KUPANG, NTT PEMBARUAN.com-  BPK Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Laporan Hasil Pemeriksaan PDTT Semester II Tahun 2019 yang sudah diserahkan ke Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Kamis (16/1/2020) sejumlah rekomendasi disampaikan ke Pemprov NTT untuk ditindaklanjuti dalam waktu dekat ini.

BPK Perwakilan NTT memberikan waktu selama 60 hari ke depan kepada Pemprov NTT untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan tersebut, terhitung sejak tanggal penyerahan LHP tersebut,  Kamis (16/1/2020).

Dalam sambutannya, Kepala BPK Perwakilan NTT, Adi Sudibio menginformasikan bahwa Pemprov NTT baru 67 persen tindaklanjutnya. Berdasarkan pasal 20 UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara yang mengamanatkan bahwa pejabat wajib memberikan jawaban atau tindaklanjut atas hasil pemeriksaan, jawaban atau tindaklanjut hasil pemeriksaan itu disampaikan kepada BPK Perwakilan NTT selama 60 hari setelah LHP ini diterima.

Adi  menybutkan, sesuai hasil pemeriksaan kepatuhan semester II Tahun 2019  pada Pemprov NTT dan Bank NTT yang pertama soal penggunaan barang milik daerah pada Pemprov NTT atas aspek pemanfaatan, pengamananan, dan ketatausahaan Tahun 2018-2019 semester I.

Kedua, belanja modal Tahun 2018-2019 hingga triwulan III dan pengeloaan dana pihak ketiga penyaluran kredit komersial segmentasi menengah dan koperasi Tahun 2018-2019 pada Bank NTT.

Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan BPK Perwakilan NTT antara lain diketahui bahwa pengelolaan BUMD pada aspek pemanfaatan, pengamanan, dan penatausahaan pada Pemprov NTT masih terdapat beberapa hal yang diperhatikan.

Baca juga :  Mentan Kunjung NTT, Gubernur Usulkan Pembentukan Bio Security dan Bio Industry

Pertama, masalah pendayagunaan tanah milik Pemprov NTT seluas 2.019 hektar, yang sampai hari ini belum didukung oleh badan hukum yang sah, seperti peraturan daerah (Perda) NTT.

Contohnya, lahan yang dipakai oleh PT. Semen Kupang, dimana  dulunya dikelola oleh BUMD, tetapi sekarang sudah ditarik oleh Pemprov NTT   yang perlu diadministrasikan bersama DPRD NTT didukung oleh Perda.

Berikutnya, masalah BUMN dan BUMD, ada tanah milik Pemprov NTT yang dikuasai oleh pihak lain, secara sepihak masih dalam proses hukum. Selanjutnya, pemeriksaan kepatuhan atas belanja modal atas Pemprov NTT masih ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, dimana masih terdapat kekurangan volume pekerjaan pada Dinas PUPR NTT yang sebagiannya sudah ada pengembaliannya, tinggal sisanya saja.

Kemudian pengadaan alat praktek dan pengadaan alat peraga siswa SMK pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT belum sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, ia minta, untuk  segera dimanfaatkan.

Sedangkan, pemeriksaan kepatuhan pada Bank NTT, lanjut dia, BPK Perwakilan NTT memberikan kesimpulan bahwa pengelolaan dana pihak ketiga dan penyaluran kredit komersial menengah dan koperasi Tahun 2018-2019 sampai dengan semester I dilaksanakan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam semua hal yang material.

Hal ini didasari oleh beberapa hal sebagai berikut, pertama, PT. Bank NTT pada Tahun 2018 melakukan pendapatan dalam bentuk pembelian ATN senilai Rp 50 miliar dalam jangka 24 bulan dan nilai temuannya 10,50 persen.

Baca juga :  KKG Tanjung Boleng Ikut Lomba Mata Pelajaran Tingkat Gugus

NTN ini, menurut dia, tidak masuk dalam rencana bisnis Bank NTT Tahun 2018, dan pembelian tersebut mengalami gagal bayar yang saat ini dalam proses PKPU, dan hal tersebut berpotensi merugikan Bank NTT.

Selain itu, pemberian fasilitas kredit kepada satu debitur dengan wajib debit per 30 Juni 2019 senilai Rp 29 miliar, dan tunggakan bunga senilai Rp 12 miliar. Debitur tersebut telah dinyatakan vailid oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sehingga hal tersebut berpotensi merugikan Bank NTT.

Selanjutnya, pemberian fasilitas kredit pada 6 debitur yang berafiliasi dengan oknum atau personal oleh Bank NTT Cabang Surabaya dengan debit per 30 Oktober 2019 senilai Rp 116 miliar yang tidak pruden, dan tanpa jaminan yang mengikat serta tidak sesuai peruntukan, sehingga berpotensi merugikan PT. Bank NTT.

Adi juga menyebutkan, pemberian batas kredit kepada beberapa debitur dengan wajib debit per 30 Juni 2019 sebesar Rp 24 miliar tidak pruden dan melanggar prinsip kehati-hatian, sehingga berindikasi merugikan Bank NTT.

Ia berharap, hasil pemeriksaan ini segera ditindaklanjuti, sehingga menjadi salah satu acuan perbaikan kinerja bagi Pemprov NTT dan Bank NTT di masa-masa  mendatang.

Pada tempat yang sama, Wakil Ketua DPRD NTT, Ny. Ince Sayuna dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada BPK Perwakilan NTT yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan telah memberikan berbagai rekomendasi terhadap penilaian kinerja Pemprov NTT.

Baca juga :  Romo Ansi Sumbang Bola Kaki dan Bola Voli Kepada Pemuda Lempa
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat menandatangani berita acara penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan PDTT Semester II Tahun 2019 di Lantai I Kantor BPK Perwakilan NTT, Kamis (16/1/2020)

 

 “Hal ini akan menjadi perhatian kami untuk ditindaklanjuti dalam kerangka fungsi pengawasan yang melekat pada DPRD. Rekomendasi yang diberikan itu akan menjadi perhatian khusus bagi Lembaga DPRD untuk terus mengingatkan Pemprov NTT, agar menyampaikan laporan tepat waktu, sesuai yang dimintakan BPK,” kata polisitisi Golkar ini.

“Tadi saya mendengar LHP BPK baru 67 persen tindak lanjutnya. Ini menjadi perhatian bagi kami untuk terus mengingatkan Pemprov NTT agar ke depan, dia bisa menjadi leaning bagi kabupaten/kota di NTT dalam kerangka menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan oleh BPK,” ujarnya.

Secara kelembagaan DPRD NTT, ia  berbangga kepada Pemprov NTT yang sudah 4 tahun berturut-turut mendapatkan opini WTP dari BPK yang walaupun dengan sejumlah catatan.

Karena itu, pengawasan internal tetap ditingkatkan, sehingga semua penilaian opini oleh BPK di masa mendatang tidak ada lagi catatan –catatan yang disampaikan, tukasnya. (ade)