Prasasti Kesepakatan Batas Daerah Matim dan Ngada Sudah Ditandatangani

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Prasasti kesepakatan batas wilayah administrasi antara Kabupaten Manggarai Timur (Matim) dengan Kabupaten Ngada sudah ditandatangani di Ruang Rapat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (29/11/2019).

Penandatanganan prasasti kesepakatan batas daerah itu ditandangani oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas, dan Bupati Ngada, Paulus Soliwoa.

Hadir dalam penandatanganan prasasti itu, para tokoh masyarakat Manggarai Timur dan Ngada serta para Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Lingkup Pemerintahan Provinsi (Pemprov) NTT.

Pada kesempatan itu, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat meminta masyarakat kedua daerah, yakni Manggarai Timur dan Ngada untuk menjaga kesepakatan bersama ini  dengan menciptakan situasi yang kondusif di lapangan.

Ia meminta masyarakat kedua daerah itu, untuk tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu menyesatkan yang dapat mengganggu keamanan dan hubungan persaudaraan diantara masyarakat selama ini.

Baca juga :  Gubernur NTT Hadiri Misa Syukuran Pesta Perak Uskup Ruteng

“Kita semua harus bisa menjadi alat perdamaian. Kita bersyukur kepada Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas dan Bupati Ngada, Paulus Soliwoa  serta para tokoh masyarakat lokal kedua daerah itu mempunyai semangat persatuan dan kesatuan yang luar biasa, sehingga masalah batas ini bisa terselesaikan,” kata Laiskodat yang juga politisi NasDem ini.

Ia berjanji, setelah  penandatanganan prasasti kesepakatan batas daerah itu akan diikuti dengan pembangunan infrastruktur jalan di daerah perbatasan, baik yang bersumber dari APBN, APBD I maupun APBD II.

Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas kepada wartawan di Kantor Gubernur NTT, Jumat (29/11/2019) meminta masyarakatnya untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi karena kepentingan orang-orang tertentu.

Baca juga :  Edu Nabunome Telah Mengharumkan Nama NTT dan Indonesia di Bidang Olahraga

Menurut dia, masyarakat yang berdomisili di daerah perbatasan antara Manggarai Timur dengan Ngada selama ini aman-aman saja, dan tidak pernah mempersoalkan tapal batas yang sudah disepakati  bersama.

Penetapan tapal batas kedua daerah itu, lanjut Agas, merupakan keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang sebelumnya telah dipresentasikan kepada pemerintah daerah (Pemda) NTT, Pemda Manggarai Timur, dan Pemda Ngada termasuk masyarakat kedua daerah tersebut.

“Yang saya hadirkan saat menyosialisasikan hasil penetapan tapal batas dari Mendagri saat itu adalah tokoh-tokoh masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan. Saya juga sudah

menyosialisasikan keputusan Mendagri itu kepada DPRD Manggarai Timur. Soal ada yang puas dan tidak puas,  itu adalah hal yang wajar dalam sebuah negara demokrasi,” kata Agas.

Baca juga :  Gubernur VBL Gratiskan Swab dan Rapid Test  Bagi Masyarakat NTT  

Kepada kalangan elit di Manggarai Timur, Agas minta, untuk tidak memprovokasi masyarakat hanya karena kepentingan tertentu.  Sebab, masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan itu rata-rata memiliki hubungan kekeluargaan karena kawin mawin. (ade)