Tim Joint Monitoring Save The Children Datangi SD GMIT Manulai I

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children mendatangi Sekolah Dasar (SD) GMIT Manulai I, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (17/10/2019) yang merupakan salah satu sekolah dampingannya selama ini.

Tim yang turun itu merupakan patner kerja Save The Children yang telah mengikuti pelatihan di Hote On The Rock sejak tanggal 16 – 18 Oktober 2019.  Pada Kamis, 17 Oktober 2019 Tim Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children ini dibagi tiga tim ke tiga sekolah dampingannya, yakni SDK St. Yoseph Noelbaki, SD GMIT Manulai I dan SD GMIT Babau.

Rencana selanjutnya, tanggal 18 Oktober 2019 ketiga tim ini turun ke tiga sekolah lainnya lagi di Kabupaten Kupang, yakni   Sekolah Dasar Inpres (SDI) Raknamo, SD GMIT Camplong II dan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tunfeu I.

Dalam monitoring itu, wartawan media ini bergabung bersama Tim Joint Monitoring Project School For Charge (SFC)  Save The Children ke SD GMIT Manulai I dibawa koordinator Maria Arika dari Save The Children.

Tim yang turun ke SD GMIT Manulai I itu masing-masing, Agust Henuk, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Yohanes Tefa dari Kantor Perpustakaan Kabupaten Kupang, Edi Tampubolon dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Kupang, Decky dari Bappeda Kabupaten Kupang dan Florensye Solukh dari Save The Children.

Sesampai di sekolah, tim ini disambut langsung oleh Kepala SD GMIT Manulai I, Yusuf M. Baun,S.Pd untuk selanjutnya disebarkan ke masing-masing ruangan kelas rendah yakni kelas I, II dan III untuk melihat secara langsung perkembangan  siswa dan penataan ruangan kelas.

Kepala SD GMIT Manulai I, Yusuf M. Baun, S.Pd kepada media ini mengaku  kehadiran Save The Children di sekolahnya selama ini cukup membantu para guru dan siswa/i, terutama kelas I,II dan III dalam hal percepatan membaca.

Tahun ini, merupakan tahun kedua sekolahnya menjadi salah satu sekolah dampingan dari Save The Children. Tahun pertama 2018 lalu, Save The Children telah membantu sekolahnya berupa bak penampung air dan bak sampah, sedangkan tahun kedua tahun ini lebih fokus pada literasi.

Selama sekolahnya menjadi sekolah  dampingan Save The Children banyak mengalami perubahan, terutama sumbangan ilmu pengetahuan baru supaya siswa itu bisa berkembang secara cepat.

Baca juga :  22 Kandidat Rebut Tujuh Kursi BPD Tonggurambang

“Kami guru-guru juga mendapat pengalaman baru untuk mengatasi masalah anak di sekolah. Lewat pendampingan Save The Children ini, ada kegiatan-kegiatan klasikal sekolah dan kegiatan antar sekolah di gugus. Saya pikir intervensi Save The Children ini terlalu bagus dan sangat membantu dalam mendidik anak-anak di sekolah. Siswa kita harus dihargai sebagai manusia dan tidak boleh lagi ada tindakan-tindakan kasar. Misalnya, siswa yang nakal kita tidak boleh melakukan tindakan yang kasar, tetapi cukup melakukan pembinaan karakter saja,” kata Yusuf.

Dari sisi gerakan literasi, menurut dia, cukup membantu pihak sekolah karena ada sejumlah buku yang dibantu Save The Children, baik untuk siswa kelas I,II dan III maupun untuk kepentingan perpustakaan sekolah.

Selain itu, membuat pajangan-pajangan sehingga anak-anak tertarik untuk membaca. Berkat bantuan ilmu pengetahuan dari Save The Children,   anak-anak bisa mengenal huruf dan mewarnai, sehingga menjadi daya tarik dan membuat  anak-anak betah di dalam kelas.

Misalnya mengenal nama hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain dengan cara yang unik. “Ini semua pengalaman untuk kami, sehingga kita bisa menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Kami berharap, pendampingan seperti ini tetap dilakukan secara continue sambil  dilakukan evaluasi menuju ke arah yang lebih baik, “ harap dia.

Ia juga masih membutuhkan bantuan Save The Children, terutama buku-buku di perpustakaan yang masih kurang saat ini, seperti buku pelajaran non fiksi, supaya anak-anak bisa membaca dan bisa mengikuti perkembangan zaman.  Selain itu, ia juga meminta, kalau bisa sekolahnya mendapatkan bantuan perpustakaan digital.

Tim  Joint Monitoring Project School For Charge (SFC) Save The Children saat beraudiens dengan kepala sekolah dan para guru SD GMIT Manulai I, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (17/10/2019). (Foto : Kanisius Seda/NTT PEMBARUAN.com)

Salah satu guru wali kelas III SD GMIT Manulai I, Andrian Baun saat diwawancara Pengawas Sekolah Dinas P dan K Kabupaten Kupang, Agus Henuk di ruang kelasnya  mengaku, kegiatan Save The Children tentang kaya aksara dalam hal membaca menjadi lebih baik. Walaupun ada beberapa anak-anak yang belum lancar membaca, namun melalui kegiatan keaksaraan ini sudah ada peningkatan cara membaca anak-anak.

Melalui program SFC Save The Children ini, banyak anak yang betah di dalam kelas  seperti tempat berman atau  tidak ada kebosanan di dalam kelas.  Hanya saja kata Andrian,  kelengakapan dari sisi bahan masih kurang atau bahan bacaannya belum memadai, sehingga terpaksa harus mengambil dari dana pribadi para guru untuk membeli buku-buku bacaan.

