Potensi Lahan Garam di NTT Bisa Menutupi Kekurangan Garam Industri Nasional

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Potensi lahan garam di Nusa Tenggara Timur (NTT) bisa menutupi kekurangan garam industri nasional yang selama ini masih diimpor 3,7 juta ton.

“Potensi luas lahan garam kita di NTT saat ini 69.962 hektare dengan total produksinya 18.230 ton, dan ini bisa menutupi kekurangan garam industri nasional sebesar 2,7 juta ton per tahun dari NTT,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, M. Nazir Abdullah kepada media ini di Kupang, Selasa (27/8/2019).

Untuk luas areal 1 hektare saja bisa menghasilkan 100 ton garam per satu kali panen X 30 kali panen dalam setahun menghasilkan 3000 ton X dengan total potensi luas lahan di NTT  69.962 hektare maka menghasilkan  6.996. 200 ton atau melampaui kekurangan garam industri nasional, dan ini belum termasuk potensi lahan garam milik rakyat.

Baca juga :  Jangan Lupa, Stimulus Covid-19 Bulan September Sudah Bisa Dinikmati, Begini Cara Mendapatkannya

Rinciannya, produksi garam livestok di Kota Kupang luas area seluas 5 hektare yang telah digarap seluas 2 hektare dengan rencana produksi tahun ini sebesar 50 ton.  Produksi PT. Timor Lestari Livestok di Kabupaten Kupang luas areal 600 hektare yang telah digarap seluas 10 hektare dengan produksi sebesar 300 ton, sedangkan produksi lainnya dari lahan Pemkab Kupang dan masyarakat sebesar 750 ton.

Produksi garam  yang dikelola Pemkab Timor Tengah Selatan (TTS) sebesar 30 ton dengan luas lahan 0,5 hektare dan lahan yang sedang dipersiapkan PT. Tamaris Nusantara seluas 1.382 hektare.

Selanjutnya, di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) saat ini sedang dipersiapkan lahan oleh PT. Tamaris Nusantara seluas 900 hektare, produksi garam di Kabupaten Malaka sebesar 300 ton, produksi garam di Kabupaten Flores Timur sebesar 100 ton dengan luas lahan sebesar 2 hektare di Desa Pledo, Kecamatan Witihana.

Baca juga :  Presiden Jokowi Komit Penataan Labuan Bajo Tuntas 2021

Produksi garam di Kabupaten Sikka sebesar 50 ton dengan luas lahan sebesar 1 hektare milik masyarakat dan 0,5 hektare geomembran, produksi garam di Kabupaten Nagekeo dengan luas lahan yang digarap seluas 36 hektare menghasilkan 3.600 ton garam.

Produksi garam di Kabupaten Lembata sebesar 50 ton dengan luas lahan 2 hektare, produksi garam di Kabupaten Rote Ndao dengan luas lahan 4 hektare sebesar 9 ton oleh Pemkab setempat, dengan luas lahan 50 hektare menghasilkan garam sebesar 7000 ton yang dikelola oleh masyarakat dan pengusaha. (ade)