Selama Expo XII 2019, REI NTT Target 250 Unit Rumah Terjual

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- DPD REI Nusa Tenggara Timur (NTT) manargetkan minimal 250 unit rumah terjual selama sepuluh hari pelaksanaan Bank NTT REI Expo XII Tahun 2019 yang berlangsung di Lippo Plaza Kupang sejak 9- 18 Agustus 2019.

Bank NTT REI Expo XII Tahun 2019 ini telah dibuka secara resmi oleh Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore di Lippo Plaza Kupang, Jumat (9/8/2019). Hadir saat pembukaan antara lain, Direktur Bank NTT, Isakh Riwu, Kepala Kantor  Perwakilan Bank Indonesia  Provinsi Nusa Tenggara Timur,  I Nyoman Ariawan Atmaja, pihak Bank Tabungan Negara (BTN) Kupang, dan  13 developer yang juga menjadi peserta dalam pameran ini.

Pelaksanaan Bank NTT REI Expo XII Tahun 2019, selain sebagai momen untuk melakukan edukasi kepada masyarakat juga dalam rangka  memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 tahun ini.

“Kami targetkan 250 unit rumah terjual selama expo ini, dengan nilai nominal sebesar Rp 35 miliar, dan mudah-mudahan bisa tercapai, karena saat pelaksanaan Expo REI NTT pada Maret 2019 kemarin, kita berhasil menjual 212 unit rumah dengan pencapaian sebesar Rp 34 miliar,”kata Ketua DPD REI NTT, Bobby Pitoby kepada wartawan usai pembukaan Bank NTT REI Expo XII Tahun 2019 di Lippo Plaza Kupang, Jumat (9/8/2019) malam.

Baca juga :  Bupati Kupang Mengapresiasi Kerjasama PT. Garam dengan Pemilik Lahan Bipolo

Ia optimis, target ini bisa tercapai. Kalau target ini tercapai, berarti penerapannya lebih besar lagi.  Karena itu, ia berharap, Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang segera menghapuskan Biaya Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHATB), sehingga penyerapannya lebih besar lagi.

Untuk penghapusan BPHATB ini, sudah lama ia perjuangkan ke Pemkot dan DPRD Kota Kupang, dan respon sangat mendukung, tinggal diimplementasikan dalam bentuk peraturan daerah (Perda) dan peraturan walikota (Perwali) nanti.

“Kami sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah kabupaten/kota, dan dewan di NTT, agar angka penyerapannya terus meningkat. Untuk penyerapan ini bisa naik, salah satunya dengan pembebasan BPHATB,” kata Bobby.

Ia menyebutkan, komponen uang muka yang harus disiapkan oleh masyarakat antara lain, uang muka sebesar Rp 1,5 juta, BPHATB sebesar Rp 4,9 juta, biaya proses di bank berkisar antara Rp 3 juta  -Rp 3,5 juta, atau totalnya bisa mencapai Rp 9 juta – Rp 10 juta, dan komponen terbesar adalah BPHATB sebesar Rp 4,9 juta.

Baca juga :  Wabup Kupang : Manfaatkan Dana Desa Sesuai APBDes

Kalau BPHATB ini dihilangkan, menurut dia, sangat membantu masyarakat untuk memiliki rumah layak huni. Soal alasan PAD akan menurun,  bagi dia, itu sifatnya hanya sesaat saja. Tetapi, kalau banyak masyarakat memiliki rumah, maka dengan sendirinya akan mendongkrak peningkatan PAD melalui Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang dibayar oleh masyarakat setiap tahun.

Dalam catatan DPD REI NTT, sebanyak 314.000 rumah yang tidak layak huni (RTLH) tersebar di kabupaten/kota di NTT, dengan spesifikasi, berlantai tanah, tidak memiliki air bersih, tidak memiliki penerangan listrik, tidak memiliki sanitasi lingkungan, dan sebagainya.

Saat ini, baru 3000 unit rumah yang sudah dibangun oleh DPD REI NTT tersebar di 22 kabupaten/kota  di NTT.  Tahun ini, target DPD REI NTT akan membangun 3.500 unit rumah, dan sampai Juli 2019 kemarin baru terealisasi 1.700 lebih unit rumah.

Baca juga :  Sumba Barat Kirim 228 Sampel Swab ke Kupang

Sementara Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore kepada wartawan usai membuka acara Bank NTT REI Expo  di Lippo Plaza Kupang, Jumat (9/8/2019) malam berjanji, Tahun 2020 BPHATB di Kota Kupang akan dihapus.

Menurut dia, saat pembahasan penghapusan BPHATB ini bersama DPRD Kota Kupang memang cukup alot, karena menurut dewan hal itu akan menurunkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Tetapi, Walikota sudah meyakinkan dewan, dengan argumentasi, semakin banyak masyarakat memiliki rumah, maka PAD juga ikut naik melalui PBB dan IMB yang mereka bayar setiap tahun. (ade)