Wabup Jaghur Sebut Enam Masalah Utama Pembangunan Pertanian dan Peternakan di Matim

BORONG, NTTPEMBARUAN.com – Wakil Bupati Manggarai Timur, Drs. Jaghur Stefanus menyebutkan ada enam masalah utama dalam pembangunan pertanian dan peternakan di wilayah kerjanya.

Enam masalah itu disampaikannya saat membuka rapat koordinasi ( Rakor) pembangunan pertanian, peternakan dan ketahanan pangan Tahun 2020 yang digelar  Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai Timur di Aula Kevikepan Borong selama 2 hari, terhitung sejak 11—12 Maret 2020. Kegiatan ini juga disatukan dengan peringatan hari kopi nasional yang jatuh pada tanggal 11 Maret setiap tahunnya.

Wabub  Matim, Drs. Jaghur Stefanus dalam sambutannya menjelaskan, pembangunan sektor pertanian di Manggarai Timur memiliki peran strategis yang digambar melalui kontribusi yang nyata dalam penyediaan bahan pangan penyerapan tenaga kerja dan sumber pendapatan serta pelestarian lingkungan melalui praktek usaha tani yang ramah lingkungan.

Kata Jaghur, upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Manggarai Timur dapat tercapai melalui peningkatan produksi dan produktivitas komoditi pertanian, seperti komoditi ketahanan pangan hortikultura, perkebunan, peternakan, namun pada kenyataannya produktivitas komoditas pertanian masih berada di bawah standar nasional.

Di hadapan para peserta Rakor, Wabup Jaghur menyebutkan enam masalah utama dalam pembangunan pertanian dan peternakan di Kabupaten Manggarai Timur, antara lain, pertama, rendahnya  produktivitas hasil pertanian persatuan luas. Kedua, rendahnya kualitas mutu hasil pertanian dan peternakan. Ketiga, persediaan plan ternak tidak kontinyu sepanjang tahun. Keempat, sulit mendapatkan hijauan yang berkualitas, terutama pada musim kemarau.

Baca juga :  Gubernur NTT Tekankan Pada Kebersihan Kantor

Kelima, pola konsumsi pangan yang beragam hal ini terjadi karena berbagai kendala yang dihadapi antara lain ketersediaan air dan lahan semakin berkurang. Penurunan kuantitas dan kualitas sumberdaya lahan pertanian, terjadinya alih fungsi lahan fungsional distribusi pupuk dan benih yang tidak tepat waktu ,terbatasnya jumlah penyuluh pengamat organisme pengganggu tanaman pengawas benih tanaman dan petugas kesehatan hewan. Keenam, rendahnya minat generasi muda pada bidang pertanian.

“Memang zaman sekarang atau yang biasa disebut zaman now , anak- anak muda kita sudah tidak tahu lagi dengan kerja pertanian. Padahal dia anak petani, tetapi dia tidak tahu kerja sebagai seorang petani yang baik. Anak-anak kita sekarang ada yang tamatan sarjana peternakan, tetapi tidak memberikan contoh ternak yang baik kepada masyarakat, malah dia angkat map untuk melamar pekerjaan. Harapannya, anak-anak kita yang tamat sarjana peternakan agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan bisa dibagi kepada petani-petani ternak pengetahuan yang dia miliki,”ungkap Jaghur.

Baca juga :  56 KK di Stasi St. Kristoforus Matani Terima Bantuan Sembako dari Keluarga Dan Markus

Kondisi tersebut lanjut Jaghur, dapat menyebabkan terjadinya penurunan produksi dan kualitas tanaman pangan yang bisa berdampak kepada kondisi rawan pangan.

“Saya minta kepada semua pimpinan OPD, terutama OPD lingkup pertanian, peternakan, serta ketahanan pangan dan perikanan juga petugas lapangan untuk selalu mengambil langkah strategis dan operasional untuk mengantisipasi masalah yang terjadi,” pintanya.

Ia juga meminta, untuk  tingkatkan koordinasi dengan komisi pengawasan peternakan, pengawas peredaran pupuk dengan produsen distributor dan pengecer pupuk. Mengoptimalkan fungsi balai penyuluhan kecamatan, pemberdayaan Gapoktan dan kelompok tani yang terus menggalakan sosialisasi KUR kerjasama dengan lembaga perbankan.

“Bagi petugas pengamat hama agar aktif melakukan deteksi dini terhadap timbulnya hama dan penyakit tanaman. Setiap PPL harus mengembangkan deplot pertanian organik di wilayah kerjanya masing-masing,” imbuhnya.

Sampai saat ini, kata Jaghur, kehadiran PPL di tengah masyarakat belum memberikan hasil yang maksimal dan  belum berbuat banyak. PPL harus membuat deplot untuk menjadi contoh kepada masyarakat yang ada di sekitarnya.

Baca juga :  Wagub NTT Kembali Mengunjungi Para Korban Bencana Badai Tropis di Lembata

Melalui Rakor ini, ia minta kepada PPL kalau bisa setelah kegiatan ini  bisa membuat deplot yang hasilnya ditunjukkan kepada masyarakat.

Turut hadir dalam kesempatan itu, Anggota DPR RI dari Komisi IV Fraksi NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat, Anggota DPRD Matim, Wakil Ketua PKK Matim , Ny. Aleksandrina Anggal, Direktur Pembiayaan Pada Dirjen PSP, Lukman Irwan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai Timur, Jhohanes Sentis, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur,  Maksimus Mujur Nohos,  serta seluruh Pegawai Penyuluhan Lapangan (PPL). (edi)

Komentar