OELAMASI, NTT PEMBARUAN.com- Sekolah Dasar (SD) GMIT Camplong 2, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengalami kekurangan buku bacaan  fiksi anak-anak di perpustakaan sekolah itu.

Kekurangan itu diungkapkan Kepala SD GMIT Camplong 2, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Martha Mariana Taek, S.Pd.SD dihadapan Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children yang turun melakukan monitoring  ke sekolah itu, Jumat (18/10/2019).

Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children yang turun ke sekolah itu merupakan patner kerja Save The Children selama ini masing-masing, Agust Henuk, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Yohanes Tefa dari Kantor Perpustakaan Kabupaten Kupang, Edi Tampubolon dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Kupang, Decky dari Bappeda Kabupaten Kupang didampingi dua pegawai dari Save The Children  masing-masing, Maria Arika dan  Florensye Solukh.

Tim yang turun ke sekolah itu adalah mereka yang telah mengikuti pelatihan di Hotel On The Rock Kupang yang diselenggarakan Save The Children sejak tanggal 16 –18 Oktober 2019, dan monitoring tersebut untuk melihat dari dekat kondisi sekolah dampingan Save The Children selama ini.

Kegiatan monitoring ini merupakan kegiatan lanjutan yang sudah dilakukan hari pertama, Kamis, 17 Oktober 2019 di tiga sekolah dampingan Save The Children di Kabupaten Kupang, yaitu  SDK St. Yoseph Noelbaki, SD GMIT Manulai I dan SD GMIT Babau.

Monitoring hari kedua, Jumat, 18 Oktober 2019 dengan tiga sekolah sasaran di Kabupaten Kupang,  yakni Sekolah Dasar Inpres (SDI) Raknamo, SD GMIT Camplong 2 dan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tunfeu I.

Dihadapan Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children dan wartawan media ini, Kepala SD GMIT Camplong 2, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Ny. Martha Mariana Taek, S.Pd.SD mengaku, sekolahnya masih mengalami kekurangan buku bacaan fiksi di perpustakaan sekolah.

Tahun ini, merupakan tahun kedua sekolahnya menjadi sekolah dampingan dari Save The Children, terutama berkaitan dengan program kaya aksara sudah berjalan dua tahun sejak 2018 lalu hingga tahun ini.

Selama dilakukan pendampingan dari Save The  Children, ia merasa banyak mengalami perubahan pada diri siswa, terutama berkaitan dengan literasi  yang memotivasi anak—anak dalam hal belajar.

Bantuan yang sudah disalurkan Save The Children ke sekolahnya, seperti buku-buku cerita untuk kelas bawah meliputi kelas I,II dan III. Selain bantuan buku-buku, Save The Children juga telah menyalurkan bantuan berupa Alat Tulis Kertas (ATK).

Baca juga :  Satlantas Polres Mabar Dibantu PT ANK Bersihkan Tumpahan Material di Jalan Trans Labuan Bajo - Ruteng

Ia merasa bersyukur atas kehadiran Save The Children selama ini yang telah membantu sekolahnya, baik berupa buku cerita maupun ATK. Dengan bantuan buku cerita itu, anak-anak didiknya termotivasi untuk membaca dan menulis.

Menurut dia, buku-buku cerita bantuan pemerintah yang ada di sekolahnya sudah terlalu lama sehingga membosankan anak-anak untuk membacanya. Tetapi, kalau buku-buku cerita bantuan Save The Children semuanya masih baru yang memudahkan anak-anak untuk membaca dan memahaminya.

Berkat buku-buku cerita  bantuan Save The Children itu, menurut dia, anak-anak kelas I,II dan III sebagian besar sudah bisa membaca, kecuali anak-anak yang berkebutuhan khusus perlu membutuhkan proses, misalnya diawali dengan latihan membaca huruf kemudian secara perlahan menuju ke suku kata.

Anak-anak didiknya rata-rata  dari keluarga tidak mampu. Sedangkan terkait dengan kekurangan bahan bacaan di perpustakaan sekolah, kata Martha, memang ada jatah 10 persen dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tetapi itu pun belum bisa memenuhi kebutuhan yang ada.

