilayah dan alokasi dana desa mencapai lebih dari Rp 3 triliun di Tahun 2020 ini.

Sasaran pembangunan Tahun 2020 hingga 2024,  kata Lecky, meningkatnya kesejahteraan rakyat dan kualitas manusia, menurunnya tingkat kemiskinan dan pengangguran, berkurangnya kesenjangan pendapatan dan wilayah, serta terjaganya keberlanjutan lingkungan dan stabilitas ekonomi.

Sedangkan prioritas pembangunan wilayah di NTT Tahun 2020 hingga 2024 yang akan datang adalah mendorong percepatan pembangunan daerah berbasis hilirisasi pertanian, perikanan, pertambangan, dan pariwisata dengan memperhatikan lokasi prioritas berdasarkan koridor pertumbuhan dan pemerataan.

Baca juga :  Update 25 September 2020, NTT Tambah Lima Positif Covid-19

“Di tengah pandemik Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 ini, kita harus mulai terbiasa dengan menggunakan model daring, sehingga tidak hanya menghindari kerumunan atau menciptakan kerumunan, tetapi lebih dari itu ada penghematan anggaran. Puncak kegiatan Pra Musrenbang ini, akan dilanjutkan dengan pelaksanaan Musrenbang Provinsi NTT yang dijadwalkan Selasa,21 April 2020,”  kata Lecky. (ade/*)