In Memoriam Maestro Penenun Kain Adat Mbay

PENENUN  ternama kain adat Mbay,  mama Maimuna Mau (66) tutup usia. Dia adalah seorang maestro penenun kain adat Mbay (Dhowik Bago) tutup usia di umur 66 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 7 Maret 2020.

Mama Maimuna Mau adalah salah satu aset daerah di bidang budaya, terutama soal keahliannya dalam bidang menenun kain adat Mbay. Karena kehebatannya itulah, maka almarhumah cukup terkenal seantero Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Ngada yang telah mempromosikan daerah itu dengan tenunan adatnya.

 Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do  saat melayat  almarhumah  mama Maimuna Mau di rumah duka, Sabtu (7/3/2020) mengaku, kalau almarhumah  adalah salah satu teman sekolahnya saat masih kecil.  “Kita kehilangan  salah satu generasi penenun kain tenun Mbay, khususnya motif daerah Bago, salah seorang maestro penenun kain adat Mbay (motif Dhowik Bago).  Kita tidak melihat lagi generasi 2000- an sampai sekarang yang mempunyai minat pada pengembangan Dhowik Bago, seperti  selendang, selempang dan sejenisnya. Kita membutuhkan penenun baru Dhowik Mbay yang mampu membawa produk Mbay ke pasar modern,”kenang Bupati Don Bosco.

Baca juga :  Gubernur NTT Minta TNI Terlibat Dalam Memajukan Ekonomi Rakyat
Inilah hasil karya almarhumah mama Maimuna Mau semasih hidup. (Foto : Muhamad Dedi Ingga/NTT PEMBARUAN.com)

Ada tiga program yang menjadi target Pemerintah Kabupaten Nagekeo kedepannya,  khususnya produksi tenun ikat adalah, pertama, dhowik premium adalah dhowik yang asli sesuai dengan apa yang telah diwariskan. Kedua, dhowik segmen tebal adalah dhowik yang semi modern sesuai dengan permintaan pasar modern. Ketiga, dhowik yang dalam bentuk lebih kecil atau lebih simpel yang bisa digunakan ketika menonton tinju sebagai selendang atau  pengikat kepala.

Sampai sekarang, menurut dia, pernak pernik sovenir sampai ke boneka dan lain- lain. Tantangan buat generasi muda untuk memasukkan motif Dhowik Mbay  dalam berbagai bentuk sesuai dengan permintaan pasar.

Mama Maimuna Mau saat menenun kain adat Mbay (Dhowik Bago) semasih hidup. (Foto : Muhamad Dedi Ingga/NTT PEMBARUAN.com)

Menurut dia, Koperasi dan Perindustrian (Koperindag) siap membeli dan mendampingi  kelompok -kelompok penenun, khususnya generasi milenial yang memberdayakan kain tenun Mbay, agar dapat menjadi nilai ekonomi yang mampu menopang perekonomian masyarakat kedepannya. “Sekarang, kita ditantang BOP Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat untuk mempersiapkan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) mengisi pasar. Selain produk budaya, seperti tenunan Mbay,  daging domba muda juga bisa masuk pasar internasional,” tutup Bupati Don Bosco. (Muhamad Dedi Ingga)

Komentar