Martha bersyukur, dengan kehadiran tim kolaborasi yang  merupakan patner kerja Save The Children ini bisa memperjuangkan secara bersama-sama untuk memenuhi  kebutuhan sekolahnya,  baik soal kekurangan buku, cara penataan buku di perpustakan maupun soal anggaran.

Terkait dengan tenaga guru di sekolahnya, jawab Martha, untuk tenaga guru jumlahnya sudah cukup, hanya kekurangan guru  PJOK saja, dimana selama ini dibantu oleh tenaga operator sekolah. Namun, ia optimis, pekan depan guru mata pelajaran PJOK-nya mulai mengajar di sekolah itu.

Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children berfoto bersama para guru dan siswa SD GMIT Camplong 2, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (18/10/2019).

“Saya berharap kepada Save The Children yang sudah melakukan pendampingan di sekolah kami  selama ini jangan lepas kami dulu sebelum mandiri. Sekolah kami masih membutuhkan kehadirannya. Tetapi, kalau memang program ini tidak ada lagi nanti, terpaksa kami harus berusaha sendiri,” kata Martha.

Kepada pemerintah, terutama pemerintah kabupaten (Pemkab) Kupang melalui Dinas P dan K Kabupaten Kupang, ia berharap, jangan hanya memperhatikan sekolah-sekolah negeri saja, tetapi lihat juga sekolah-sekolah swasta yang masih banyak mengalami kekurangan sarana prasarana, buku-buku bacaan untuk perpustakaan, ATK dan sebagainya.

Tahun ini, usia SD GMIT Camplong 2 sudah memasuki 61 tahun, tetapi buku-buku bacaan anak –anak di perpustakaan milik sekolah itu  masih menggunakan buku-buku lama atau belum ada bantuan buku yang baru dari pemerintah.

“Kami sangat bersyukur karena lewat kehadiran Save The Children selama dua tahun di sekolah kami, anak-anak termotivasi dalam hal percepatan membaca dan menulis. Kalau hanya mengharapkan dari dana BOS tidak cukup untuk membiayai 95 siswa yang ada di sekolah kami, “ tuturnya.

Ia juga mengharapkan, agar dari dana desa yang ada bisa membantu sekolahnya untuk pembelian buku-buku bacaan siswa di perpustakaan.

Baca juga :  NTT Targetkan Sepuluh Medali Emas Pada PON XX di Papua 2021

Menurut dia, sudah berulangkali mengusulkan melalui Musremdes dan Musrembang, tetapi belum ada jawaban. “Yang kami butuhkan saat ini adalah buku-buku bacaan fiksi dan rak buku perpustakaan sekolah,” kata Martha.

Sementara, Guru Wali Kelas I SD GMIT Camplong 2, Ny. Sarlince Kolly saat diwawancara Agust Henuk, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang yang juga salah satu Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children di ruang kelasnya menyebutkan, jumlah siswa kelas I yang merupakan anak walinya sebanyak 17 orang dengan komposisi, laki-laki, 12 orang dan perempuan, 5 orang.

Anak-anak yang ada, kata Kolly, tidak semuanya melewati pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), ada yang langsung masuk SD saja, sehingga materinya tidak bisa diberikan secara seragam.

Karena itu, pola mengajar yang dilakukannya diawali dengan pengenalan huruf saja. Setelah mereka sudah mengenal huruf baru dilanjutkan dengan pengenalan suku kata. Untuk mempermudah daya ingat anak dalam hal membaca, maka selaku guru, ia melakukan pemajangan huruf di semua dinding tembok ruangan kelas.

Melalui program kaya aksara yang dilakukan Save The Children selama ini, menurut Kolly, anak-anak termotivasi untuk belajar membaca, menulis dan mewarnai.

Untuk media mengajar yang digunakannya diperoleh dari Save The Childre, seperti kertas, kerayon, pensil warna, lem, spidol dan kertas warna.

Kolly mengatakan, jika suatu saat tidak lagi mendapat bantuan dari Save The Children, maka jalan satu-satunya harus mandiri dengan memanfaatkan bahan lokal sekitar sekolah.

Ia contohkan, ketika anak-anak diajarkan berhitung bisa menggunakan daun- daun dan batu–batu di sekitar sekolah.

