KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Pemerintah sedang mendesain kawasan hutan mangrove seluas 23 hektar yang terbentang di sepanjang Pantai Oesapa Timur hingga Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan dijadikan sebagai ekowisata mangrove malam hari.

Kita berharap, ke depan ada ekowisata mangrove malam hari dilengkapi jaringan listrik, air bersih, MCK, pengeras suara, dan hiburan bagi para pengunjung dengan memberdayakan masyarakat setempat, supaya ada kepedulian mereka terhadap lingkungan, terutama menjaga kelangsungan hidup hutan mangrove di sekitar mereka,”kata Kepala  Bidang Pembinaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rudi Lismonu kepada media ini saat melakukan penanaman anakan mangrove di hutan mangrove Pantai Oesapa Barat, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi NTT, Rabu (7/8/2019).

Aksi penanaman 2000 anakan mangrove ini dalam rangka peringatan hari Gerakan Nasional Peduli Mangrove, Pemulihan DAS dan Kampung Hijau Sejahtera  yang secara nasional tahun ini dipusatkan di Kelurahan Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau yang diinisiasi oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja.

“Kita akan melakukan desain, terutama menambah jaringan trayek-trayek kedalaman yang merupakan spot-spot agar masyarakat bisa menikmati sebagai obyek wisata, sebagai lokasi selfi, tempat berdiskusi, bersantai, tempat meditasi, tempat edukasi, pelatihan dan sebagai lokasi penelitian untuk mengetahui lebih mendalam tentang fungsi dan manfaat hutan mangrove,” sebut dia.

Baca juga :  Gubernur VBL Audiens dengan IAI NTT

Terkait rencana pembangunan infrastruktur jalan, air bersih dan penerangan listrik di lokasi hutan mangrove Oesapa Barat sehingga menambah daya tarik  pengunjung ke lokasi itu, janji Rudi, akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Seperti penerangan listrik, kata Rudi,  PLN sudah berjanji untuk melakukan pemasangan jaringan listrik di sepanjang jalan masuk hutan mangrove, sehingga malam hari juga orang bisa mengunjungi lokasi wisata tersebut.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Ny, Juliana Laiskodat bersama undangan lainnya yang hadir pada kegiatan penanaman 2000 anakan mangrove dalam rangka hari Gerakan Nasional Peduli Mangrove, Pemulihan DAS dan Kampung Hijau Sejahtera yang diinisiasi oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja di Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Pantai Oesapa Barat, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi NTT, Rabu (7/8/2019) (Foto : Kanisius Seda/NTT PEMBARUAN.com)

Untuk  tetap menjaga kelestarian alam mangrove, ia mengajak semua tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur perguruan tinggi, LSM dan pemerintah untuk saling bersinergi membangun secara bersama-sama yang dapat memberikan nilai edukasi kepada masyarakat dengan tetap menjaga hutan mangrove.

“Kita yakin, kawasan ekowisata hutan mangrove Oesapa Barat akan mendorong sektor jasa lainnya, seperti pedagang kuliner, pedagang souvenir, transportasi dan sebagainya ikut hidup di dalamnya yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi masyarakat, dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan sehingga bebas dari sampah,” tukasnya.

“Dari segi kebersihan, hal yang utama adalah melakukan aksi –aksi bersih. Tidak hanya bersih pungut, tetapi yang paling penting bagaimana kita bisa melakukan edukasi masyarakat untuk mengurangi pembuangan sampah,” tandasnya.

Baca juga :  205 KK Terima Sembako dari UPP Kelas II Labuan Bajo

Ia juga menyebutkan, kegiatan penanaman mangrove di lokasi ekowisata mangrove Pantai Oesapa Barat ini merupakan satu rangkaian kegiatan peduli lingkungan, dan kegiatan hari konservasi alam nasional (HKAN) yang secara nasional tahun ini dipusatkan di Batam.

Anakan mangrove ini, semuanya didatangkan dari BPDAS Benain Noelmina NTT sebanyak 5000 anakan. Tetapi, yang ditanam tahap pertama, Rabu, 7 Agustus 2019 sebanyak 2000 anakan di atas lahan seluas 1 hektar lebih. Sedangkan 3000 anakan lainnya yang masih sisa akan ditanam kemudian oleh kelompok  masyarakat ekowisata mangrove  setempat.

Fungsi mangrove antara lain, untuk mendukung eko wisata alam mangrove, menahan abrasi pantai dari gelombang laut, menahan erosi, sebagai tempat berpijaknya biota laut,  sebagai penahan gelombang tsunami, dan sebagainya.

Inilah Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Pantai Oesapa Barat, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto : Kanisius Seda/NTT PEMBARUAN.com)

Secara keseluruhan, luasan hutan mangrove di NTT kurang lebih 22.000 hektar lebih, tersebar di 22 kabupaten/kota di NTT. Salah satunya di Kota Kupang, seluas 23 hektar yang terbentang di sepanjang Pantai Oesapa Timur sampai Oesapa Barat.

Di ekowisata mangrovei Oesapa Barat ini kurang lebih 5 hektar dikelola oleh kelompok –kelompok masyarakat yang merupakan kolaborasi pembinaan dari Pemerintah Kota Kupang, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Kupang, Dinas Pariwisata Kota Kupang dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kupang.

Baca juga :  Instruksi Gubernur NTT Terbaru, Transportasi Udara Wajib Rapid Test Antigen dan Mengisi e-HAC Indonesia

“Bila ada anakan yang terhangut atau mati, kita upayakan untuk mengulamnya kembali. Selain itu, kita pelihara terus, baik anakan mangrove yang baru ditanaman maupun yang sudah besar kita lindungi, menjaga agar hewan dan manusia tidak bebas menjalankan aktifitas di dalamnya. Bersama masyarakat setempat, kita juga melakukan pengawasan lokasi ekowisata ini. Kemudian menata kembali ekowisata mangrove ini, sehingga bisa memberi nilai tambah terhadap ekonomi jasa lingkungan bagi masyarakat setempat,” urainya.

Kegiatan  penanaman 2000 anakan mangrove yang diawali dengan pembersihan sampah itu melibatkan anggota TNI/Polri, pelajar,mahasiswa, anggota pramuka, masyarakat Oesapa Barat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, LSM,  dan unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD), baik di tingkat Provinsi NTT maupun Kota Kupang. (ade)