Remisi, Bentuk Apresiasi Negara Kepada Napi Berkelakuan Baik

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com-Pemberian remisi seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai pemberian hak warga binaan pemasyarakatan, tetapi merupakan apresiasi negara kepada narapidana (napi) yang berkelakuan baik selama berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau Rumah Tahananan Negara (Rutan).

Hal itu disampaikan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Yasona Laoly dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Wakil Gubernur NTT, Josef Nai Soi saat menjadi inspektur upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapas Kelas II A Kupang, Sabtu (17/8/2019).

Momen ini juga disatukan dengan  pemberian remisi yang diserahkan secara simbolis oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat kepada  2.223 narapidana dari 18 Lapas/Rutan di NTT termasuk di dalamnya 32 napi yang langsung bebas pada tanggal 17 Agustus 2019.

Saat membacakan sambutan Menteri Hukum dan HAM, Wagub Nai Soi mengatakan, remisi yang diberikan kepada napi yang berhasil menunjukkan perubahan perilaku, memperbaiki kualitas dan meningkatkan kompetensi diri dengan mengembangkan ketrampilan untuk dapat hidup mandiri saat kembali di tengah-tengah masyarakat nanti.

Melalui pemberian remisi ini, ia berharap, seluruh warga binaan pemasyarakatan  selalu patuh dan taat pada hukum/norma yang ada sebagai bentuk tanggung jawab, baik kepada Tuhan Maha Pencipta maupun kepada sesama manusia.

Ia juga menyampaikan, bahwa kondisi Lapas/Rutan saat ini mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kondisi Lapas/Rutan yang berkelebihan di atas 100 persen saat ini menjadi sumber segala permasalahan bahkan menjadi alasan ‘pembenar’ terhadap terjadinya penyimpangan-penyimpangan di Lapas/Rutan.

Baca juga :  Antisipasi Bahaya Kebakaran, UIW NTT Gandeng Dinas Pemadaman Kebakaran Kota Kupang

“Masih banyak kita dengar adanya dugaan pengendalian dan peredaran narkoba, penyalahgunaan ponsel, dan pungutan liar yang terjadi di dalam Lapas/Rutan, semuanya berakar pada kelebihan penghuni,” ujarnya.

Hal ini terbukti dengan ruang udara pemberitaan maupun sosial media yang tidak pernah sepi dari segala permasalahan yang berkaitan dengan penyimpangan atau pun pelanggaran di Lapas/Rutan.

Para Narapidana Kelas II A Kupang berpose bersama Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan Wagub NTT, Josef Nai Soi bersama sejumlah pejabat teras Lingkup NTT usai upacara peringatan HUT ke-74 RI di Lapas Kelas IIA Kupang, Sabtu (17/8/2019) (Foto : Kanisius Seda/NTT PEMBARUAN.com)

“Oleh karena itu, kita harus membangun awareness, agar kita tidak selalu menjadi bulan-bulanan.  Langkah-langkah dan upaya pembenahan melalui program revitalisasi penyelenggaraan pemasyarakatan harus terus dilakukan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, program revitalisasi penyelenggaraan pemasyarakatan sangat sesuai dengan tema perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan RI, yaitu ‘SDM Unggul Indonesia Maju’, dimana sama –sama memiliki fokus dalam upaya peningkatan kualitas SDM.

Revitalisasi penyelenggaraan pemasyarakatan yang menjadi pilihan untuk solusi penyelesaian permasalahan-permasalahan pemasyarakatan harus mampu menyentuh berbagai program pembinaan sehingga mengantarkan mereka menjadi manusia yang berkualitas, terampil, dan mandiri, sehingga mereka mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan SDM yang mendukung perekonomian nasional.

“Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas SDM, saat kita harus memandang persoalan kelebihan isi penghuni dari sisi yang berbeda, yaitu sebagai modalitas utama dalam pembangunan nasional,” kata Wagub Nai Soi.

Baca juga :  Diresmikan, KMP Garda Maritim 3 Lintas Kupang-Rote

Karena itu, peran strategis jajaran pemasyarakatan dalam peningkatan kualitas hidup, penghidupan dan kehidupan bagi warga binaan pemasyarakatan menjadi urgen. Warga binaan pemasyarakatan di Lapas/Rutan saat ini adalah SDM yang masih terabaikan.

Kelebihan isi penghuni menunjukkan bahwa Lapas/Rutan sebenarnya, menurut dia, memiliki aset dan potensi yang luar biasa untuk mendukung berjalannya kegiatan yang bersifat massal, seperti kegiatan ekonomi kreatif.  Sebab, ekonomi kreatif merupakan sektor strategis dalam pembangunan nasional ke depan.

Salah satu potensi yang dapat digali adalah industri kreatif yang terkait dengan kebudayaan dan kearifan lokal yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Modal kebudayaan dan kearifan lokal tersebut dapat menjadi sumber kekuatan industri kreatif yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.

Dia mengatakan, pembinaan kepribadian dan kemandirian harus dijadikan sebagai tolak ukur suksesi jajaran dalam mengantarkan warga binaan pemasyarakatan menjadi manusia yang taat dan mandiri sehingga bisa hidup lebih baik lagi, dan dapat memberikan berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Para Napi di Kelas IIA Kupang sedang mengikuti upacara peringatan HUT ke-74 RI di Lapas Kelas IIA Kupang, Sabtu (17/8/2019) (Foto : Kanisius Seda/NTT PEMBARUAN.com)

Lapas/Rutan, lanjut dia,  harus ditransformasi menjadi institusi yang mampu menyiapkan masyarakat tangguh, berketerampilan, dan memiliki produktifitas tinggi, siap berkompetisi dalam persaingan global melalui Lapas minimum security.

Program tersebut dapat dielaborasi dengan menggerakan roda perekenomian melalui sektor industri kecil dan menengah dalam kerangka pembangunan nasional sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan pendapatan negara bukan pajak. Hal tersebut sebagai bentuk kontribusi jajaran pemasyarakatan kepada negara.

Baca juga :  Gubernur NTT Ajak Masyarakat Tingkatkan Imunitas Tubuh Hadapi Covid-19

Kondisi kelebihan isi penghuni tidak boleh lagi dipandang sebagai kelemahan atau sumber segala permasalahan di Lapas/Rutan, tetapi harus dikelola dan dimanfaatkan menjadi kekuatan tersendiri, menjadikan sebagai peluang dan tantangan untuk berkontribusi positif.

Kepada seluruh jajaran pemasyarakatan, ia berpesan menjadikan momentum Kemerdekaan RI Tahun 2019 untuk lebih meningkatkan kinerja, mempercepat pelayanan, dan  mengubah pola kinerja yang dapat mengikuti perkembangan isu-isu terkait pemasyarakatan.

Ia juga mengingatkan kepada seluruh warga binaan pemasyarakatan yang mendapat remisi, khususnya yang bebas, agar tetap meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Mahakuasa sebagai landasan saudara dalam menjalani kehidupan di tengah-tengah keluarga dan sebagai anggota masyarakat. “Jadilah insan yang taat hukum, insan yang berakhlak dan berbudi luhur, serta insan   yang berguna bagi sesama,” tutupnya. (ade)