Pada saat itu  juga Agust Henuk meminta Kolly,  agar pajangan sudut  baca di dinding tembok dalam ruangan kelas jangan terlalu tinggi, tetapi disesuaikan dengan tinggi siswa, sehingga mudah dilihat dan dibaca anak-anak.

Tidak hanya itu, kata Agust Henuk, pajangan sudut baca yang ditempelkan di dinding tembok ruangan kelas  harus sesuai dengan tema hari itu.

Sedangkan, untuk mewarnai, Agust menyarankan, kalau bisa menggunakan warna yang terang sehingga terbaca dengan jelas oleh siswa.

Dari hasil observasinya di ruang kelas I SD GMIT Camplong 2 hari itu, menurut Agust, sudah mengalami peningkatan, terutama cara membaca anak dengan pola belajar sambil bermain.

Sementara hasil observasi yang dilakukan Yohanes Tefa dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kupang yang tergabung dalam tim itu,  melihat dari sisi penataan buku-buku di perpustakaan SD GMIT Camplong 2 belum bagus.

Baca juga :  Partai Demokrat Kembali Membagi Sembako dan Masker Kepada Warga Boleng

Yohanes yang paham mengenai perpustakaan ini, melihat penyusunan buku-buku di perpustakaan di sekolah tersebut tidak berdasarkan  punggung dan judu buku.

Karena itu, ia meminta sekolah untuk bersurat secara resmi ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kupang, sehingga tim bisa turun ke sekolah untuk melakukan penataan ulang buku –buku yang ada sesuai punggung buku dan judulnya.

Kepala SD GMIT Camplong 2, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Ny. Martha Mariana Taek, S.Pd.SD saat berdialog dengan Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children di Perpustakaan sekolah itu, Jumat (18/10/2019)

Kata Tefa, kalau ditata berdasarkan judul buku akan memudahkan para siswa dan para guru mendapatkannya. Di perpustakaan sekolah juga harus disiapkan dua buku, satunya untuk buku pengunjung dan satu bukunya lagi  untuk mencatat nama –nama peminjam buku.

Terkait permintan bantuan buku dari para guru saat beraudiens dengan Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children di sekolah itu, Tefa menyarankan agar usulannya disampaikan melalui Dinas P dan K Kabupaten Kupang saja.

Sebab, secara struktur kelembagannya,  kantornya hanya bisa memenuhi permintaan buku-buku dari desa-desa, sedangkan untuk sekolah belum bisa.

Namun, untuk memenuhi permintaan para guru,  ia akan mencoba mengkoordinasikan dengan atasannya di kantor  untuk melayani sekolah-sekolah termasuk SD GMIT Camplong 2 dengan menggunakan perpustakaan mubail atau perpustakaan keliling.

Pada tempat yang sama, Edi Tampubolon dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Kupang saat beraudiens dengan  kepala sekolah dan guru-guru SD GMIT Camplong 2 menyarankan kepada sekolah untuk mengusulkan kekurangan buku-buku itu melalui musyawarah desa (Musremdes) dan Musrembang, sehingga bisa  ditanggulangani dari dana desa.

Menurut Tampubolon, pada tahun 2020 mendatang, Bupati Kupang, Korinus Masneno meminta desa-desa kalau ada peluang dari dana desa bisa membayar guru-guru honor Bahasa Inggris yang mengajar di desanya masing-masing.

Sementara itu, Maria Arika, dari Save The Children yang mendampingi tim tersebut saat beraudiens dengan kepala sekolah dan guru –guru SD GMIT Camplong 2 mengatakan, guru-guru tidak perlu takut buku-buku bacaan anak-anak rusak. Cukup diberi tanggungjawab kepada salah satu anak untuk menjaga buku-buku yang dibaca para siswa.

“Saya berterima kasih kepada kepala sekolah dan para guru di SD GMIT Camplong 2 yang telah menerima tim kami. Tetaplah bersemangat untuk menciptakan sesuatu yang terbaik bagi masa depan anak-anak. Jika ada keluhan atau kendala bisa disampaikan melalui saya untuk ditindaklanjuti,” tutupnya.(ade)