Bappelitbangda Nagekeo dan Tim ITCCF Solo Telusuri Pantai Utara Sebagai Destinasi Wisata

SABTU, 14 Maret 2020, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda Kabupaten Nagekeo, Wolfgang Lena bersama Tim dari Lembaga Indonesia Tourism Creative City Forum (ITCCF) Solo Surakarta sekaligus sebagai nara sumber (expert responden) melakukan penelusuran sepanjang  Pantai Utara sebagai daerah destinasi wisata unggulan kabupaten itu ke depan.

Tim ini berangkat dari Nangadhero dan kembali melalui muara sungai Aesesa. Di Muara Sungai Aesesa bercabang 3 sebagai akibat berpindah-pindahnya Sungai Aesesa. Perjalanan dari muara sungai sampai ke ujung jalan tani diperkirakan sekitar 1 km.

Kondisi jalan setapak sangat becek dan berlumpur sebagai akibat dari limpasan air sungai Aesesa. Luapan sungai Aesesa juga melintasi Kampung Nila Desa Mbay 2 serta wilayah Desa Tonggurambang serta sawah penduduk dan kebun ladang mereka. Tim terpadu lintas sektor dibawa koordinasi Asisten II  (Bappelitbangda, PUPR, Badan Penanggulangan  Bencana Daerah (BPBD) , Dinas Lingkungan Hidup) .

Baca juga :  Terkonfirmasi Covid-19, Satu Paslon Bupati dan Wabup Ngada Tertunda Pemeriksaan Narkobanya

Pantai Utara Nagekeo berbatasan langsung dengan Desa Aeramo, Nangadhero, Marapokot, dan Tonggurambang yang sangat indah dan menarik.  Selain hutan mangrove yang indah dan lestari, di dalam kawasan hutan mangrove terdapat sumber mata air panas Puta Marapokot, dan beberapa sumber mata air panas juga di Desa Aeramo, Nangadhero, dan Tonggurambang.

Sumber air panas Puta dan beberapa sumber mata air panas lainnya di Aeramo, Rendu Teno, dan Pajoreja Mauponggo telah diteliti oleh Badan Geofisika dan Geologi Bandung bekerjasama dengan Bappelitbangda Nagekeo.

Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do dalam meeting dengan tim peneliti sebelumnya, meminta untuk memberi rekomendasi lebih mendalan tentang bagaimana memanfaatkan sumber air panas Puta dan beberapa lokasi lainnya di Nagekeo untuk pengembangan permandian masyarakat dan potensi panas bumi termasuk digunakan untuk proses pengeringan (drier) untuk padi, ikan, atau chips kelapa serta sumber ilmu pengetahuan untuk anak-anak  sekolah dan masyarakat luas.

Baca juga :  Gubernur NTT Dampingi Menteri Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Kupang

Bappelitbangda Nagekeo secara lintas sektor  telah melakukan pendalamaan melalui penelusuran beberapa potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata.

Pantai Pasir Putih yang terbentang dari Aeramo, Nangadhero, Marapokot  sampai Tonggurambang telah rameai dikunjungi masyarakat lokal selama lebih dari 10 tahun sebagai tempat permandian dan rekreasi. Namun lokasi ini tidak memiliki fasilitas penunjang yang layak serta tidak ada aturan bagaimana mengelola potensi yang indah ini.

Pulau Pasir Ri’i Ta’a, Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo,Provinsi Nusa Tenggara Timur (Foto : Muhamad Dedi Ingga/NTT PEMBARUAN.com)

Apalagi dengan adanya potensi Pulau Pasir Putih Ri’i Ta’a, Desa Tonggurambang yang sangat indah dan spesifik serta Nanga Nage, sebuah kali yang menghubung dua desa dengan  2 muara, yaitu Barat dengan Desa Tonggurambang dan Timur dengan Desa Marapokot.

Baca juga :  Dinkes Mabar dan BOP-LBF Gelar Pelatihan Makanan Olahan Siap Saji

Kali Nanga Nage memiliki kedalam dan cukup lebar, yang memungkinkan perahu motor dapat melintasi diantara hutan bakau dari Desa Tonggurambang di Gerumoreng sampai di jalan masuk Pelabuhan Marapokot.

Wisata Pantai Pasir Putih Aeramo, Nangadhero, Marapokot, dan Tonggurambang dapat dipadukan dengan wisata bakau, wisata air panas, wisata Pasir Putih Ri’i Ta’a  secara terpadu ke Pulau Kinde, Kota Jogo di bagian timur dan 17 Pulau Riung di bagian barat.Untuk mengangkat potensi pariwisata terpadu diperlukan sebuah master plan sebagai petunjuk arah. (Muhamad Dedi Ingga)

Komentar