Gerakan Peduli Sesama Bantu Masyarakat Miskin di Matim

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Gerakan peduli sesama yang merupakan salah satu program Bupati Manggarai Timur (Matim), Andreas Agas, salah satu upaya untuk membantu masyarakat miskin di daerah itu.

Melalui gerakan ini, Bupati Agas mewajibkan lima Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkup Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur secara patungan membantu membiayai pemasangan meteran listrik untuk satu rumah masyarakat miskin.

“Saya sendiri sebagai bupati, dan wakil bupati wajib membantu membiayai pemasangan meteran listrik 3-4 rumah masyarakat miskin,” kata Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas,SH kepada wartawan disela-sela mengikuti rapat kerja bersama para bupati/wali kota, para kepala desa/lurah, para camat dan para pimpinan SKPD se-NTT dengan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di Gedung Olahraga (GOR) Oepoi Kupang, Kamis (24/10/2019).

Dari 159 desa di wilayahnya, kini tinggal 7 desa masih masuk dalam kategori daerah tertinggal, dan dua kecamatan belum memiliki jaringan listrik dari Perusahan Listrik Negara (PLN), yakni Kecamatan Elar dan Elar Selatan.

“Untuk tujuh desa  yang masih masuk desa tertinggal ini, kita harus bekerja dengan sistem ‘keroyok’ sehinga statusnya cepat naik menjadi desa berkembang. Kita potret dulu, apa yang membuat dia miskin, setelah itu kita ‘keroyok’. Tidak bisa kita bekerja secara sendiri-sendiri, tetapi program itu berjalan terintegrasi antara dinas yang satu dengan dinas lainnya,” kata Mantan Dosen Fakultas Hukum Undana Kupang ini.

Baca juga :  Sepanjang Oktober 2020, PLN Hadirkan Listrik di 23 Desa Terpencil di NTT

Tahun ini, ada 80 desa di wilayahnya sudah terpasang jaringan listrik dengan pola kerja sama dengan koperasi, tinggal dua kecamatan saja yang belum terpasang jaringan listriknya, yaitu Kecamatan Elar dan Elar Selatan.

Untuk wilayah Manggarai Timur, ia masih fokus tiga program utama, yakni jalan, air bersih dan listrik.  Untuk jalan kabupaten di Manggarai Timur, panjang jalannya, 1.281 kilo meter, dalam kondisi baik, 40 persen, dan 60 persen dalam kondisi rusak.

“Kalau setiap tahun, kita fokus 200 kilo meter, maka tahun ke-5 bisa mencapai 1000 kilo meter atau hampir 70 persen jalan kabupaten di Mangggarai Timur nanti dalam kondisi baik dan untuk jalan desa, wajib setiap tahun dibangun, 1 kilo meter bersumber dari dana desa. Sedangkan, APBD I NTT dan APBN (DAK) untuk pengerjaan jalan hotmix itu adalah bonus,” kata Agas.

Karena itu, menurut dia, melalui rapat kerja bersama ini bisa membangkitkan cara berpikir dan cara bergerak yang sama mulai dari pusat hingga daerah untuk membangun NTT mulai dari desa.

Apapun program dari pusat, provinsi, kabupaten hingga desa harus satu gerakan, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. “Misalnya, gerakan dari pusat hingga daerah fokusnya pada pembangunan infrastruktur jalan. Kemudian kita bagi, satu desa sepanjang 1 kilo meter jalan lapen, dan 1 kecamatan dari DAU, sepanjang 10 kilo meter jalan lapen, sehingga dalam satu tahun kita bisa tuntas 200 kilo meter jalan lapen. Ini yang namanya satu gerakan,” tukasnya.

Baca juga :  Program TP PKK NTT Dibawa Kepemimpinan Bunda Julie Laiskodat

Begitu juga untuk membangun rumah layak huni bagi masyarakat miskin dengan komposisi 10 unit rumah per desa dibangun pada tahun 2020 mendatang dengan anggaran sebesar Rp 50 juta per rumah.

Dari total anggaran yang ada itu dibagi, misalnya, kabupaten menyiapkan anggaran sebesar Rp 20 juta, provinsi sebesar Rp 20 juta dan dari dana desa sebesar Rp 10 juta, sehingga pekerjaannya tuntas.

Pola bantuan swadaya stimulan dengan anggaran sebesar Rp 7,5 juta per rumah selama ini, menurut dia, tidak cukup untuk membangun sebuah rumah dan pengerjaannya pasti tidak tuntas.

“Karena itu, kita membangun komitmen bersama untuk membangun secara kolaborasi, sehingga beban anggaran sebesar Rp 50 juta per rumah untuk tahun 2020 mendatang, kita bagi masing-masing, kabupaten sebesar Rp 20 juta, provinsi sebesar Rp 20 juta dan dari dana desa sebesar Rp 10 juta, sehingga bekerja hingga tuntas,” paparnya.

Baca juga :  KPU Sumba Barat Tetapkan 82.649 Pemilih Tetap
Festival Kopi Manggarai Timur
Inilah salah satu contoh kopi Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Agas juga merencanakan, pada bulan Juli 2020 mendatang, pihaknya akan menyelenggarakan festival kopi Manggarai Timur yang dipusatkan di Desa Colol, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur dengan memanfaatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Saya akan membuat BUMDes dengan fokus usahanya pada kopi sebagai salah satu icon Manggarai Timur. Nanti, kita  bantu modal usaha untuk BUMDes di  4 desa di Manggarai Timur masing-masing sebesar  Rp 500 juta per BUMDes. Dari dana itu, mereka bisa mengolah kopi Manggarai Timur menjadi nescafé yang memiliki nilai jual berlevel nasional dan internasional,” janji Agas.

Karena itu, sebelum menuju ke sana, terlebih dahulu, ia menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan melakukan berbagai pelatihan kepada masyarakat mulai dari proses menumbuk kopi hingga menjadi nescafe.(ade)