Biro Humas Pemprov NTT Terbuka untuk Semua Media

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com-  Biro Humas dan Protokoler Sekretariat Daerah  Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terbuka untuk membangun persahabatan semua media tanpa terkecuali.

Hal itu disampaikan Kasubag Pers Biro Humas dan Protokoler Setda NTT, Very Guru mewakili Karo Humas dan Protokoler Setda NTT dalam pesan Natal dan Tahun Baru Bersama Wartawan Lintas Media NTT yang digelar di Lantai III  Aula Universitas Pendidikan Guru (UPG) 45 NTT, Jumat (17/1/2020) malam.

“Kita membutuhkan suatu pola kerja dengan semua media tanpa terkecuali yang bersifat profesional, jujur, transparan. Karena itu, kita juga membutuhkan pembaca, pendengar, dan penonton yang cerdas. Jadi, kita tidak bisa hanya mengharapkan jurnalis yang cerdas, Humas yang cerdas, tetapi kita juga membutuhkan masyarakat yang cerdas,”kata Mantan Wartawan  Mingguan Talenta ini.

Baca juga :  Pemprov NTT Fokus Tangani DBD dan Masalah Sampah

Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang gemar membaca. Karena itu, gerakan literasi terus didorong, karena  dengan membaca dapat menyegarkan otak.  Orang kalau tidak membaca tidak banyak yang dia tahu.   Membaca apa saja, baik dari  media cetak, media online, dan buku-buku apa saja.  Ada orang yang nyomongnya hebat, tetapi menulis tidak bisa.

“Ada saatnya kita memuji, kalau tulisannya bagus, dan kalau kita salah harus ada yang menegur. Kami terbuka untuk semua media, dan Humas Setda NTT pintu terbuka untuk semua wartawan. Setiap orang yang bertemu dengan saya, pasti saya kasi hadiah berupa buku. Ada 4 buku yang saya selesaikan. Jadi, setiap teman media yang datang pasti dapat hadiah buku,” kata Very.

Baca juga :  Edu Nabunome Telah Mengharumkan Nama NTT dan Indonesia di Bidang Olahraga

Sementara, Anton Taolin, salah satu wartawan senior yang mewakili rekan media mengatakan, wartawan pada zaman dahulu, ibarat seperti perangko, dimana mengirim surat harus menempelkan prangkonya, supaya suratnya sampai ke tempat tujuan.

“Kalau boleh berkorban, jangan korbankan orang lain. Tetapi, dalam pemberitaan kami, seringkali membuat orang menjadi korban. Gara-gara berita wartawan, banyak orang dijeblos ke penjara, sehingga ketika pulang rumah harus berdoa tobat, karena tulisan itu orang lain bisa masuk bui,”ujarnya. (ade)