Baca juga :  Data Akurat dan Real Time Sangat Penting untuk Terapi Kemiskinan di NTT

Ketika ditanya apakah pernah menyampaikan keluhan itu dalam rapat bersama dengan kepala sekolah  setempat,  kata Andrian, pernah menyampaikannya tetapi jawabannya keterbatasan dana BOS.

“Karena dana BOS terbatas, terpaksa para guru menggunakan uang pribadi untuk membeli kertas sekaligus menggunakan bahan-bahan bekas. Di dalam Juknis dana BOS  juga tidak ada  anggaran untuk itu,” kata Andrian.

Ke depan, usul Andrian, perlu ada peningkatan buku bacaan atau buku cerita karena di perpustakaan sekolah sangat kekurangan buku bacaan, seperti  buku menggambar atau mewarnai untuk menarik anak-anak, buku-buku cerita, dan buku fiksi masih kurang.

Sementara, Maria Arika dari Save The Children saat pertemuan dengan para guru di SD GMIT Manulai I dengan Tim Joint Monitoring Project SFC Save The Children menjelaskan,  Save The Children mengundang dinas terkait  turun ke sekolah itu untuk melihat bersama-sama apa yang terjadi di sekolah tersebut.

“Kami sudah mendistribusikan buku –buku yang menggunakan kertas laminating untuk paket kelas I,II dan III di SD GMIT Manulai I. Kami juga sudah mendistribusi buku yang memiliki label Save The Children, dimana  lebih banyak gambar dan tulisannya. Kami harapkan bisa menggunakan buku itu,” imbuhnya.

Pendekatan  yang dilakukan Save The Children selama ini ada dua, yakni pendekatan membaca dan perlindungan anak. “Tahun pertama 2018, kami lebih fokus pada percepatan membaca. Percepatan membaca ini yang perlu dibantu adalah guru-guru kelas I,II dan III. Bagaimana tips-tips untuk membantu anak anak supaya bisa lebih cepat membaca, menciptakan kelas kaya aksara,sehingga anak-anak lebih sering terpapar huruf ,” urainya.

Bagi dia, anak-anak yang  sering melihat huruf dan  tulisan akan membantu mereka untuk lebih gampang mengenal huruf. “Tahun kedua ini, kami lebih fokus pada perlindungan anak. Kami juga sudah mengundang para guru untuk mengikuti kegiatan disiplin positif untuk mengajar dengan disiplin positif di kelas mulai dari kelas I-VI,” jelas Maria.

Pengawas Sekolah Dinas P dan K Kabupaten Kupang, Agust Henuk saat melakukan monitoring di ruang kelas III SD GMIT Manulai I, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Kamis (17/10/2019) (Foto : Kanisius Seda/NTT PEMBARUAN.com)

Sekedar gambaran, Scholl For Change (SFC) telah berjalan selama satu tahun di 55 sekolah di 7 kecamatan di Kabupaten Kupang. Selama perjalanannya SFC, telah melatih kurang lebih 300 guru dan 20 pengawas dan praktisi di bidang pendidikan dan perlindungan anak, baik itu dalam tema literacy boost dan positive disipline dengan beberapa kegiatan utama antara lain print rich arragement untuk kelas I—III SD, penguatan kapasitas dalam metode pegajaran, dukungan teaching material dalam bentuk buku dan alat tulis.

Baca juga :  Pemkab Kupang Gandeng 13 LSM Verifikasi Data Korban Bencana Alam

SFC juga menginisiasi terbentuknya code of conduct ((COC) di 56 sekolah. Lebih dari itu, SFC juga menginisiasi pembentukan 56 Children Club di 56 sekolah dampingan yang saat ini telah menjalankan sejumlah kegiatan di sekolah dengan reading buddy dan EVAC.

SFC tidak hanya melakukan intervensi di sekolah, namun juga menggandeng partner lokal yakni Bengkel Appek dan CIS Timor untuk implementasi program di level desa dan comunity.

Diharapkan, semua program ini akan terintegrasi dengan baik, sehingga anak –anak di sekolah maupun di desa mendapat haknya dan terlindung dari tindakan kekerasan. Salah satu intervensi yang sangat penting demi peningkatan kemampuan literasi anak-anak di SD adalah ketersediaan kelas kaya aksara dengan beberapa kriteria untuk merangsang kemampuan membaca anak, pajangan hasil karya anak, dan sudut baca.

Oleh karena itu, untuk mengadvokasi intervensi ini, agar lebih sustanable perlu adanya joint monitoring bersama stakeholder  untuk menunjukkan penerapan kelas kaya aksara dan tantangannya, sehingga bisa didukung secara penuh melalui keterlibatan pemerintah daerah.

Kegiatan ini bertujuan, untuk meningkatkan dukungan Pemda terhadap upaya peningkatan kemampuan membaca anak  di sekolah  dan di masyarakat.Selain itu, untuk mendapatkan informasi dan data terkait upaya peningkatan membaca anak di sekolah berdasarkan hasil kunjungan dan pengambilan data bersama Pemda Kupang, mengembangkan rencana tindak lanjut dan aksi perbaikan untuk mendukung upaya peningkatan kemampuan membaca anak di sekolah oleh Pemda Kupang dan Save The Children.

Ouput yang diharapkan, Pemda Kabupaten Kupang memahami pentingnya kelas kaya aksara dalam upaya peningkatan kemampuan membaca anak di sekolah, data dan informasi hasil observasi dan diskusi dengan sekolah yang tersedia dan rencana tindaklanjut dan aksi perbaikan yang disepakati bersama antara Pemda Kabupaten Kupang dan Save The Children. (ade)