Tahun Ini, Bendung Wae Lombur Dilakukan Pemeliharaan

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Dipastikan tahun ini, Bendung Wae Lombur, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan pemeliharaan.

“Kita sudah anggarkan tahun ini untuk dilakukan pemeliharaan Bendung Wae Lombur, terutama di lokasi yang mengalami kerusakan berat akibat bencana alam Februari 2020 lalu termasuk pemeliharaan jaringan utama,”kata Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II) Provinsi NTT, Agus Sosiawan melalui Kepala Satuan Kerja Operasional Pemeliharaan (Kasatker OP) BWS NT II Provinsi NTT, Bernadeta Tea kepada media ini via WhatsApp, Jumat (3/4/2020).

Saat ini, pihaknya sedang melakukan tender untuk pekerjaan pemeliharaan Bendung Wae Lombur di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, dan sesuai jadwal, penandatanganan kontraknya akan dilaksanakan pada tanggal 30 April 2020 dengan sumber anggarannya dari APBN Murni 2020.

Baca juga :  Presiden Jokowi Komit Penataan Labuan Bajo Tuntas 2021
Produksi Padi Menurun
PEMASANGAN PIPA – Untuk bisa mengairi kembali ke persawahan masyarakat dilakukan penanganan darurat dengan cara mengambil air menggunakan pipa dari sumber air Bendung Wae Lombur menuju persawahan para petani di tiga desa, yaitu, Desa Pong Majok, Desa Liang Sola, dan Desa Daleng, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat beberapa waktu lalu.

Secara terpisah Camat Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Pius Baut yang dihubungi via telepon selulernya, Jumat (3/4/2020) mengakui akibat kerusakan Bendung Wae Lombur, produksi tanaman padi di tiga desa di wilayahnya tahun ini menurun.

Tiga desa yang berdampak langsung pada lahan persawahannya akibat kerusakan Bendung Wae Lombur saat itu adalah Desa Pong Majok, Desa Liang Sola dan Desa Daleng dengan total luas areal persawahannya 300-an hektar.

Dijelaskannya, saluran induk Bendung Wae Lombur mengalami kerusakan parah atau ambruk sepanjang lebih kurang 15 meter akibat longsor saat terjadi hujan lebat awal Februari 2020 lalu.

Akibatnya,  lahan persawahan seluas 300-hektar milik masyarakat di tiga desa tersebut yang merupakan sumber utama airnya dari Bendung Wae Lombur berhenti total selama kurang lebih satu bulan.

Baca juga :  Presiden Jokowi Kembali Kunker ke Labuan Bajo

“Untuk bisa mengairi kembali ke persawahan masyarakat, kita melakukan penanganan secara darurat dengan cara mengambil air menggunakan pipa dari sumber air yang sama menuju persawahan, sehingga para petani masih bisa memanen padinya  tahun ini dengan jumlah produksinya menurun dibanding tahun sebelumnya,” urai dia.

Sumber air dari  Bendung Wae Lombur, menurut Pius, selain untuk mengairi areal persawahan para petani juga sebagai sumber air untuk kepentingan holtikultura, air minum bagi ternak, dan mencuci pakaian.

Karena itu, ia berharap kepada Pemerintah Pusat (Pempus) melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II) Provinsi NTT untuk segera melakukan rehablitasi total mulai dari bangunan utama Bendung Wae Lombur atau titik kerusakan yang paling parah sampai pada jaringan irigasi dan pintu-pintu air karena sebagian besar sudah mengalami kerusakan akibat termakan usia.

Baca juga :  Pemulihan Ekonomi Akibat Dampak Covid 19, Gubernur NTT Minta Para Bupati Siapkan Langkah Strategis

Sepengetahuan dia, usia bangunan Bendung Wae Lombur lebih kurang mencapai 30 tahun, dan sampai sekarang belum pernah dilakukan pemeliharaan rutin.

“Mudah—mudahan dengan kerusakan ini bisa mendapat perhatian dari pemerintah untuk ditangani segera dalam waktu dekat ini,  sehingga sumber air bagi para petani sawah di Lembor tetap terjaga,” harapnya. (ade)