KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Akibat curah hujan tidak menentu tahun ini mengakibatkan 30 persen lahan pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT) diprediksi mengalami gagal panen, terutama padi dan jagung.

“Berdasarkan data yang kami terima bulan Januari 2020 dari semua kabupaten di NTT baru 70 persen lahan pertanian yang tertanam, sedangkan 30 persennya belum tertanam karena curah hujan tidak menentu,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Johanes Oktovianus,M.M kepada media ini di Kupang, Selasa (18/2/2020).

Kata Johanes, walaupun tidak ada elnino dan lamina, tetapi gara-gara adanya tekanan rendah di Sumatra Barat membawa awan ikut lari menuju ke sana, sehingga menyebabkan hujan tidak turun.

Baca juga :  Gubernur VBL : Disiplin Adalah Kunci Meraih Kesuksesan

Kalau hujan tidak turun, maka sumber air  di permukaan juga sedikit, sehingga banyak petani tidak menanam padi dan jagung. “Sedangkan angka-angkanya kita terus melakukan update setiap saat. Berdasarkan catatan kami bulan Januari 2020, dari target 100 persen lahan pertanian yang ditanam, namun realisasinya baru mencapai 70 persen dan 30 persen lainnya tidak tertanam  karena curah hujannya tidak merata,” jelas dia.

Selain curah hujan tidak merata, ada beberapa kabupaten juga yang tanaman jagungnya terserang hama ulat gerayak di Kabupaten Nagekeo,  pesisir utara, Kabupaten Sikka, Lembata dan yang paling besar terdapat di Flores Timur (Flotim).

Terhadap masalah itu, pihaknya sudah melakukan pengendalian dengan berbagai cara melibatkan semua masyarakat dan anak-anak sekolah,menggunakan cara adat setempat dan juga cara kimiawi.

Baca juga :  Percepat Pertumbuhan Ekonomi, Kemkominfo RI Selenggarakan Pertunjukan Virtual di Ngada

Agar tidak terjadi kekurangan pangan di NTT tahun ini ada beberapa hal yang akan dilakukannya nanti, pertama, melakukan pendataan untuk memproyeksi berapa produksi yang dihasilkan tahun ini dan bisa memenuhi kebutuhan berapa lama.

Kedua, membuka ruang semua kabupaten di NTT yang gagal tanam akibat kekeringan dan  ketika mereka mau menanam lagi bisa mengajukan permohonan lewat dana cadangan daerah.

“Kita akan memfasilitasi untuk memanfaatkan curah hujan yang masih tersisa, dan sebagian besar yang sudah mengajukan bantuan bibit adalah kacang hijau. Sedangkan bibit lainnya belum ada permohonan,” tukasnya. (ade)