DLHK Kota Kupang dan PT.SAG Wacanakan Pengolahan Limbah Sampah

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang dan PT. Sarana Agro Gemilang (SAG) bersama Pegadaian Kupang mewacanakan tentang pengolahan limbah sampah di Kota Kupang.

Diskusi tentang rencana kerjasama di bidang pengolahan sampah ini berlangsung di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (DLHK NTT), Jumat (30/8/2019).

Hadir dalam diskusi itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTT, Ferdy J. Kapitan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang, Yeri Padji Kana, Manager Lingkungan PT. SAG Kupang, Ny. Hartini Adjam dan Pegadaian Kupang.

“Hari ini (Jumat,30/8/2019,red)  kita mencoba menyatukan pikiran untuk penanganan dan pengurangan sampah di Kota Kupang. Kita tahu, Kota Kupang dijuluki sebagai kota terkotor kedua di Indonesia. Oleh karena itu, kita membangun kerjasama dengan DLHK NTT, DLHK Kota Kupang dan PT. Semen Kupang melalui SAG, dan Pegadaian untuk melihat persoalan sampah kemudian mencarikan solusinya, sehingga keluar dari masalah tersebut,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang, Yeri Padji Kana kepada media ini di Kupang, Jumat (30/8/2019).

Mereka merencanakan produksi sampah organik dan non-organik yang akan diolah nanti berkisar  200—250 ton per hari, dengan 40—50 ton sampah yang diolah.  “Ini masih tahap perencanaan, nanti kita siapkan proposal dulu untuk kemudian dibuat telaahan kepada Wali Kota Kupang, sehingga Tempat Pembuang Akhir (TPA) bebannya berkurang,” kata Yeri.

Baca juga :  Sumba Barat Kirim 228 Sampel Swab ke Kupang

Diperkirakan dalam tempo 1—2 bulan ke depan proposalnya sudah dibuat dalam bentuk CSA.  Sementara dari Pegadaian nanti, tambahnya lagi,  akan membantu dalam bentuk bang sampah yang menitikberatkan pada pemilahan dari hulu.

Ia optimis, kalau hulunya sudah bagus, maka di hilirnya juga bagus. Rencana kerjasama di bidang pengolahan sampah yang mereka bahas itu sejalan dengan dua peraturan daerah (Perda) Kota Kupang, yaitu Perda pengurangan sampah dan Perda penanganan sampah. “Yang kita harapkan adalah Perda pengurangan sampah  semakin lebih baik, sehingga masyarakat terbiasa melakukan pemilahan sampah organik dan non-organik mulai dari hulu,” tukasnya.

Yeri mengatakan, kalau ini dilakukan secara baik maka nilai ekonomisnya juga lebih tinggi karena dari hasil olahan sampah itu akan menghasilkan bahan bakar sebagai pengganti batu bara nanti.

Senada dengan itu, Manager  Lingkungan PT. Sarana Argo Gemilang Kupang, Hartini Adjam berjanji, akan mempresentasikan proposal kerjasama itu ke pemerintah kota (Pemkot) Kupang melalui DHLK Kota Kupang  untuk selanjutnya dipresentasikan ke Wali  Kota Kupang.

Untuk peralatan dan investasinya nanti, lanjut dia, akan dipercayakan kepada salah satu groupnya dalam bentuk CSA. “Tenaganya  kita berdayakan pemulung yang sudah ada di TPA Alak sebanyak 45 kepala keluarga (KK) dalam hal membantu kami untuk memilah sampah plastik karena sampah plastik itu tidak boleh lebih dari 30 persen,”kata dia.

Baca juga :  Sejumlah Rumah Ibadah di Nagekeo Mendapat Suntikan Dana dari Pemkab Setempat

Secara teori, sampah plastik itu mengandung kalori yang dibutuhkan sebagai pengganti batu bara. Kalau melebihi 30 persen, menurut dia,  bisa merusak alat, dan tidak boleh ada sampah logam.

Soal sampah plastik yang tidak boleh melebihi 30 persen, kata dia, itu adalah salah satu syaratnya  sesuai hasil penelitian yang pernah dilakukan di Kelungkung dan Tangerang. Sebelum diolah, sampah-sampah itu diendapkan  terlebih dahulu selama 3 hari,  setelah kering baru diolah.

Lalu dikemanakan hasil olahan sampah itu nanti, jawab Hartini digunakan oleh PT. Semen Kupang sendiri yang adalah anak perusahaan dari PT. SAG, dan ke depannya akan melakukan kerjasama dengan PT. PLN.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ferdy J. Kapitan mengatakan,  penanganan sampah  harus dilakukan secara kolaborasi dengan melibatkan pemerintah, swasta dan masyarakat.

Menurut dia, rapat ini  salah satu wujud komitmen bersama menjadikan Kota Kupang sebagai Ibu Kota Provinsi NTT yang tadinya mendapat predikat sebagai kota terkotor kedua di Indonesia bisa keluar dari predikat tersebut.

Salah satu persoalan terbesar adalah di TPA. Mudah-mudahan dengan niat baik PT.SAG ini salah satu jalan keluar terhadap penanganan sampah di Kota Kupang. Selama ini, lebih banyak sampah itu dibawa ke TPA. Padahal di satu sisi, sebagiannya bisa dimanfaatkan kembali.

Baca juga :  Terkonfirmasi Covid-19, Satu Paslon Bupati dan Wabup Ngada Tertunda Pemeriksaan Narkobanya

“Melalui inovasi yang dikembangkan PT SAG ini sangat membantu daerah kita karena sampah yang tadinya tidak bernilai akhirnya bernilai ekonomis,  dimana 30 persen dari sampah plastik itu bisa dimanfaatkan sebagai energi untuk pengganti batu bara . Kita berharap kerjasama dengan Pemkot Kupang bisa mengoptimalkan titik –titik sampah secara baik sehingga tidak menumpuk di TPA, tetapi bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi,” tukasnya.

Ferdi mengatakan, kerjasama dengan PT. SAG  dalam hal pembakaran limbah medis di NTT sudah mendapat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk 50 rumah sakit, klinik dan sejumlah layanan kesehatan lainnya di NTT.

Menindaklanjuti kerjasama itu, saat ini sementara melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota  se-NTT, sehingga seluruh limbah sampah medis di daerahnya bisa dilakukan pembakaran dengan alat yang disiapkan PT. SAG. (ade)