Gubernur NTT Menginginkan Grand Design P dan K NTT Fokus Pembinaan Karakter Anak

KUPANG,  NTT PEMBARUAN.com- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat menginginkan, agar Grand Design Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur  2020—2030 lebih fokus pada pembinaan karakter anak didik dan peningkatan literasi.

Keingian Gubernur Laiskodat itu disampaikan saat membuka acara Konslutasi Publik Grand Design Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur  yang digelar di Aula Fernandez, Lantai IV Kantor Gubernur NTT, Selasa (10/12/2019).

Menurutnya, kemampuan membaca dan berhitung adalah dua kemampuan yang wajib dimiliki oleh anak-anak, khususnya di jenjang pendidikan rendah, sehingga mereka bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan lebih baik.

Gubernur Laiskodat juga menyampaikan apresiasinya kepada Tim INOVASI yang berperan aktif dalam penyusunan dokumen grand design ini.  ”INOVASI sendiri sudah 2 tahun terlibat di NTT, dan tentunya memberikan kita banyak pikiran-pikiran  sehingga kita mampu bersinergi untuk mendesain, merencanakan pembangunan pendidikan di NTT yang lebih baik,  dan komprehensif,” katanya.

Baca juga :  Gubernur NTT Hadiri Misa Syukuran Pesta Perak Uskup Ruteng

Selanjutnya, grand design ini akan dituangkan kedalam langkah-langkah teknis implementasi dalam peta jalan (Roadmap). Terkait hal ini, Direktur Program INOVASI, Mark Heyward berharap, agar grand design ini dapat dimiliki bersama oleh para pemangku kepentingan dan dapat diimplementasikan.

“Saya harap Grand Design Pendidikan dan Kebudayaan ini menjadi milik bersama, terutama pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. Namun, yang terpenting adalah grand design ini bisa diimplementasikan dan dijabarkan dalam peta jalan (Roadmap) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sampai ke tingkat sekolah dan interaksi di kelas,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Benyamin Lola dalam pemaparannya mengatakan, bahwa kebijakan strategis dalam grand design  ini terdiri dari 21 sasaran dan terbagi ke dalam empat fokus, pertama, mengurangi kesenjangan akses layanan pendidikan, kedua, peningkatan mutu pembelajaran untuk menghasilkan lulusan yang produktif, ketiga, penguatan pendidikan karakter, dan keempat, penguatan tata kelola untuk menguatkan proses pembelajaran.

Baca juga :  BNNP Ajak Milenial NTT Berkreasi Tanpa Narkoba Bersama REAN.ID

Alasan dilakukan penyusunan Grand Design P dan K NTT ini, menurut dia,  dilihat dari  hasil evaluasi belajar rendah, lambatnya anak menyelesaikan sekolah, tingkat mengulangnya tinggi di kelas, tumbuh kembang anak yang terganggu, serta anak penyandang disabilitas yang belum mandiri salah satu masalah yang kini dihadapi lebih dari 1,35 juta anak yang bersekolah di NTT.

Karena itu, Grand Design Pendidikan dan Kebudayaan disusun sebagai salah satu upaya untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di NTT agar peluang bonus demografi bisa dimanfaatkan dengan baik, kata Benyamin.

Grand design berupaya untuk menyelaraskan penyiapan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan pembangunan NTT ke depan, menuju NTT Bangkit, NTT Sejahtera. Oleh karena itu, grand gesign ini diharapkan dapat menyatukan visi besar nasional, provinsi, kabupaten dan kota dalam hal pendidikan.

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Lasikodat (tengah) yang hadir dalam kegiatan Konsultasi Grand Design Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Aula Ferndez, Lantai IV Kantor Gubernur NTT, Selasa (10/12/2019).

Penyusunan grand design ini melibatkan berbagai pihak yang salah satunya adalah Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia. INOVASI merupakan program kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa kelas awal, terutama dalam hal kemampuan literasi dan numerasi, serta pendidikan inklusif.

Baca juga :  Tahun 2020, BNNP NTT Baru Penuhi 4 LKN

INOVASI bekerja langsung dengan memperkuat kapasitas fasilitator daerah (Fasda) yang direkrut dari guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah setempat yang mempunyai kemampuan lebih dalam bidangnya dan mampu menjadi fasilitator.

Tujuannya adalah ketika program INOVASI berakhir, pemerintah daerah dalam hal ini, Dinas Pendidikan memiliki tim Fasda yang memiliki kapasitas untuk melakukan pelatihan peningkatan kapasitas guru berkelanjutan melalui Kelompok Kerja Guru (KKG). (ade)