11.000 Pelanggan PDAM Kabupaten Kupang Tidak Aktif

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Dalam catatan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kupang, dari total 34.000 pelanggan air minum di wilayah kerjanya, 11.000 diantaranya sudah dinyatakan tidak aktif lagi, dan yang masih aktif tinggal 23.000 pelanggan.

Hal itu diakui Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kupang, Lobrik Saubaki didampingi Kepala Bagian Pelayanan Pelanggan PDAM Kabupaten Kupang, Ny. Florence Bubu,SE dan Kabag Umum dan Keuangan PDAM Kabupaten Kupang, Yoce Dethan kepada wartawan di Kantor PDAM setempat, Sabtu (3/8/2019).

Saubaki mengatakan, walaupun dinyatakan tidak aktif, tetapi mereka tetap dihitung sebagai pelanggan PDAM Kabupaten Kupang. Ada dua alasan mengapa mereka dikategorikan sebagai pelanggan tidak aktif, pertama mengundurkan diri atas permintaan sendiri karena air sering macet ke rumahnya.

Alasan kedua, karena memang petugas PDAM yang sengaja melakukan pemutusan sementara ke rumah pelanggan, karena yang bersangkutan menunggak atau belum membayar rekening air sesuai pemakainnya. Pihak PDAM baru bisa melayani kembali ke rumahnya, setelah yang bersangkutan melunasi seluruh tunggakannya.

Baca juga :  Dirut PD Pasar : Lokasi Kebakaran Tidak Masuk Dalam Area Pasar Oeba

“Jadi, mereka tetap pelanggan PDAM, cuma diputuskan aliran airnya. Kalau dia (pelanggan,red) membayar semua tunggakannya,  maka aliran air ke rumahnya kembali berjalan normal,” jelas Saubaki yang diaminkan Bubu.

Terkait banyaknya keluhan pelanggan soal pelayanan air minum yang kurang lancar ke rumah mereka selama ini, tetapi pembayarannya lancar setiap bulan, menurut Saubaki, salah satu penyebabnya karena jaringan pipa milik PDAM Kabupaten Kupang di Kota Kupang saat ini sudah kropos termakan usia, sehingga banyak air yang terbuang karena kebocoran pipa di sepanjang jalan.

Kendalanya lagi, pipa yang ada itu sebagiannya sudah tertanam di dalam rumah penduduk, di bawah jalan raya, sehingga ketika melakukan perbaikan atau pergantian pipa, harus seizin pemilik rumah dan mengorbankan bangunan yang ada.

“Padahal, saat kami bangun 20-an tahun yang lalu, belum ada bangunan di situ. Tetapi, sekarang semua sudah ada bangunan, bahkan sebagian jaringan pipa yang ditanam berada di dalam rumah penduduk, dan ada yang sudah tertanam di bawah jalan beraspal, sehingga kalau mau diperbaik, maka banyak bangunan yang akan dikorbankan,” jelasnya.

Baca juga :  Kades Wewa Minta BWS NT II Perbaiki Jaringan Irigasi Wuncung

Pertanyaannya, relakah si pemilik bangunan/rumah membongkar bangunannnya untuk melakukan perbaikan atau pergantian pipa milik PDAM yang sudah tertanam puluhan tahun silam di dalam rumahnya?  Dan’ rata-rata pengalaman yang petugas PDAM alami di lapangan, si pemilik bangunan/rumah tidak rela merobohkan bangunannya. Di situlah kendalanya, aku dia.

PDAM Kabupaten, lanjut dia, mendapat suplai air dari 33 sumber mata air dengan total debit pada situasi normal 374 liter per detik. Untuk mengatasi krisis air bersih pada musim kemarau tahun ini yang puncaknya mulai Oktober dan November, ia akan menggunakan sistem pembagian air secara bergilir berdasarkan zona.

Ia optimis, dengan sistem bergilir dan terpusat di salah satu zona itu, air tetap mengalir ke rumah pelanggan walaupun hanya sekali dalam seminggu. Karena itu, ia menghimbau, agar semua pelanggan memiliki bak penampung di rumahnya masing-masing untuk menampung air saat gilirannya tiba, sehingga pemakaiannya bisa bertahan selama seminggu ke depan.

Baca juga :  Terkait Pinjaman ke PT. SMI, Pempus Apresiasi Pada Pemprov NTT
Perluasan Jaringan
Direktur PDAM Kabupaten Kupang, Lobrik Saubaki

Dalam tahun ini, PDAM Kabupaten Kupang memfokuskan perluasan jaringan sambungan rumah (SR) di Wilayah Kabupaten Kupang, seperti di Camplong, Oesao, Oelamasi, Amabi Feto,  Desa Oefeto, dan beberap desa lainnya di Kabupaten Kupang dengan target sekitar 700 –an SR.

Sedangkan untuk perbaikan jaringan pipa yang sudah kropos termakan usia di Kota Kupang yang menyebabkan pipa bocor di sepanjang jalan, kata Saubaki, itu harus membutuhkan anggaran besar selain untuk biaya pergantian pipa baru, juga biaya ganti rugi bangunan milik masyarakat. (ade)