KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Parade Sri Puan , salah satu kegiatan religi muslim yang bersifat  tradisional di Kota Kupang, Kamis, 7 November 2019 diikuti sekitar 40 rombongan dari Remaja Masjid se-Kota Kupang, Majelis Talim, sejumlah sekolah Madrasah mulai dari Tingkat SMP, dan SMA se-Kota Kupang serta komunitas non muslim, seperti Ormas Garuda ikut berpartisipasi di dalamnya.

Parade Sri Puan ini dilepas secara resmi oleh Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang, Epy Seran dari titik start Masjid Kampung Solor pukul 16.00 Wita, dan diterima oleh Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore di Masjid Agung Al’Baitul Qadim Air Mata, pukul 17.00 Wita.

Rombongan parade Sri Puan ini berjalan kaki dari Masjid Kampung Solor melewati Jalan Garuda, Terminal Lama Kota Kupang, Jembatan Selam, masuk Jalan Trikora lalu finish di halaman Masjid Agung Al’Baitul Qadim Kelurahan Air Mata.

Baca juga :  Bupati Nabit Pantau Pelaksanaan Vaksinasi di SMPK Immaculata Ruteng

Sekretaris Yayasan  Masjid Agung Al’Baitul Qadim Air Mata, Abdul Syukur Dapubeang kepada wartawan di Kupang, Kamis (7/11/2019) menjelaskan, parade Sri Puan ini dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Raya Maulid Nabi Muhamad SAW secara tradisional Tahun 2019 M/1441 H Yayasan Masjid Agung Al’Baitul Qadim Air Mata, Kota Kupang.

“Tahun ini, merupakan tahun ke-5 kami merayakan Maulid Nabi Muhamad SAW secara tradisional di Kota Kupang yang puncaknya dirayakan pada Jumat, 8 November 2019 di Masjid Agung Al’Baitul Qadim Air Mata.  Kegiatan ini sudah menjadikan agenda tahunan,” kata Syukur.

Kata Syukur, Sri Puan sebagai simbol pemersatu dan merekat rasa toleransi diantara umat beragama. Selaras dengan itu, maka thema yang diangkat dalam perayaan tahun ini, Bersatu dalam Keberagaman, dan Beragam dalam Persatuan.

Kebersamaan dan kegotongroyongan itu, menurut dia, sudah diwariskan sejak zaman dahulu kala yang disimbolkan dengan Sri Puan. Sri Puan itu adalah simbol pemersatu dalam hal bergotong royong, dalam hal kebersamaan untuk membangun, baik secara horizontal maupun vertikal, hubungan antara manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Baca juga :  Program Guru Penggerak Kabupaten Manggarai Adakan Lokakarya 2 Secara Luring

“Tahun pertama, kita melibatkan Provinsi Bangka Belitung datang ke Kota Kupang untuk merayakan secara bersama-sama karena ada nilai historisnya. Dimana, salah satu pemimpin mereka bernama Depati Amir Bahren dibuang oleh Belanda di Kota Kupang, tepatnya di Kelurahan Air Mata (dulu disebut Desa Air Mata,red),” kisah Syukur.

Abdul Syukur Dapubeang

Selanjutnya, Depati Amir Bahren wafat Tahun 1887 yang dimakamkan di Kelurahan Air Mata, Kota Kupang, dan pada Tahun 2018 lalu oleh Presiden Jokowi telah menetapkan beliau menjadi Pahlawan Nasional.

“Parade Sri Puan ini mengingatkan kembali kepada kita semua tentang pentingnya nilai kebersamaan, gotong royong, toleransi antar umat beragama,dan hidup damai  yang terus dilestarikan melalui kegiatan-kegiatan budaya seperti ini,” tutupnya.

Baca juga :  Wapres Pimpin Rapat Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem di NTT

Sekedar gambaran, susunan acara untuk  perayaan Maulid Nabi Muhamad SAW secara tradisional Tahun 2019 M/1441 H Yayasan Masjid Agung Al’Baitul Qadim Air Mata, Kota Kupang, Jumat (8/11/2019)  meliputi, laporan panitia pelaksana, sambutan Ketua Umum Yayasan Masjid Agung Al’Baitul Qadim Air Mata, pembacaan doa oleh Imam Masjid Al’Baitul Qadim Air Mata, prosesi dan pelepasan arak-arakan Sri Puan oleh Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore. (ade)