P2TPPA NTT Tangani 67 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Dalam kurun waktu Januari – Oktober 2019,  Pusat Pelayanan Terpadu  Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPPA) milik Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi  Nusa Tenggara Timur (NTT) menangani 67 kasus kekerasan terhadap  perempuan dan anak.

Dari jumlah itu, 38 kasus  sudah ditangani secara tuntas dan lebih banyak  diselesaikan melalui tahap mediasi, sedangkan sisanya melalui putusan pengadilan.

Sementara, 18 kasus lainnya belum selesai, dan  29 kasus sedang berjalan atau  dalam tahap proses, kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sylvia R. Peku Djawang,S.P,M.M kepada wartawan di Kupang, Jumat (1/11/2019).

Kata Sylvia, kasus yang lebih banyak dilaporkan ke P2TPPA NTT adalah ingkar janji nikah dan kebanyakan korbannya adalah mahasiswi yang hidup di kos-kosan.

Baca juga :  Pariwisata Sebagai Prime Mover Lahir Dari Kajian Ilmiah

Kendala yang sering ditemuinya dimana setelah melapor ke P2TPPA, pelapor sulit ditemui dan kadang-kadang nomor handphonya berganti-ganti.

Ia contohkan, 18 kasus kekerasan yang belum tuntas ditangani itu  rata—rata pelapornya sulit dihubungi .  Konotasinya, menurut dia, kemungkinan  mereka diam-diam  menyelesaikannya secara kekeluargaan .

Lembaga layanan P2TPPA  yang dibentuknya itu sebagai perpanjang tangan pemerintah untuk melakukan fungsi perlindungan perempuan dan anak , baik korban kekerasan fisik, psikis, pemerkosaan, korban traffiking, korban ingkar janji dan lain-lain.

Unit layanan yang dibentuknya itu dilengkapi  beberapa  divisi, yakni   Divisi Pelayanan Hukum, Divisi Kesehatan, dan Divisi Jaringan Mitra Kerjasama.

“Intinya adalah kalau ada kasus korban kekerasan perempuan dan anak segera  melapor ke situ untuk mendapat perlindungan hukum,” kata Sylvia. (ade)